Sumatera Selatan

Waspada Virus Hanta, Dinkes Sumsel Minta Warga Jangan asal Sapu Kotoran Tikus

Ani Syafitri - detikSumbagsel
Jumat, 22 Mei 2026 16:00 WIB
Ilustrasi Hantavirus (Foto: detikINET via chatgpt)
Palembang -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan (Sumsel) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit virus hanta (Orthohantavirus). Warga diimbau untuk menjaga ketat kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja guna menghindari penularan dari hewan reservoir tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogatiyah memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan kasus virus hanta di wilayahnya. Namun, dia meminta langkah antisipasi sejak dini tetap wajib diperketat.

"Untuk di Sumsel, saat ini kondisinya masih nihil ya, belum ada warga yang melaporkan terkena penyakit ini. Tentu harapan kita bersama jangan sampai ada kasus yang ditemukan di sini (Sumsel). Tapi kita tidak boleh lengah, makanya kewaspadaan harus dimulai dari sekarang," ujarnya saat dikonfirmasi detikSumbagsel, Kamis (21/5/2026).

Sebagai bentuk antisipasi agar kasus tetap nihil, Ira mengingatkan warga agar tidak asal menyapu jika menemukan jejak kotoran tikus atau celurut di dalam rumah. Metode pembersihan yang keliru justru berpotensi memicu penularan virus melalui udara.

"Kalau menemukan jejak keberadaan tikus atau celurut, jangan disapu kering. Gunakan metode pel basah (wet cleaning). Kalau disapu kering, debu yang terkontaminasi cairan tubuh tikus bisa terbang, terhirup, dan masuk ke saluran pernapasan," jelasnya.

Ira menjelaskan bahwa virus hanta ditularkan dari reservoir alami seperti tikus melalui cairan tubuh mulai dari urin, feses, hingga saliva. Di tingkat global, virus ini tengah menjadi sorotan setelah adanya laporan kluster kasus di kapal pesiar MV Hondius.

Secara klinis, virus hanta dapat menyebabkan dua manifestasi klinis, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), di mana ia menyerang sistem pernapasan dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas dengan tingkat kematian (Case Fatality Rate/CFR) mencapai 60%.

Lalu, sambungnya, serta Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) menyerang organ ginjal dengan gejala demam, nyeri badan, lemas, hingga fase ikterik atau tubuh menguning. Tipe HFRS ini memiliki masa inkubasi 1-2 minggu dengan tingkat kematian 5-15%.

"Untuk tipe HPS memang belum pernah dilaporkan di Indonesia karena reservoir spesifiknya tidak ditemukan di sini. Namun, untuk tipe HFRS, Indonesia sudah mencatat puluhan kasus konfirmasi di beberapa provinsi sejak 2024 hingga awal Mei 2026 ini. Itulah mengapa langkah antisipasi harus diperketat sejak dini," jelasnya.

Guna mengantisipasi potensi penularan di lingkungan permukiman masyarakat Sumsel, Dinkes Sumsel membagikan lima panduan preventif utama yang bisa diterapkan warga secara mandiri.

Pertama periksa kondisi rumah dan segera tutup semua lubang di dalam maupun luar rumah yang berpotensi menjadi jalur masuk tikus atau celurut.

Kedua, kata dia, selalu bersihkan area yang diduga dilalui tikus menggunakan kain pel basah atau cairan disinfektan untuk mencegah partikel virus menjadi aerosol di udara.

Lalu ketiga, simpan bahan makanan dan minuman di dalam wadah yang tertutup rapat atau gunakan tudung saji agar tidak tercemar air liur atau kotoran tikus.

Selanjutnya yang keempat, kata dia, biasakan rutin mencuci tangan memakai soap atau hand sanitizer, menerapkan etika batuk, serta memakai masker jika tubuh merasa kurang sehat.

Kemudian yang terakhir, apabila mengalami gejala demam tinggi yang disertai sesak napas atau tubuh menguning, segera datangi puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

"Kami juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak ikut menyebarluaskan informasi atau berita hoaks yang belum terverifikasi. Pastikan selalu merujuk pada kanal informasi resmi pemerintah untuk memantau perkembangan situasi penyakit ini," ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



Simak Video "Video: Mengenal Virus Hanta, Patogen yang Menggemparkan Dunia"

(csb/csb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork