Hujan deras yang mengguyur Palembang dalam beberapa hari terakhir bukan pertanda anomali cuaca. BMKG menyebut kondisi itu justru merupakan ciri khas fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
Kepala Stasiun Klimatologi sekaligus Koordinator BMKG Provinsi Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa hujan tiba-tiba disertai petir adalah fenomena lumrah di masa transisi musim.
"Kondisi ini sepenuhnya wajar dan masih dalam batas normal. Peralihan dari musim hujan ke musim kemarau memang kerap ditandai dengan hujan yang datang tiba-tiba dan sering disertai petir. Ini ciri khas fase transisi, bukan pertanda anomali cuaca," ujarnya, Kamis (7/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memperingatkan agar masyarakat tidak lengah. Musim kemarau diprediksi datang lebih cepat dari biasanya.
"Awal musim kemarau 2026 di Sumatera Selatan secara umum akan terjadi pada akhir Mei hingga awal Juni," katanya.
Soal curah hujan bulan ini, Wandayantolis menyebut kondisi basah saat ini tidak akan bertahan lama dan meminta semua pihak mulai bersiap.
"Curah hujan pada bulan Mei ini diprediksi akan berangsur-angsur berkurang seiring transisi musim yang sedang berlangsung. Meski hujan masih cukup sering turun, masyarakat dan para pemangku kepentingan tetap perlu mulai mempersiapkan diri. Musim kemarau sudah di depan mata," jelasnya.
Ia menjelaskan, puncak musim kemarau di Sumatera Selatan, termasuk Palembang, diprediksi berlangsung pada Agustus 2026.
"Puncak kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus 2026. Hingga saat ini belum ada wilayah di Sumsel yang secara resmi dinyatakan telah memasuki musim kemarau," ujarnya
Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(dai/dai)











































