Sumatera Selatan

Telok Abang hingga Ketan Kepit, Tradisi 17 Agustus yang Masih Eksis di Palembang

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Senin, 17 Agu 2026 22:40 WIB
Tradisi 17 Agustus di Kota Palembang telok abang hingga ketan kepit (Foto: Welly Jasrial Tanjung/detikcom)
Palembang -

Suasana menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI mulai terasa di sejumlah sudut Kota Palembang. Selain pernak-pernik merah putih, warga juga mulai berburu makanan dan mainan tradisional yang identik dengan perayaan 17 Agustus di Bumi Sriwijaya.

Salah satunya telok abang. Telur rebus yang diberi warna merah ini biasanya dijual bersama kapal-kapalan berbahan gabus atau kardus dengan hiasan berwarna warni.

Tak hanya telok abang, warga juga bisa menemukan makanan seperti telok ukan, telok pindang hingga ketan jepit yang menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Palembang saat momentum kemerdekaan.

Salah seorang penjual, Rasyid (60) mengatakan penjualan berbagai produk khas 17 Agustus tersebut mulai ramai sejak awal Agustus. Namun, pembeli biasanya semakin banyak mendekati hari kemerdekaan, terutama pada 15-17 Agustus.

"Mulai 1 Agustus sudah mulai ramai. Paling ramai biasanya tanggal 15 sampai 17 Agustus," kata Rasyid, kepada detikSumbagsel Senin.

Untuk kapal-kapalan, bentuk yang ditawarkan cukup beragam. Ada kapal laut, kapal layar hingga kapal terbang yang dihiasi warna merah putih dan warna lainnya.

Harganya pun bervariasi, mulai sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 60 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pembuatannya.

Rasyid mengatakan pembuatan kapal tersebut tidak bisa dilakukan secara mendadak. Untuk kapal berbahan gabus dan kardus, kerangka biasanya sudah mulai dibuat sejak sekitar Mei.

Memasuki Juli, proses pembuatan dilanjutkan dengan merangkai bagian-bagian kapal hingga siap dijual pada Agustus.

"Bahan bakunya kardus dan gabus. Kalau gabus sekarang lumayan mahal. Biasanya beli gabus di Silaberanti," ujarnya.

Untuk memenuhi permintaan pembeli, Rasyid bahkan bisa membuat puluhan hingga ratusan kapal. Khusus pesanan, jumlahnya bisa mencapai sekitar 150 buah.

"Setiap tahun memang buat. Ini sudah turun-temurun," katanya.

Sama halnya dengan Irwansyah pedagang telok abang lainnya mengatakan, ia mulai menjual kapal telok abang sejak 1 Agustus.

"Untuk ramai nya pembeli mulai dari tanggal 10 Agustus hingga 17 Agustus," ujarnya.

Tradisi 17 Agustus di Palembang tak hanya identik dengan perlombaan. Sejumlah makanan khas juga ikut diburu warga.

Telok ukan dan telok pindang misalnya, dijual sekitar Rp 5.000 per butir. Sementara ketan jepit juga menjadi salah satu pilihan jajanan yang banyak dicari.

Sementara itu, Farida warga Talang Jambe, mengaku sengaja mencari makanan khas tersebut menjelang perayaan HUT RI.

Ia mengatakan makanan dan mainan khas 17 Agustus memiliki daya tarik tersendiri karena mengingatkan pada suasana perayaan kemerdekaan saat masih kecil.

"Telok abang ini biasanya hanya ada saat perayaaan HUT RI. Jadi memang sengaja mencarinya," ujarnya.

Kini, karena sudah puncak perayaan HUT ke-81 RI lapak-lapak yang menjual telok abang, telok ukan, telok ppindang, ketan jepit hingga kapal-kapalan merah putih pun semakin mudah ditemui.

Bagi warga Palembang, berbagai jajanan dan mainan tersebut bukan sekadar dagangan. Ada kenangan dan tradisi yang terus dipertahankan setiap kali bulan kemerdekaan tiba.



Simak Video "Video: Momen Pengibaran Sang Merah Putih saat HUT ke-81 RI"

(csb/csb)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork