Di balik kelezatan hidangan yang tersaji saat perayaan Imlek 2026, tersimpan filosofi mendalam. Setiap makanan menjadi simbol doa dan harapan yang dipanjatkan untuk kehidupan dan tahun yang lebih baik.
"Jadi semua makanan yang disajikan itu ada makna dan simbol positif. Jadi banyak simbol, kalau ingin dibahas semua banyak sekali," ujar Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Sumatera Selatan Tjik Harun.
Kata Tjik Harun, ikan bandeng menjadi salah satu hidangan yang hampir selalu ada di meja makan saat Imlek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada ikan bandeng. Karena ikan bandeng itu menurut lafal, fonem dari bahasa Cina itu 'i'. Jadi setiap tahun itu ada rezeki terus mengalir," jelasnya
Kue keranjang atau nian gao adalah makanan khas yang selalu hadir dalam perayaan Imlek. Kue berwarna cokelat keemasan ini memiliki tekstur lengket kenyal dan manis.
"Kue keranjang itu kuenya kan manis dan lengket. Itu agar rezeki kita di tahun itu harus lebih manis, lebih erat dalam hubungan," katanya
Selain kue keranjang, ada juga kue apem yang menjadi hidangan khas Imlek. Kue ini memiliki filosofi unik terkait proses pembuatannya.
"Mekarnya kue apem saat dimasak simbol harapan agar rezeki dan kebahagiaan juga ikut mekar dan berkembang di tahun baru," katanya
Menurut Tjik Harun, mi panjang adalah salah satu hidangan yang memiliki aturan khusus dalam cara memakannya. Tidak boleh sembarangan memakan mi saat Imlek.
"Kalau makan mi itu juga tidak boleh dipotong. Tidak boleh digigit sampai habis. Jadi sepanjang mi itu disedot terus sampai habis. Kalau dipotong itu seperti memotong rezeki." jelasnya.
Ia juga mengatakan telur menjadi salah satu makanan yang bermakna dalam perayaan Imlek. Bentuknya yang bulat menyimpan makna mendalam tentang rezeki.
"Ada telur, telur kan simbolnya bulat, jadi rezeki itu bulat. Kalau di segi empat, sampai di sudut tertentu ada turun lagi. Di bawah, kamu nak merangkak naik lagi. Kalau telur kan tidak, dia berputar terus," ujarnya
Bentuk bulat telur melambangkan siklus yang tidak pernah berhenti. Rezeki akan terus berputar tanpa henti, tidak seperti bentuk segi empat yang memiliki sudut dan titik jatuh. Dengan bentuk bulat, rezeki akan terus mengalir berkelanjutan.
Berdasarkan pernyataan Tjik Harun, makanan-makanan khas Imlek ini biasanya disajikan saat makan malam bersama keluarga pada malam menjelang Imlek. Momen ini bukan hanya soal makan bersama, tetapi juga ajang introspeksi keluarga.
"Makan bersama ini adalah ajang introspeksi, disitulah introspeksi saling memaafkan, lalu ada hal-hal yang kemarin itu mohon dimaafkan, kita menatap ke depan dengan aura yang positif, dengan harapan yang lebih positif," ujarnya.
Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(csb/csb)











































