Jelang berakhirnya musim hujan di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel), tujuh daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum menetapkan status siaga. Hingga 25 Mei 2026, baru lima daerah yang telah menaikkan status, yakni Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, dan Muara Enim.
Diketahui, dari pemetaan BPBD Sumsel tercatat 12 wilayah masuk kategori rawan karhutla. Selain lima kabupaten yang telah menetapkan status siaga, wilayah rawan lain yang belum menaikkan status antara lain Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Lahat, Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Timur, dan OKU Selatan.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Sumsel Sudirman meminta seluruh daerah rawan karhutla segera menetapkan status siaga menjelang masuknya musim kemarau 2026.
"Kita terus mendorong agar daerah rawan karhutla lainnya segera menetapkan status siaga. Kita juga sudah sampaikan secara langsung kepada BPBD daerah-daerah tersebut," ujar Sudirman, Senin (25/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebut, langkah penetapan status siaga itu dinilai penting sebagai upaya antisipasi menghadapi potensi kebakaran saat musim kemarau terjadi di Sumsel. Penetapan siaga juga telah dilakukan Pemprov Sumsel.
"Mungkin ada yang merasa masih hujan, jadi belum menetapkan status siaga karhutla. Padahal, penetapan siaga ini penting sebagai antisipasi dan kesiapan dini menghadapi bencana tahunan karhutla sejak dini. Pak Menko Polkam juga telah menyampaikan saat apel siaga nasional di Sumsel beberapa waktu lalu, bahwa 12 daerah rawan karhutla di Sumsel agar segera menaikkan status," ungkapnya.
Sementara berdasarkan laporan harian, wilayah Muratara tercatat telah mengalami karhutla seluas 53,2 hektare. Selain itu, Muba juga terjadi karhutla seluas 9,2 hektare dan Lahat 6 hektare.
Sebelumnya, BMKG memperkirakan akhir Mei ini seluruh wilayah Sumsel memasuki musim kemarau. Puncak kemarau diprediksi pada Agustus mendatang. Sedangkan berdasarkan pantauan hotspot, sepanjang 1-24 Mei tercatat 256 titik. Angka itu naik drastis dibandingkan April yang hanya 150 titik.
"Penetapan status siaga ini agar pemda dapat mempercepat mobilisasi personel, sarana prasarana, serta dukungan anggaran dalam penanganan karhutla. Selain itu, koordinasi lintas sektor dengan TNI, Polri, BPBD, hingga perusahaan perkebunan juga dapat dilakukan lebih optimal," tukasnya.
(dai/dai)











































