Cerita Aremania Mencekamnya Tragedi Kanjuruhan, Lihat Teman Tewas Tertindih

Berita Nasional

Cerita Aremania Mencekamnya Tragedi Kanjuruhan, Lihat Teman Tewas Tertindih

Tim detikJatim - detikSulsel
Selasa, 04 Okt 2022 14:59 WIB
Puing-puing Saksi Bisu Tragedi Kanjuruhan
Foto: Sisa kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang. (Deny Prastyo Utomo/detikJatim)
Malang -

Seorang Aremania, Angga (17) berhasil selamat usai terinjak-injak suporter lain yang saling berdesakan dalam Tragedi Kanjuruhan. Namun dalam momen mencekam tersebut Angga melihat temannya tertindih hingga tewas gegara kesulitan keluar dari stadion.

"Saya ditarik orang dalam desak desakan itu sampai lepas dengan teman-teman. Saya tertindih-tindih, terinjak-injak," kata Angga kepada wartawan, dilansir dari detikJatim, Selasa (4/10/2022).

Angga mengaku betapa kacaunya situasi saat tragedi tersebut. Namun dirinya memendam penyesalan lantaran temannya tidak berhasil diselamatkan saat tembakan gas air polisi memecah kerusuhan di dalam stadion.


"Ambil napas aja susah, saya pasrah, udah nggak bisa apa apa," papar Angga.

Angga mengaku sempat merangkul kawan-kawannya, termasuk almarhum Fajar untuk keluar dari stadion. Celakanya, pintu maut stadion tertutup.

Genggaman erat tangan Angga kepada Fajar lepas. Di situ lah petaka terjadi yang membuat Fajar tertindih di pintu maut Stadion Kanjuruhan saat ribuan suporter berdesakan untuk keluar.

Dalam kondisi tersebut, Angga bahkan melihat ke arah bawah. Dirinya sedang menindih seseorang. Bahkan Angga menyebut di atas tubuhnya juga ada orang yang sudah tak bergerak, entah pingsan atau sudah tak bernyawa.

"Lalu ada yang manggil, 'mas,mas, mas'. Saya masih bisa melek. Saya minta tolong, 'aku nggak kuat'. Tapi ternyata yang saya tindih itu bilang dan meyakinkan 'kamu bisa'," ungkapnya.

Untuk dapat lepas dari kerumunan itu, Angga diminta seseorang untuk berusaha keras agar dapat lolos. Namun saat melakukannya, Angga merasakan kakinya sudah kram.

Dengan tenaga tersisa, Angga berusaha bangkit dan keluar dari situasi mencekam itu. Angga mengaku melihat orang berbaju polisi tergeletak pingsan di antara kerumunan tersebut.

"Saat saya bangun, ada polisi yang juga pingsan di situ. Saya akhirnya keluar lewat pintu 9 karena pintu 10 itu sesak," katanya.

Namun saat sudah berada di luar stadion. Angga tak menemui Fajar. Ia bersama beberapa kawannya kemudian masuk lagi untuk mencari Fajar. Namun Fajar sudah tak bergerak saat ditemukan.

Angga dan temannya yang lain sempat meminta pertolongan kepada sejumlah aparat yang ditemui. Menurutnya, ada 3 aparat yang mereka mintai tolong, namun permintaan tolongnya diabaikan.

"Yang saya kecewakan, mengapa mereka (aparat) tak membantu, justru meninggalkan kami," terangnya.

Ketika berhasil membopong Fajar ke mobil ambulans, Angga tak diperbolehkan ikut menemani. Dirinya pun panik lantaran tidak mengetahui Fajar akan dibawa ke mana.

"Kami baru tahu Fajar di RS setelah sekitar pukul 03.00 WIB. Setelah keliling mencari," imbuh Angga.

Sementara ibu alrmarhum Fajar, Sumiati mengatakan dirinya langsung berangkat menuju rumah sakit saat mendapat kabar anaknya menjadi korban. Keluarga kemudian membawa pulang jenazah anaknya ke rumah duka di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

"Saya sebenarnya sudah pesan agar Fajar berhati-hati saat nonton bola. Tapi kemudian, sampai jam 2 malam kok dia belum pulang. Saya lemas saat dapat kabar itu," kata Sumiati yang dikonfirmasi terpisah.

Sebelum meninggal, Sumiati mengaku Fajar tampak berbeda dalam beberapa hari terakhir. Fajar tampak lesu dan sering tidur dan mandi.

"Dia (Fajar) habis sekolah langsung tidur, bangun mandi, habis itu tidur lagi, biasanya nggak gitu," pungkasnya.



Simak Video "Polisi Bantah Tangkap Perekam Video Viral Tragedi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/nvl)