Pemerintah Provinsi Jambi memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tiga daerah hingga Jumat (4/9/2026). Kebijakan ini diambil karena kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat dan terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Tiga daerah yang masih menerapkan pembelajaran daring yakni Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Batang Hari.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi M Umar My mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pihaknya berkoordinasi dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) serta menerima masukan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi.
"Setelah kami koordinasi dengan MKKS se-Provinsi Jambi dan mendapat masukan dari Dinas LH serta Dinas Kesehatan, kondisi ISPU masih berada pada kategori tidak sehat. Dengan mempertimbangkan peningkatan kondisi ISPA, pembelajaran daring masih dilaksanakan di Kota Jambi, Muaro Jambi dan Batang Hari," kata Umar, kepada wartawan Kamis (3/9/2026).
Menurut Umar, PJJ diberlakukan sebagai langkah antisipasi untuk melindungi kesehatan peserta didik dan warga sekolah. Kebijakan tersebut juga akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat.
Sementara itu, delapan kabupaten/kota lainnya disarankan kembali melaksanakan pembelajaran secara tatap muka. Wilayah tersebut yakni Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo, Bungo, Sarolangun, Merangin, Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
Meski kembali luring, sekolah di wilayah tersebut tetap diminta memperhatikan kualitas udara serta kondisi kesehatan siswa dan tenaga pendidik.
"Untuk wilayah Tanjab Barat, Tanjab Timur, Tebo, Bungo, Sarolangun, Merangin, Kerinci dan Sungai Penuh, kami menyarankan pembelajaran dilaksanakan secara luring dengan tetap memperhatikan ketentuan serta keselamatan dan kesehatan warga sekolah," ujarnya.
Kebijakan PJJ tersebut berlangsung di tengah penanganan karhutla yang masih dilakukan di sejumlah wilayah Jambi.
Data Satgas Karhutla periode 1 Januari-29 Agustus 2026 mencatat luas lahan terbakar mencapai 1.776,56 hektare. Sebanyak 5.102 hotspot terdeteksi dalam periode yang sama, dengan lonjakan terbesar terjadi sepanjang Agustus yang mencapai 3.156 hotspot.
Empat daerah dengan luasan karhutla terbesar yakni Sarolangun 473,64 hektare, Batang Hari 374,50 hektare, Muaro Jambi 325 hektare dan Tanjung Jabung Barat 292,30 hektare.
Memasuki September, penanganan karhutla mulai menunjukkan perkembangan positif. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan luas lahan terbakar harian pada awal September tercatat sekitar 13 hektare yang mana turun drastis. Namun, petugas tetap melakukan patroli untuk memastikan tidak muncul api baru.
Meski karhutla Jambi telah banyak padam, BNPB tetap mengingatkan penanganan tidak boleh mengendur karena September menjadi fase penting dalam puncak musim kemarau.
Simak Video "Video: Pramono Siapkan WFH dan PJJ untuk Siswa Jakarta saat Cuaca Ekstrem"
(dai/dai)