Fenomena "ketindihan" saat tidur kerap dikaitkan dengan suatu hal yang berbau mistis atau supernatural. Namun, dalam dunia medis "ketindihan" bisa dijelaskan secara ilmiah
Banyak orang pernah mengalami kondisi "ketindihan" saat tidur, yaitu ketika tubuh terasa tidak bisa bergerak, sulit berbicara, bahkan terkadang disertai rasa takut atau halusinasi. Fenomena ini sering dikaitkan dengan hal gaib. Namun, benarkah demikian?
Berikut detikSumbagsel akan membahas mengenai ketindihan saat tidur dari tiga sudut pandang: medis, Islam, dan logika. Simak sampai akhir ya!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjelasan Medis Soal Ketindihan Saat Tidur
Melansir dari Kemenkes, dalam dunia medis, ketindihan dikenal sebagai sleep paralysis atau kelumpuhan tidur. Kondisi ini terjadi ketika seseorang berada di antara fase tidur dan bangun.
Sleep paralysis adalah keadaan transisi yang terjadi ketika seseorang mengalami kelumpuhan sementara untuk bereaksi bergerak atau berbicara ketika tertidur (hypnagogic) atau saat bangun dari tidur (hypnopompic).
Saat tidur, tubuh sebenarnya dalam kondisi "lumpuh sementara" untuk mencegah kita bergerak saat bermimpi. Namun, pada sleep paralysis:
- Otak sudah sadar
- Tubuh masih dalam kondisi tidur
Akibatnya, seseorang tidak bisa bergerak atau berbicara. Gejala yang umum terjadi, yakni:
- Tidak bisa bergerak
- Dada terasa berat
- Sulit bernapas
- Halusinasi (melihat atau mendengar sesuatu)
Halusinasi inilah yang sering membuat orang mengira mengalami gangguan gaib.
Penyebab terjadinya ketindihan, di antaranya:
1. Kurang tidur
Sering begadang dan jadwal tidur yang berubah-ubah akibat jet-lag misalnya dapat memicu terjadinya sleep paralysis
2. Stres atau Gangguan Mental
Sleep paralysis sering terjadi pada orang yang merasa tertekan atau stres
5. Tidur Terlentang
Beberapa jurnal menyebutkan bahwa posisi tidur menjadi salah satu penyebabnya, khususnya tidur dengan posisi terlentang.
4. Masalah Tidur
Gangguan tidur seperti narkolepsi dan kaki yang tiba-tiba kram di malam hari dapat mengganggu tidur yang sudah memasuki fase REM.
Penjelasan Ketindihan dalam Islam
Menurut Nahdlatul Ulama, dalam Islam fenomena ini tidak secara spesifik disebut sebagai "ketindihan", namun ada penjelasan terkait gangguan saat tidur.
Beberapa ulama menyebut bahwa kondisi ini bisa berkaitan dengan gangguan jin, terutama jika disertai mimpi buruk atau rasa takut berlebihan. Namun, Islam tidak serta-merta menyimpulkan semua ketindihan sebagai hal gaib.
Rasulullah SAW mengajarkan beberapa amalan sebelum tidur:
- Membaca Ayat Kursi
- Membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas
- Berdoa sebelum tidur
Dalam hadis disebutkan:
"Apabila kamu hendak tidur, bacalah Ayat Kursi..."
(HR. Bukhari)
Hal ini bertujuan untuk melindungi diri dari gangguan makhluk halus.
Penjelasan Ketindihan Saat Tidur Menurut Logika dan Psikologi
Secara logika, ketindihan dapat dijelaskan sebagai kombinasi antara:
- Kondisi tubuh yang belum sepenuhnya sadar
- Otak yang masih berada dalam fase mimpi
Halusinasi yang muncul seringkali dipengaruhi oleh:
- Ketakutan
- Pengalaman pribadi
- Budaya atau kepercayaan
Misalnya, seseorang yang percaya hal gaib mungkin akan "melihat" sosok tertentu saat ketindihan, padahal itu adalah hasil dari imajinasi otak.
Gaib atau Tidak?
Jawabannya bisa ya dan tidak, tergantung sudut pandang:
- Secara medis: murni fenomena biologis (sleep paralysis)
- Secara Islam: bisa saja ada gangguan, tapi tidak selalu
- Secara logika: hasil kerja otak dan kondisi psikologis
Yang pasti, tidak semua ketindihan adalah hal gaib.
Cara Mengatasi Ketindihan
Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Perbaiki Pola Tidur
Tidur cukup dan teratur sangat penting untuk mencegah sleep paralysis.
2. Kelola Stres
Hindari pikiran berlebihan sebelum tidur.
3. Posisi Tidur yang Nyaman
Tidur telentang sering dikaitkan dengan ketindihan, coba posisi miring.
4. Amalan Sebelum Tidur
Dalam Islam, membaca doa dan ayat Al-Qur'an dapat memberikan ketenangan.
Ketindihan saat tidur adalah fenomena yang bisa dijelaskan secara medis sebagai sleep paralysis. Namun, dalam Islam, kondisi ini juga bisa dikaitkan dengan gangguan, meskipun tidak selalu.
Yang terpenting adalah menjaga pola hidup sehat, memperbaiki kualitas tidur, dan memperkuat keimanan agar terhindar dari rasa takut berlebihan.
Demikian rangkuman yang telah detikSumbagsel rangkum untuk para detikers, semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Alyuda Tri Utama peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(dai/dai)
