- Potensi Virus Nipah di Indonesia 1. Belum Ada Laporan Kasus Pada Manusia 2. Surveilans Masyarakat Indonesia Kurang 3. Virus Ditemukan pada Kelelawar
- Cara Mencegah Penularan Virus Nipah 1. Waspada Sumber Penularan 2. Selektif Memilih Buah 3. Kebersihan Makanan 4. Hindari Kontak Hewan Terinfeksi 5. Perkuat Imunitas 6. Kewaspadaan Pasca Pulang dari Negara Terdampak
- Gejala Virus Nipah
Virus Nipah tengah menjadi perhatian publik usai dilaporkan merebak di India. Negara-negara Asia pun mulai memperketat pemeriksaan kedatangan guna mencegah penularan virus di negaranya.
Di Indonesia, Menteri Kesehatan Budi Gunawan, mengatakan pihaknya akan mempersiapkan alat tes virus Nipah sebagai langkah surveillance.
"Tapi kita sudah mempersiapkan, sudah sosialisasi, dan kita sudah siapin reagen PCR-nya. Sama kayak virus, tesnya pake PCR," ungkap Menkes, dilansir dari detikHealth (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski pemerintah telah menyiapkan langkah deteksi dini, potensi masuknya virus ke Indonesia tetap menjadi perhatian. Berikut detikSumbagsel sajikan informasinya.
Potensi Virus Nipah di Indonesia
Dilansir dari detikHealth, berikut ini perkiraan apakah potensi virus Nipah dapat masuk ke Indonesia, antara lain:
1. Belum Ada Laporan Kasus Pada Manusia
Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menuturkan meski Kementerian Kesehatan masih belum menemukan adanya laporan tentang kasus virus Nipah pada manusia, tapi potensi untuk masuk atau tidak terdeteksi akan selalu ada. Terlebih, hewan kelelawar sebagai perantara virus ini banyak dijumpai di Indonesia.
"Fakta objektifnya pertama memang belum pernah melaporkan kasus manusia infeksi nipah pada manusia. Tapi ini bukan berarti nggak ada. Ini harus dipahami," ujar Dicky pada detikcom, Selasa (27/1/2026).
2. Surveilans Masyarakat Indonesia Kurang
Menurut Dicky, sistem surveilans Indonesia masih tergolong lemah.
"Indonesia kan sistem surveillancenya termasuk kategori lemah, kalau saya harus bicara secara jujur." sambungnya
Dikutip dari Modul Pelatihan Surveilans Kemenkes, Surveilans Kesehatan adalah kegiatan memantau dan mengumpulkan data tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan secara terus-menerus. Tujuannya untuk mengetahui perkembangan penyakit dan menjadi dasar dalam menentukan langkah pencegahan serta pengendalian agar penularan dapat ditekan secara efektif dan efisien.
3. Virus Ditemukan pada Kelelawar
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof dr Dominicus Husada, Spa, Subsp IPT mengatakan bahwasannya virus tersebut sudah pernah ditemukan di Indonesia, pada hewan kelelawar.
"Penular utama sekali lagi adalah kelelawar buah (Pteropodidae) sebagai inang alami, memang aslinya dia yang berperan, negara kita termasuk yang punya kelelawar ini dan sudah ditemukan virusnya pada kelelawar, tapi pada orang memang belum," ungkap Prof Husada dalam konferensi pers, Kamis (29/1/2026).
Dengan belum ditemukannya kasus pada manusia, tetapi dengan adanya virus pada kelelawar serta lemahnya sistem surveilans, potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia tetap perlu diwaspadai. Penguatan pemantauan penyakit dan kewaspadaan masyarakat menjadi langkah penting untuk mencegah penularan sejak dini.
Cara Mencegah Penularan Virus Nipah
Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan sumber lainnya, ada beberapa langkah hal penting yang harus dilakukan masyarakat untuk mencegah kemungkinan penularan virus Nipah di Indonesia, antara lain:
1. Waspada Sumber Penularan
Virus Nipah dapat menular melalui buah atau makanan yang telah terkontaminasi oleh air liur atau urine kelelawar.
2. Selektif Memilih Buah
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk tidak sembarang mengkonsumsi buah. Terutama buah yang ditemukan terjatuh pasca dikonsumsi kelelawar memiliki risiko penularan tertinggi.
"Penyakit ini penularannya banyak lewat buah yang sudah dimakan atau digigit kelelawar, jadi untuk orang-orang Indonesia termasuk wartawan yang ke daerah-daerah (rawan), kalau bisa jangan makan buah yang terbuka," imbaunya, Kamis (30/1/2026) dilansir dari detikHealth.
"Kalau bisa misal makan jeruk yang tertutup lalu kita buka sendiri kupas sendiri, jadi kita bisa lihat," lanjutnya.
3. Kebersihan Makanan
Pastikan untuk selalu mencuci bersih dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.
4. Hindari Kontak Hewan Terinfeksi
Masyarakat diminta untuk menghindari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi virus Nipah.
5. Perkuat Imunitas
Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan sabun, memperbanyak konsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, dan rutin beraktivitas fisik.
6. Kewaspadaan Pasca Pulang dari Negara Terdampak
Bagi masyarakat yang baru kembali dari India atau negara terdampak baik dalam rangka belajar, kerja, atau travelling, wajib untuk waspada selama 14 hari pasca kepulangan. Apabila mengalami dan merasakan gejala seperti demam, batuk, pilek, sesak napas, muntah, atau kejang, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Gejala Virus Nipah
Berdasarkan penjelasan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, gejala virus ini bervariasi mulai dari sedang hingga berat, di antaranya:
- Sakit kepala
- Batuk
- Radang tenggorokan
- Sulit bernapas
- Demam
- Ensefalitis
- Rasa bingung
- Kantuk
- Kejang-kejang
- Pembengkakan otak
Gejala virus ini biasanya dirasakan dalam waktu 3 sampai 14 hari. Selain itu, ada kemungkinan jika pasien yang terjangkit virus dari hewan ini bisa mengalami koma dalam waktu 24-48 jam.
Demikian informasi mengenai potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia. Tetap taati aturan agar senantiasa terhindar dari virus. Semoga bermanfaat.
Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(dai/dai)











































