Waspada Penyakit Kusta! Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

Waspada Penyakit Kusta! Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

Widia Ardhana - detikSumbagsel
Jumat, 13 Mar 2026 06:01 WIB
Ilustrasi kusta
Foto: Ilustrasi penyakit kusta (detikcom/Thinkstock)
Palembang -

Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kasus kusta terbanyak di dunia. Dilansir dari detikHealth, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini menduduki peringkat ketiga kasus kusta terbanyak di dunia setelah India dan Brasil, dengan jumlah kasus baru yang bisa mencapai 16 ribu per tahun.

Kusta adalah penyakit yang perlu diwaspadai karena gejalanya berkembang perlahan dan sering tidak disadari. Salah satu tantangan terbesarnya adalah stigma negatif yang masih kuat di masyarakat, padahal dengan pemahaman yang tepat mengenai gejala, penyebab, dan cara pengobatannya, penyakit ini sepenuhnya bisa disembuhkan.

Berikut informasi lengkapnya yang perlu detikers ketahui!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Penyakit Kusta?

Dilansir dari detikHealth, kusta adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini utamanya menyerang kulit, saraf tepi, serta dapat memengaruhi mata, lapisan hidung, dan saluran pernapasan bagian atas. Gejala penyakit ini berkembang sangat perlahan dalam jangka waktu yang lama, bahkan masa inkubasinya bisa mencapai 5 hingga 20 tahun sebelum gejala pertama muncul.

Penting untuk diketahui bahwa kusta tidak mudah menular. Penularan umumnya terjadi melalui kontak erat dan dalam waktu lama dengan penderita yang belum menjalani pengobatan, biasanya melalui percikan cairan dari hidung atau mulut saat bersin atau batuk. Sementara itu, interaksi biasa seperti bersalaman, berbagi alat makan, atau duduk bersama tidak menyebabkan penularan.

ADVERTISEMENT

Gejala Penyakit Kusta

Gejala kusta sering berkembang secara perlahan sehingga banyak penderita yang tidak menyadarinya. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Munculnya bercak putih, kemerahan, atau kecoklatan pada kulit yang disertai mati rasa
  • Penebalan, penonjolan, atau benjolan pada kulit
  • Penebalan saraf tepi yang bisa diketahui melalui pemeriksaan fisik
  • Kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki hingga kelemahan otot
  • Bisul yang tidak terasa sakit di telapak kaki
  • Benjolan atau pembengkakan yang tidak nyeri di wajah atau daun telinga
  • Alis dan bulu mata yang rontok
  • Hidung tersumbat atau mimisan
  • Gangguan penglihatan jika kusta menyerang saraf wajah

Jenis-Jenis Penyakit Kusta

WHO mengklasifikasikan kusta menjadi dua jenis berdasarkan jumlah area kulit yang terinfeksi:

1. Paucibacillary (PB) Jenis kusta dengan lima lesi atau lebih sedikit pada kulit(maksimal 5 bercak). Pada jenis ini, tidak ada bakteri yang terdeteksi dalam sampel kulit.

2. Multibacillary (MB) Jenis kusta yang lebih berat, yakni dengan lebih dari lima lesi pada kulit. Bakteri terdeteksi dalam sampel kulit dan apusan kulit pada jenis ini.

Cara Mengobati Penyakit Kusta

Dikutip dari website Rumah Sakit Akademik UGM, kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Pengobatan utamanya menggunakan Multidrug Therapy (MDT) yang dikembangkan WHO dan telah tersedia secara gratis di seluruh fasilitas kesehatan. Pengobatan MDT berupa kombinasi antibiotik yang diminum selama 6-12 bulan tergantung jenis kusta, dengan obat-obatan seperti dapsone, rifampisin, dan klofazimin.

Jika kasus terdeteksi lebih awal dan pengobatan dilakukan dengan tepat, komplikasi seperti kerusakan saraf dan kecacatan dapat dicegah. Pada kasus yang lebih lanjut, operasi dapat dilakukan untuk menormalkan fungsi saraf yang rusak dan memperbaiki kecacatan tubuh.

Cara Mencegah Penyakit Kusta

Berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:

  • Mengenali gejala lebih dini dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika ada tanda yang mencurigakan
  • Menghindari kontak dekat dalam jangka panjang dengan penderita kusta yang belum diobati
  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
  • Mendukung pengobatan bagi mereka yang telah terdiagnosis

Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads