Antrean kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tidak hanya terjadi di SPBU tetapi juga di tingkat eceran alias pertamini. Pengendara rela mengantre di pedagang eceran meski BBM jenis Pertamax dijual dengan harga tinggi mencapai Rp 20 ribu per liter.
Kondisi itu terjadi pada penjual eceran di Jalan Asal Mula, Kecamatan Tamalanrea, Makassar. Salah seorang pengendara, Abadi mengaku terpaksa mengisi BBM di tingkat pengecer karena kesulitan mendapatkan stok di SPBU.
"Mau bagaimana kita ini kalau bensin motor sudah mau habis, nanti mogok, kita mendorong. Di SPBU juga antrenya sudah panjang sekali. Itupun belum tentu kita antre bisa kebagian stok," kata Abadi kepada detikSulsel, Jumat (11/9/2026).
Abadi menuturkan, kondisi itu memaksa dirinya mengisi BBM di tingkat pengecer. Sekalipun dia harus merogoh kocek lebih besar ketimbang mengisi BBM di SPBU.
"Saya isi di pertamini, tapi bukan Pertalite, dia jualnya Pertamax. Itu Pertamax dijual harga Rp 20 ribu per liter. Mahal tapi tidak tahu mau bagaimana lagi," cetusnya.
Dia berharap kondisi ini bisa segera kembali stabil. Sebab susahnya mendapatkan BBM sangat memengaruhi aktivitasnya termasuk masyarakat lain yang menggunakan kendaraan pribadi.
"Kita ini pakai kendaraan dan mengisi BBM karena memang sudah mau habis. Jadi kalau susah dapat BBM-nya pasti mengganggu pekerjaan kita karena mobilitas jadi berkurang," ucap Abadi.
Diketahui, antrean kendaraan mengisi BBM terjadi hampir di semua SPBU di Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir. Antrean belakangan turut terlihat di warung penjual BBM eceran bak berada di SPBU.
Sebelumnya, antrean panjang sudah kerap terjadi di SPBU bagi kendaraan yang hendak mengisi Solar. Truk dan bus kerap berjejer di bahu jalan menunggu giliran mengisi bahan bakar.
Pertamina Sebut Stok BBM Aman dan Mencukupi
Terkait kondisi ini, Pertamina menyebut stok BBM aman dan mencukupi. Hanya saja disebut sedang ada kepanikan dari masyarakat dalam membeli BBM alias panic buying.
"Kalau untuk stok sendiri di kami sampai saat ini dalam kondisi yang aman dan mencukupi," ujar Pjs Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo kepada detikSulsel, Kamis (10/9).
Menurut Okky, ada kecenderungan masyarakat terpengaruh informasi dari media sosial terkait kelangkaan BBM. Walhasil, masyarakat berbondong-bondong membeli BBM meski harus mengantre di SPBU karena khawatir tidak kebagian.
"Iya, yang kami lihat seperti itu (panic buying) karena banyak akun media sosial (menyebut) BBM langka. Masyarakat kan mungkin melihat di SPBU ini antre, nanti saya tidak kebagian, jadi mereka panik. Karena kalau masyarakat panik, berapa pun yang akan kami stok di SPBU juga akan tetap kurang," papar Okky.
"Kalau orang panik yang tadinya mungkin Rp 100 ribu cukup, kalau diisi Rp 200-300 ribu juga nggak cukup, karena semua orang panik nih. Takutnya nanti kehabisan, jadi semuanya pada ngisi," imbuhnya.
Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: STY Latih Persija-Harga Pertamax Naik"
(asm/sar)