Makna Pernak-pernik di Balik Kemeriahan Imlek 2026

Sumatera Selatan

Makna Pernak-pernik di Balik Kemeriahan Imlek 2026

Widia Ardhana - detikSumbagsel
Sabtu, 07 Feb 2026 06:00 WIB
Makna Pernak-pernik di Balik Kemeriahan Imlek 2026
Pernak-pernik Imlek (Foto: Widia Ardhana)
Palembang -

Nuansa merah mendominasi perayaan Imlek 2026. Lampion bersinar, angpao dibagikan, dan ornamen Shio Kuda Api menghiasi toko serta rumah warga Tionghoa. Di balik kemeriahan itu, tersimpan filosofi yang diwariskan turun-temurun selama ribuan tahun.

"Warna merah bagi kami itu warna keberuntungan, warna kebahagiaan. Orang yang pakai baju merah akan lebih menarik perhatian, auranya lebih kuat," ujar Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Sumatera Selatan Tjik Harun, Jumat (6/2/2026).

Kata Tjik Harun, lampion merah adalah salah satu pernak-pernik paling ikonik dalam perayaan Imlek. Tradisi penggunaan lampion dimulai sejak zaman Dinasti Han (202 SM - 9 M).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cahaya yang terpancar dari lampion melambangkan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Warna merah pada lampion berfungsi mengusir energi negatif sekaligus menarik keberuntungan.

"Lampion itu ada lampu, lampu simbol penerang, menerangkan jalan di tahun itu seperti harapan supaya lebih baik, lebih sukses. Terang hati kita, terang rezeki kita," jelas Tjik Harun

ADVERTISEMENT

Imlek 2026 menandai Tahun Kuda Api, yang merupakan kombinasi langka. Shio Kuda melambangkan kebebasan, kemandirian, kecepatan, dan keberanian, sementara unsur Api memperkuat karakter tersebut dengan semangat, antusiasme, dan dorongan untuk maju.

"Sekarang masuk shio kuda, ada pernak-pernik simbol kuda, menunjukkan shio tahun itu. Jadi akan banyak pernak-pernik shio kuda," katanya.

Selain itu, ada juga beberapa dekorasi khas Imlek lainnya, yakni Chunlian adalah kuplet merah di pintu berisi doa keberuntungan, ada karakter Fu yang melambangkan keberuntungan. Serta pohon kumquat menjadi simbol kekayaan dan kemakmuran.

Menurut Tjik Harun amplop merah atau angpao juga merupakan pernak-pernik yang tak terpisahkan dari Imlek. "Ang" berarti merah dan "pao" berarti amplop dalam bahasa Hokkian.

"Di balik angpao itu ada doa. Misalnya aku kasih anak-anak, 'semoga cepat sekolah, semoga pintar,' karena ada doanya. Jadi bukan dilihat dari isi angpaonya," ujarnya

Tjik Harun menjelaskan tradisi angpao adalah simbol transfer energi positif dan rezeki dari orang yang sudah menikah (dianggap mampu) kepada anak-anak atau yang belum menikah.

Meski tradisi masih kuat, Tjik Harun mengakui adanya pergeseran di era digital.

"Sekarang sudah era digital, terlalu banyak yang pakai rekening, m-banking. Tradisi sudah bergeser karena era digitalisasi," katanya.

Ia menjelaskan pernak-pernik dan warna merah melambangkan harapan, doa, dan energi positif di tahun baru. Setiap lampion, angpao, dan ornamen menjadi simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Artikel ini ditulis oleh Widia Ardhana peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(csb/csb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads