Dinas Kesehatan menyebut Sumatera Selatan (Sumsel) rawan terhadap penyebaran penyakit flu Singapura atau HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease). Iklim yang panas dan lembab membuat penyebaran virus ini lebih cepat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogatiyah mengatakan virus penyebab flu Singapura, yakni enterovirus, dapat berkembang lebih cepat pada kondisi cuaca seperti yang terjadi di Sumsel.
"Kenapa Sumsel Rawan? Pertama karena iklim Sumsel panas dan lembap. Virus enterovirus suka cuaca seperti ini," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogatiyah, Senin (29/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain faktor cuaca, padatnya jumlah anak usia TK dan SD juga menjadi penyebab penyakit ini mudah menular. Menurut Ira, penularan dapat terjadi melalui percikan air liur (droplet), air liur, hingga feses penderita.
"Kalau satu anak terkena, satu kelas bisa tertular karena interaksi mereka sangat dekat," katanya.
Tak hanya di sekolah, penyebaran virus juga berpotensi terjadi di berbagai fasilitas umum yang menjadi tempat berkumpul anak-anak, seperti kolam renang, taman bermain seperti playground, hingga tempat les.
Menurut Ira, kebiasaan anak usia dini yang masih sering memasukkan tangan atau mainan ke dalam mulut juga meningkatkan risiko penularan virus.
"Flu Singapura umumnya menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia 5-7 tahun. Penyakit ini juga dapat menyerang dewasa, orang rentan terinfeksi saat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tidak diterapkan dengan baik," jelasnya.
Ira menjelaskan, masa inkubasi flu Singapura berlangsung sekitar 3-6 hari setelah seseorang terpapar virus. Gejala awal biasanya ditandai demam ringan, berkurangnya nafsu makan, anak menjadi rewel, serta sakit tenggorokan.
"Memasuki hari kedua hingga ketiga, muncul sariawan atau luka berwarna kemerahan di lidah, gusi, maupun bagian dalam pipi. Kondisi ini sering membuat anak enggan makan dan minum karena merasa nyeri," terangnya.
Selanjutnya, pada hari 3-5, akan muncul ruam berupa bintik merah yang berkembang menjadi bintil berisi cairan di telapak tangan, telapak kaki, dan terkadang muncul di bokong maupun lutut.
Dia mengingatkan orang tua segera membawa anak ke rumah sakit apabila muncul tanda-tanda komplikasi, seperti anak tampak sangat lemas, mengalami kejang, sesak napas, atau tangan dan kaki terasa dingin.
"Kalau muncul gejala seperti itu, segera bawa ke IGD karena bisa menjadi tanda komplikasi seperti ensefalitis," ujarnya.
Dia menyebut, hingga kini belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus untuk flu Singapura di Indonesia. Karena itu, penanganan yang dilakukan hanya dengan meredakan gejala yang dialami pasien.
"Belum ada obat antivirus khusus dan vaksin HFMD di Indonesia. Pengobatannya suportif dengan paracetamol buat demam, obat sariawan oles biar anak mau makan, dan banyak minum ASI/air putih agar tidak dehidrasi. Bisa juga diberikan makanan lunak atau dingin seperti es krim atau puding," tukasnya.
(dai/dai)
