Paman dan bibi di Surabaya, Jawa Timur, yakni ufa Fahrul Agusti (30), dan Sellyna Andika Wahyuni (26), tega menyiksa keponakannya yang masih berusia empat tahun. Bukan itu saja, kedua pelaku ini juga membotaki rambut korban.
Keduanya berdalih aksi itu dilakukan karena keponakannya nakal dan sulit diatur. Kenakalan balita inilah yang menjadi penyebab mereka melakukan penganiayaan.
Diketahui, aksi penganiayaan yang dialami korban terjadi di kamar kos mereka Jalan Bangkingan, Lakarsantri, Surabaya. Korban diduga disiksa oleh paman dan bibinya sendiri selama 2 bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara pengakuan tersangka karena anak tersebut nakal dan sulit diatur," kata Kasat PPA dan TPPO Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari, dilansir detikJatim, Minggu (15/2/2026).
Namun, Melati tak menjelaskan lebih spesifik bagaimana kenakalan yang dilakukan balita itu hingga membuat paman dan bibinya kesal dan menganiayanya. Menurutnya, pendalaman masih dilakukan.
"Masih didalami motifnya," ujarnya.
Melati menegaskan, akibat ulah tersangka balita itu menderita sejumlah luka di beberapa bagian tubuhnya. Paman dan bibi korban juga tega memangkas rambut korban hingga botak sebagian.
Awal Mual Terbongkarnya Penganiayaan
Terbongkarnya aksi penganiayaan yang dilakukan kedua pelaku yakni berawal saat korban yang terkunci di kamar kos berteriak meminta tolong kepada tetangganya, pada Senin (9/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Tetangga di samping kamar korban yakni Islaha menceritakan momen saat dirinya mendengar suara kecil yang memanggilnya berkali-kali dari balik tembok.
"Ada suara, memanggil saya 'Mama Adik Rama' itu sampai beberapa kali. Pas saya datang ternyata dibalik pintu kos itu. Saya tanya kenapa Kirana?" katanya, Sabtu (14/2/2026).
Saat ditemukan, korban mengaku dalam kondisi lapar karena ditinggal oleh paman dan bibinya bekerja. Pintu kamar kos tersebut sengaja dikunci dari luar oleh kedua pelaku.
"Pas saya tanya, anak ini minta tolong untuk dibukakan pintu karena kelaparan sejak pagi belum makan. Saya nggak tega sekali Pak," ujarnya.
Karena pintu terkunci rapat, Islaha meminta bantuan warga, pengurus RT, hingga pihak kepolisian. Petugas akhirnya mengevakuasi balita itu dengan cara merusak kawat teralis jendela.
Kondisi fisik korban saat dievakuasi sangat memprihatinkan dengan sejumlah luka di bagian wajah dan kepala.
"Korban diselamatkan dari jendela. Pas dievakuasi itu banyak luka di bagian wajah, terutama dagunya itu berdarah. Terus rambut atasnya itu agak sedikit botak," jelasnya.
(csb/csb)











































