8 Hewan Endemik Pulau Sumatera yang Langka dan Ikonik, Apa Saja?

Bagus Rahmat Nugroho - detikSumbagsel
Jumat, 30 Jan 2026 07:30 WIB
Ilustrasi orangutan (Foto: Pixabay/ShekuSheriff)
Palembang -

Pulau Sumatera dikenal kaya akan beragam hewan endemik. Namun, keberadaan satwa-satwa tersebut kian semakin langka akibat perburuan dan kerusakan lingkungan.

Hewan endemik Sumatera memiliki ciri khas yang tidak ditemukan di wilayah lain. Bahkan, salah satunya tercatat sebagai spesies termuda yang baru ditemukan seperti Orangutan Tapanuli.

Berikut detikSumbagsel sajikan informasi mengenai 8 hewan endemik pulau Sumatera yang langka dan ikonik. Yuk, simak!

Hewan Endemik Pulau Sumatera

Dilansir dari laman Kementerian Kehutanan Direktorat Jenderal KSDAE dan sumber lainnya. Berikut berbagai hewan endemik khas pulau Sumatera, antara lain:

1. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)

Orangutan Tapanuli merupakan salah satu hewan endemik Pulau Sumatera yang paling langka. Spesies ini baru ditemukan oleh dunia sains pada 2017 dan hanya hidup di kawasan hutan Batang Toru, Sumatera Utara. Saat ini, Orangutan Tapanuli berstatus Critically Endangered atau terancam punah menurut IUCN Red List.

Secara genetik, satwa ini lebih dekat dengan Orangutan Kalimantan dibandingkan Orangutan Sumatera. Kemiripan tersebut terlihat dari ciri fisik yaitu, bulu yang lebih tebal dan keriting, bentuk tengkorak, tulang rahang yang lebih halus, hingga suara panggilan jarak jauh pejantan yang khas. Populasinya terancam akibat perburuan, perdagangan ilegal, deforestasi hutan untuk perkebunan kelapa sawit, dan konflik dengan manusia.

2. Tarsius (Tarsius bancanus)

Hewan endemik Pulau Sumatera yang tergolong langka berikutnya adalah Tarsius. Spesies ini tergolong ke dalam Western tarsier (Tarsiur bancanus) yang berhabitat di hutan hujan tropis Sumatera, terutama di hutan primer dan sekunder dataran rendah. Hewan ini memiliki subspesies endemik lainnya di Pulau Bangka, yaitu Tarsius bancanus saltator.

Tarsius dikenal sebagai hewan nokturnal bermata besar dengan leher yang dapat berputar hingga 180 derajat. Primata karnivora ini memangsa serangga dan hewan kecil, sementara itu di sisi lain populasi Tarsius semakin terancam punah akibat kerusakan habitat dan perdagangan satwa.

3. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)

Harimau Sumatera adalah hewan endemik lainnya yang ada di pulau Sumatera dan satu-satunya anggota subspesies harimau Sunda yang masih bertahan hingga sekarang. Satwa ini memiliki ukuran tubuh paling kecil dibandingkan jenis harimau lainnya, dengan warna loreng yang lebih gelap dan rapat.

Harimau jantan dewasa dapat mencapai panjang tubuh sekitar 250 cm dengan berat hingga 140 kg, sedangkan betina memiliki panjang rata-rata sekitar 198 cm dan berat badan hingga 91 kg. Populasi Harimau Sumatera terus menurun akibat perburuan dan kerusakan habitat, sehingga kini berstatus terancam punah.

4. Surili Sumatera (Presbytis melalophos)

Surili Sumatera atau Simpai merupakan primata endemik Pulau Sumatera yang hidup di kawasan hutan Nasional, termasuk Taman Nasional Batang Gadis. Satwa ini dikenal memiliki cara komunikasi unik melalui suara melengking bernada tinggi untuk berinteraksi dalam kelompok maupun merespon ancaman. Aktivitas satwa ini banuak dilakukan di tajuk pohon dan jarang turun ke tanah.

Simpai memiliki ciri khas berupa jambul hitam menyerupai mahkota di kepala, tubuh ramping sepanjang sekitar 45-49 cm, berat 5-6kg, serta ekor hingga 71 cm. Populasinya terus menurun akibat gangguan manusia dan fragmentasi habitat sehingga kini berstatus punah.

5. Kelinci Sumatera (Nesolagus Netscheri)

Kelinci Sumatera merupakan hewan endemik pulau Sumatera yang hidup di kawasan Pegunungan Bukit Barisan, terutama di wilayah Sumatera bagian utara. Satwa ini bersifat nokturnal, aktif pada malam hari dan beristirahat di siang hari di dalam liang tanah yang digaii oleh hewan lain.

Kelinci Sumatera memiliki ciri fisik berupa telinga pendek dengan panjang tubuh sekitar 350-400 milimiter, terkadang di antaranya memiliki corak merah di bagian ekor. Spesies ini tergolong langka dan telah dilindungi sejak 1972 karena populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat.



Simak Video "Video Polda Riau Ringkus Sindikat Pembunuh Gajah Tanpa Kepala"


(csb/csb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork