Ketua DPRD Kabupaten Bone Andi Tenri Walinonong tidak kunjung memberikan klarifikasi soal laporan dugaan kekerasan terhadap stafnya, Yuli Nofita Sari (29). Andi Tenri malah memilih pergi tanpa memberikan penjelasan saat ditanya awak media terkait perkara yang menjeratnya.
Gelagat Andi Tenri menghindar sedianya sudah terlihat usai dugaan penganiayaan itu terjadi di kantin DPRD Bone, Rabu (22/7/2026). Sejak itu Andi Tenri mulai bungkam usai diduga melempar kue dan menyiram air ke wajah Yuli yang merupakan staf sekretariat DPRD Bone.
Perbuatan Andi Tenri membuat harga diri Yuli hancur hingga memilih melapor ke Polres Bone. Yuli sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu sampai memutuskan tidak masuk kantor untuk sementara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak (tidak masuk kantor setelah kejadian). Tapi sudah kusampaikan kabag bagian ku bilang, 'maaf tidak bisa ka dulu masuk kantor'," kata Yuli kepada detikSulsel, Kamis (29/7).
Yuli menolak berdamai di tengah ajakan mediasi meski bukan Andi Tenri langsung yang membujuk untuk berdamai. Dia mengaku trauma atas kejadian tersebut lantaran merasa dipermalukan di muka umum.
"Semenjak sudah kejadian belum bisa ka dulu masuk kantor. Perasaanku masih tidak terima, ada juga rasa trauma," ujar Yuli.
Sejak dilaporkan ke polisi, detikSulsel telah berulang kali berupaya mengkonfirmasi Andi Tenri terkait aksi tak manusiawi terhadap stafnya. Namun Andi Tenri tidak kunjung memberikan jawaban.
Bukannya Andi Tenri yang datang membujuk Yuli, Sekretaris DPRD Bone Andi Muchlis justru yang bolak-balik berupaya melakukan mediasi. Andi Muchlis mengaku sampai membujuk Yuli selama 3 hari 3 malam agar perkara berakhir damai.
"Prinsipnya yang saya lakukan mendekati (korban) inisiatif sendiri. Di luar saya datangi sendiri, ditolak saya, tidak bergeming pokoknya sampai tengah malam, 3 hari 3 malam," ujar Andi Muchlis kepada wartawan Selasa (28/7).
Upaya Andi Muchlis untuk memediasi kasus ini tidak membuahkan hasil. Dia pun memilih menghargai sikap Yuli yang akhirnya memutuskan membawa perkara dugaan penganiayaan ini berlanjut ke proses hukum.
"Saya sampaikan kalau saya pimpinan ta', saya saudara ta', tetapi tetap tidak mau didekati. Namun saya punya kewajiban untuk menyampaikan soal sampai apapun langkah ta' akan saya dukung, mau kasih viral saya dukung, mau lapor polisi saya antar," jelasnya.
Andi Tenri Ngacir Dicegat Awak Media
Ketua DPRD Bone Andi Tenri Walinonong memilih ngacir alias pergi menjauhi awak media saat ditanya soal dugaan kekerasan terhadap staf. (Agung Pramono/detikSulsel) |
Selang sepekan sejak dugaan kekerasan tersebut, awak media kembali berupaya menemui Andi Tenri yang berada di kantor DPRD Bone pada Kamis (30/7) sejak pukul 11.30 Wita. Saat itu Andi Tenri dijadwalkan memimpin rapat konsultasi struktur pimpinan DPRD Bone.
Sebelum rapat, Andi Tenri ternyata lebih dulu mengumpulkan seluruh pimpinan alat kelengkapan dewan (AKD) dalam ruang kerjanya di lantai II gedung DPRD Bone pada pukul 13.30 Wita. Pertemuan internal itu berlangsung hingga pukul 14.30 Wita.
Selepas pertemuan itu, rapat konsultasi pimpinan pun digelar di ruang Badan Anggaran (Banggar) DPRD Bone. Sementara Andi Tenri absen dari rapat konsultasi pimpinan lantaran memilih bertahan di ruang kerjanya.
Rapat yang diikuti 22 legislator tersebut akhirnya dipimpin Wakil Ketua DPRD Bone Irwandi Burhan. Selepas rapat berakhir, Andi Tenri juga tidak kunjung keluar dari ruangannya sampai pukul 17.29 Wita.
Saat keluar dari ruang kerjanya, Andi Tenri langsung dicegat awak media yang sedari tadi menunggu. Andi Tenri yang mengenakan baju warna biru dan jilbab warna abu-abu masih sempat tersenyum sembari berjalan menuju tangga.
Andi Tenri terlihat didampingi beberapa staf saat awak media mulai meminta tanggapannya terkait kasus dugaan penganiayaan terhadap stafnya. Namun Andi Tenri tidak memberikan penjelasan panjang lebar.
"Kita tunggu saja hasil pemeriksaan. Doakan lancar," kata Andi Tenri sambil terus berjalan menjauhi awak media.
Andi Tenri mempercepat langkahnya menuruni tangga didampingi seorang staf. Dia kembali memilih enggan berkomentar saat diberi kesempatan untuk memberikan keterangan terkait kronologi penganiayaan tersebut.
"No comment," singkat Andi Tenri. Politisi Gerindra tersebut langsung diarahkan masuk ke dalam mobil oleh stafnya, lalu meninggalkan kantor DPRD Bone.
Polisi Belum Periksa Ketua DPRD Bone
Sejak kasus ini bergulir, Polres Bone belum juga memanggil Andi Tenri untuk dimintai keterangan. Penyidik baru melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sembari menunggu keterangan saksi lainnya.
"Sementara baru saksi pelapor dan olah TKP langkah yang sudah kami lakukan. Sembari kita tunggu saksi lain dari pelapor," kata Kasat Reskrim Polres Bone AKP Alvin Aji Kurniawan kepada detikSulsel, Senin (27/7).
Alvin berdalih belum memeriksa ketua DPRD Bone karena ingin mendahulukan pemeriksaan saksi dari pelapor. Di kasus ini, Yuli sebagai pelapor telah mengajukan 11 saksi untuk memberikan keterangan terkait kejadian itu.
Para saksi merupakan pejabat hingga staf Sekretariat DPRD Bone yang berada di lokasi kejadian. Kendati begitu, para saksi tersebut ternyata belum mau memberikan kesaksiannya terkait peristiwa yang terjadi.
"Saksi dari pelapor sudah diajukan oleh pelapor, tapi gak ada yang mau datang. Tapi, insyaallah kami jadwalkan minggu depan," jelasnya.
Penyidik berharap saksi dari pelapor bisa dimintai keterangan. Setelah itu, pihaknya akan melanjutkan pemeriksaan terhadap Andi Tenri sebagai terlapor.
"Tunggu keterangan saksi yang lain dulu, baru mengarah ke beliau (Andi Tenri) terlapor," pungkas Alvin.
Simak Video "Video: Kasus Penyekapan Wanita di Cileunyi: Polisi Masih Kejar Pelaku! "
[Gambas:Video 20detik] (sar/sar)

