Respons Indonesia Usai Penutupan Selat Hormuz Iran

Respons Indonesia Usai Penutupan Selat Hormuz Iran

Bagus Nugroho - detikSumbagsel
Jumat, 06 Mar 2026 11:00 WIB
Selat Hormuz
Foto: Peta Selat Hormuz (The Guardian)
Palembang -

Selat Hormuz kini menjadi sorotan dunia akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Jalur yang memisahkan Teluk Oman dan Teluk Persia ini merupakan salah satu rute vital perdagangan minyak dunia.

Kondisi tersebut memicu potensi kenaikan harga minyak mentah dunia pasca terganggunya proses ekspor dan impor energi. Indonesia sebagai salah satu negara pengimpor minyak juga turut terdampak situasi ini.

Berikut detikSumbagsel sajikan sejumlah respon Indonesia pasca penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana Tindakan Indonesia Usai Penutupan Selat Hormuz

Pasca penutupan Selat Hormuz Iran pada 1 Maret 2026, proses ekspor dan impor minyak dunia terganggu dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah. Dilansir dari CNBC Indonesia, kawasan Asia juga diperkirakan terdampak karena tingginya ketergantungan impor minyak.

"Di Asia, Thailand, India, Korea, dan Filipina adalah yang paling rentan terhadap kenaikan harga minyak, karena ketergantungan impor mereka yang tinggi," Kata Nomura dalam sebuah catatan, dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (3/3/2026)

ADVERTISEMENT

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga merupakan salah satu negara pengimpor minyak dunia, sehingga berpotensi ikut terdampak dari kondisi tersebut.

Antisipasi Pasokan Energi dan Impor Minyak

Masih di sumber yang sama, merespon kondisi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, menyebut Indonesia mulai melakukan impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) sebagai pengganti impor dari Timur Tengah dan dilakukan secara bertahap.

"Ya bertahap itu kan bertahap, enggak bisa sekaligus satu kali datang karena kita punya daya simpanan tidak cukup. Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage, makanya kami mau buat sekarang storage, kalau tidak begini, kita tidak pernah berpikir," ujarnya, dikutip detikSumbagsel, Kamis (5/3/2026).

Arahan untuk Indonesia segera membangun tangki Penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) atau storage disampaikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto, agar Indonesia bisa survive menghadapi kondisi serupa.

"Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus," tegas Bahlil.

Diplomasi untuk Kapal Pertamina

Selain potensi gangguan pasokan energi global, pemerintah Indonesia juga menghadapi persoalan lain yakni terjebaknya dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping di Selat Hormuz.

Dilansir detikFinance, pemerintah saat ini tengah menempuh jalur diplomasi agar kedua kapal tersebut dapat keluar dari wilayah tersebut dengan aman.

"Kita lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan," ujar Bahlil, dikutip detikSumbagsel, Kamis (5/3/2026)

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) memastikan kapal dan para awaknya berada dalam kondisi aman.

Evakuasi WNI dari Iran

Selain berdampak pada jalur perdagangan energi dunia, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah juga membuat Indonesia mengambil langkah lain, termasuk menyiapkan evakuasi WNI dari Iran. Dilansir dari CNBC Indonesia, pemerintah resmi memulai proses evakuasi bertahap menyusul meningkatnya situasi keamanan di kawasan.

Keputusan tersebut disampaikan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran melalui pengumuman resmi.

"Pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk menyelenggarakan evakuasi bertahap bagi WNI yang berada di wilayah Iran," tulis KBRI Tehran dalam pengumuman tertanggal 4 Maret 2026.

KBRI meminta seluruh WNI untuk berkoordinasi dengan perwakilan RI setempat, guna memperoleh informasi teknis seputar jadwal, mekanisme, dan titik kumpul evakuasi. Semua proses tersebut akan dikoordinasikan secara intensif melalui grup komunikasi resmi WNI di Iran.

Selain itu, WNI yang sedang menghadapi kondisi darurat dan membutuhkan penanganan segera, KBRI Tehran membuka hotline darurat di nomor +98 902 466 8889.

Demikian respon Indonesia pasca Penutupan Selat Hormuz. Semoga artikel ini membantu.

Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.




(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads