Operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Sumatera Selatan telah selesai dilakukan selama 10 hari. Sebanyak 19 ton garam atau natrium klorida (NaCl) disemai sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"OMC selama 5-14 Mei telah selesai dilakukan, total ada 19 ton NaCl yang disemai di langit Banyusin, Musi Banyuasin, dan OKI (Ogan Komering Ilir)," ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Jumat (15/5/2026).
Dia menyebut, daerah sasaran di Banyuasin, Muba, dan OKI, untuk membasahi lahan gambut yang cukup luas di wilayah-wilayah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Operasi ini dilakukan untuk meningkatkan potensi hujan di kawasan gambut dan daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran lahan saat memasuki musim kemarau," katanya.
Pelaksanaan OMC katanya, menjadi salah satu upaya mitigasi bencana sejak dini. Selain menjaga kelembapan lahan gambut, kegiatan ini juga diharapkan dapat meminimalkan munculnya titik panas yang berpotensi memicu karhutla di Sumsel.
"Diharapkan risiko karhutla selama musim kemarau tahun ini dapat ditekan semaksimal mungkin," tambahnya.
Sebelumnya, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto menyampaikan bahwa pelaksanaan OMC difokuskan pada wilayah-wilayah yang dinilai rawan terjadi karhutla.
Dia menjelaskan, penyemaian garam tersebut bertujuan untuk mempercepat proses pembentukan awan hujan sehingga curah hujan buatan dapat ditingkatkan di daerah target. Dengan demikian, kelembapan lahan tetap terjaga pada saat kemarau terjadi.
"OMC menjadi salah satu strategi penting pemerintah daerah bersama instansi terkait dalam menghadapi musim kemarau, terutama di wilayah Sumsel yang memiliki riwayat karhutla cukup tinggi," tukasnya.
(csb/csb)











































