Kenapa Budaya Hilir dan Hulu di Palembang Berbeda?

Rhessya Maris - detikSumbagsel
Kamis, 15 Jan 2026 01:00 WIB
Jembatan Ampera penghubung wilayah hilir dan hulu di Palembang (Candra Setia Budi/detikSumbagsel)
Palembang -

Secara geografis Kota Palembang dipisahkan oleh Sungai Musi, masyarakat yang berada di sebelah utara dikenal dengan sebutan hilir, sedangkan sebelah selatan disebut hulu.

Dulunya, kawasan hilir disinggahi oleh Kesultanan Palembang dan jadi pusat pemerintahan dan ulu lebih banyak masyarakat pendatang.

Secara budaya, hilir dikenal sebagai kawasan yang lebih modern karena berada di pusat Kota Palembang, sebaliknya hulu lebih masyarakat tradisional sebab masyarakat jarang berpindah, jadi orang-orang asli Palembang biasanya banyak tinggal di daerah hulu.

Dilansir melalui buku Sejarah dan Kebudayaan karya Farida Wargadalem, perbedaan yang terjadi antara hilir dan hulu ini menimbulkan dinamika unik bagi kalangan masyarakat. Karakter ini terbentuk karena adanya pemisah antara keduanya yaitu Jembatan Ampera.

Penasaran dengan perbedaan hulu dan hilir di Palembang. Berikut detikSumbagsel rangkum penjelasannya untuk kamu. Yuk simak!

Apa Itu Hilir?

Kawasan hilir secara tradisional merupakan daerah yang menjadi tempat tinggal bagi raja-raja dan bangsawan yang ada di Kesultanan Palembang, dari dulu hingga sekarang, daerah ini menjadi pusat kota dan jalur perdagangan, maka dari itu hilir juga menjadi tempat tinggal bagi kelompok etnis seperti Cina, Arab dan lain-lain.

Karena berada di pusat kota, beberapa Ikon Kota Palembang berada disini, seperti Masjid Agung Mahmud Badaruddin, Benteng Kuto Besak, Pusat perbelanjaan utama hingga pusat-pusat modernisasi lainnya.

Wilayah hilir meliputi kecamatan-kecamatan seperti Kecamatan Ilir Barat I, Ilir Barat II, Ilir Timur I dan Ilir Timur II. biasanya daerah ini masih padat dengan aktivitas perdagangan karena posisinya berada di tengah-tengah Kota.

Apa Itu Hulu?

Kawasan hulu berada di seberang selatan daerah hilir. Dulunya kawasan ini banyak dihuni oleh orang-orang pendatang dari luar Kota Palembang. Sebelum adanya pembangunan jembatan Ampera, masyarakat hulu sulit untuk mengakses daerah hilir, sebab harus menyeberang menggunakan perahu atau ketek.

Pembangunan Jembatan Ampera dilakukan pada tahun 1960-an, setelah adanya akses ini, masyarakat di kawasan hulu mulai bermigrasi dan bekerja di daerah hilir. Meski sudah memiliki jalur penghubung, daerah hulu hingga saat ini masih mempertahankan konsep tradisionalnya, ditandai dengan budaya masyarakat yang masih kental dan rumah-rumah warga yang masih berdinding kayu serta bermodel panggung.

Wilayah hulu meliputi daerah yang berada di sisi selatan Sungai Musi yang terbagi menjadi beberapa bagian seperti Seberang Ulu I, Seberang Ulu II, Jakabaring, Silaberanti, dan Kertapati.

Asal Usul Hilir dan Hulu

Asal usul pembagian kawasan di Palembang berkaitan erat dengan Sungai Musi yang membelahnya menjadi 2 bagian yaitu hilir sebagai pusat pemerintahan dan hulu sebagai pusat masyarakat tradisional.

Pembagian ini telah terjadi sejak zaman Kerajaan sriwijaya pada Abad ke 7 hingga 13 Masehi, Wilayah hilir dikenal sebagai Sabokingking atau pusat pemerintahan dan hulu dikenal sebagai pusat keagamaan sebab berada di Wilayah Bukit Siguntang.

Selain itu, pada zaman Kolonial Belanda, kaum kulit putih secara resmi membagi keresidenan menjadi Afdeling Palembang hilir dan Afdeling Palembang hulu pada tahun 1921 untuk memperkuat kekuasaannya secara administratif.



Simak Video "Video: Jemaah Salat Id Masjid Agung Palembang Tumpah hingga Jembatan Ampera"


(csb/csb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork