Antrean SPBU Mengular Panjang Berjam-jam Bak Kelangkaan BBM di Makassar

Antrean SPBU Mengular Panjang Berjam-jam Bak Kelangkaan BBM di Makassar

Tim detikSulsel - detikSulsel
Sabtu, 12 Sep 2026 06:30 WIB
Antrean kendaraan di SPBU Jalan Pengayoman Makassar.
Antrean kendaraan di SPBU Jalan Pengayoman Makassar. Foto: (Fadli Ilham/detikSulsel)
Makassar -

Antrean kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM) kini banyak menghiasi jalanan Kota Makassar dan sekitarnya di Sulawesi Selatan (Sulsel). Pengendara rela mengantre panjang selama berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), juga di tingkat pengecer meski dibanderol dengan harga yang lebih tinggi.

Kondisi ini dimulai dari antrean kendaraan mengisi Solar di sejumlah SPBU di Makassar dan sekitarnya. Truk hingga bus sudah merasakan antrean panjang di SPBU itu selama beberapa bulan terakhir.

Tidak sedikit dari mereka yang terpaksa menginap di jalanan demi menunggu giliran mengisi BBM. Antrean itu pun kerap memicu kemacetan panjang di sejumlah jalan protokol di Kota Makassar, terutama pagi dan sore hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa hari terakhir, antrean kendaraan di SPBU itu meluas hingga pada kendaraan pribadi. Motor maupun mobil kini ikut mengantre panjang untuk mengisi Pertalite. Antrean itu terjadi sejak pagi bahkan dini hari.

Tidak hanya di SPBU, antrean kendaraan berburu BBM juga terjadi di tingkat pengecer alias pertamini, khususnya bagi sepeda motor. Baik Pertalite maupun Pertamax tidak menjadi masalah bagi mereka, asalkan BBM kendaraannya terpenuhi agar tetap bisa beraktivitas.

ADVERTISEMENT

Di tingkat pengecer, hargaBBM dijual bervariatif. Warung kelontong alias warung Bugis yang memiliki dispenser bak diSPBU misalnya, menjualPertalite mulai dari harga Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per liter.

Tidak sedikit pula warung Bugis yang memiliki stok Pertamax dan dijual menggunakan dispenser bak di SPBU. Untuk jenis ini, harganya dibanderol jauh lebih mahal yakni Rp 20 ribu per liter.

Ada juga pengecer yang menjualnya dengan menggunakan botol bekas air mineral berukuran sekitar 1,5 liter. Harganya berbeda-beda, mulai Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per botol untuk jenis Pertalite.

Pertamax Eceran Dijual Rp 20 Ribu/Liter

Salah seorang pengendara, Abadi mengaku terpaksa mengisi BBM jenis Pertamax di tingkat pengecer karena kesulitan mendapatkan stok di SPBU. Kondisi itu terjadi pada penjual eceran di Jalan Asal Mula, Kecamatan Tamalanrea, Makassar.

"Mau bagaimana kita ini kalau bensin motor sudah mau habis, nanti mogok, kita mendorong. Di SPBU juga antrenya sudah panjang sekali. Itupun belum tentu kita antre bisa kebagian stok," kata Abadi kepada detikSulsel, Jumat (11/9/2026).

Abadi menuturkan, kondisi itu memaksa dirinya mengisi BBM di tingkat pengecer. Sekalipun dia harus merogoh kocek lebih besar ketimbang mengisi BBM di SPBU.

"Saya isi di pertamini, tapi bukan Pertalite, dia jualnya Pertamax. Itu Pertamax dijual harga Rp 20 ribu per liter. Mahal tapi tidak tahu mau bagaimana lagi," cetusnya.

Dia berharap kondisi ini bisa segera kembali stabil. Sebab susahnya mendapatkan BBM sangat memengaruhi aktivitasnya termasuk masyarakat lain yang menggunakan kendaraan pribadi.

"Kita ini pakai kendaraan dan mengisi BBM karena memang sudah mau habis. Jadi kalau susah dapat BBM-nya pasti mengganggu pekerjaan kita karena mobilitas jadi berkurang," ucap Abadi.

Warga Bantah Panic Buying

Pengendara lain bernama Dg Naba yang ditemui detikSulsel di SPBU Pengayoman, Jumat (11/9), mengaku ikut antre karena murni kehabisan bensin. Dia khawatir melanjutkan perjalanan dan motornya mogok di tengah jalan.

"Saya tidakji, tidak panik saya, cuma untuk isi kebutuhan," kata Dg Naba di lokasi.

Dg Naba lantas memperlihatkan kondisi BBM motornya yang sudah menipis. Dia sekali lagi menegaskan datang ke SPBU karena hanya untuk memenuhi kebutuhan BBM kendaraannya.

"Bukanlah, ini saja tinggal sedikit. Tapi tidak tahu kenapa bisa antre begini, bukan panik ini," ujarnya.

Pengendara motor lainnya, Saldi juga menyampaikan alasan ikut mengantre karena memang kehabisan bensin. Dirinya menampik jika disebut panic buying.

"Bukan, ini karena memang habis, ini sudah merah. Jadi karena memang habis. Yang jelas bukan karena panik, tapi habis," kata Saldi.

Hal senada juga disampaikan pengendara motor bernama Rifqi. Ia mengatakan tidak wajar jika pengendara motor disebut panic buying dengan kondisi antrean sepanjang ini.

"Saya rasa bukan, kalau panik ini sepeda motor tidak sampai begini antreannya. Kalau mobil mungkin, karena kan banyak tampungannya untuk diisi. Kalau motor kan kebutuhan hari-hari 4 sampai 5 liter," ucapnya.

Pembelian Pertalite Dibatasi

Pembelian BBM bersubsidi jenis Pertalite belakangan dibatasi di sejumlah SPBU di Kota Makassar. Setiap pengisian untuk motor maksimal hanya Rp 50 ribu, sementara mobil maksimal Rp 300 ribu.

Pembatasan ini terjadi di SPBU Urip Sumoharjo tepatnya depan kantor Gubernur Sulsel. Petugas SPBU membatasi pembelian Pertalite untuk pengendara yang sudah antre berjam-jam.

"Iye Rp 50 ribu ji bisa diisi (motor). Kalau mobil Rp 300 ribu," kata salah satu petugas SPBU Urip, Jumat (11/9).

Petugas SPBU tersebut mengaku pembatasan ini bukan berlaku hari ini saja. Menurutnya, pembatasan dilakukan berdasarkan perintah dari atasannya.

"Sudah 3 hari ini (berlaku pembatasan)," ujarnya.

DiLuwu Utara,

pembatasan pembelian Pertalite di SPBU juga diterapkan. Pembatasan ini tertuang dalam surat edaran Bupati Luwu Utara yang ditujukan kepada seluruh SPBU di wilayahnya. Isinya, motor hanya boleh mengisi maksimal Rp 35 ribu, sementara mobil cuma Rp 200 ribu.

"Kita keluarkan surat edaran tersebut dengan tujuan agar pelayanan pertalite menjadi lebih merata," kata Bupati Lutra, Andi Abdullah Rahim kepada detikSulsel, Jumat (11/9).

Surat edaran tersebut diterbitkan pada Rabu (9/9). Andi Rahim mengatakan keputusan itu diambil usai Kepala Dinas Perdagangan Lutra, Akram Risa melakukan koordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga.

"Keputusan tersebut tentunya lahir usai kita lakukan komunikasi dengan pertamina. Setelah itu barulah kita mengarahkan semua SPBU untuk menaati keputusan tersebut," ujarnya.

Pertamina Klaim Stok BBM Aman dan Mencukupi

Terkait kondisi ini, Pertamina menyebut stok BBM aman dan mencukupi. Hanya saja disebut sedang ada kepanikan dari masyarakat dalam membeli BBM alias panic buying.

"Kalau untuk stok sendiri di kami sampai saat ini dalam kondisi yang aman dan mencukupi," ujar Pjs Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo kepada detikSulsel, Kamis (10/9).

Menurut Okky, ada kecenderungan masyarakat terpengaruh informasi dari media sosial terkait kelangkaan BBM. Walhasil, masyarakat berbondong-bondong membeli BBM meski harus mengantre di SPBU karena khawatir tidak kebagian.

"Iya, yang kami lihat seperti itu (panic buying) karena banyak akun media sosial (menyebut) BBM langka. Masyarakat kan mungkin melihat di SPBU ini antre, nanti saya tidak kebagian, jadi mereka panik. Karena kalau masyarakat panik, berapa pun yang akan kami stok di SPBU juga akan tetap kurang," papar Okky.

"Kalau orang panik yang tadinya mungkin Rp 100 ribu cukup, kalau diisi Rp 200-300 ribu juga nggak cukup, karena semua orang panik nih. Takutnya nanti kehabisan, jadi semuanya pada ngisi," imbuhnya.

Anggota DPRD Sulsel Bantah BBM Langka

Sementara itu, anggota DPRD Sulsel juga mengklaim antrean BBM bersubsidi di sejumlah SPBU Kota Makassar dipicu fenomena panic buying alias kepanikan berujung pembelian secara berlebihan oleh warga. Legislator membantah adanya kelangkaan BBM di setiap SPBU.

Hal itu terungkap usai rombongan Komisi D DPRD Sulsel meninjau SPBU di Jalan AP Pettarani Makassar, Rabu (9/9). Informasi yang diterima legislator dari Pertamina, suplai BBM bersubsidi disebut masih dalam kondisi aman.

"Stok kita aman dan itu sudah ada penjelasan dari Pertamina. Jadi kalau informasi BBM langka itu tidak benar, hanya ada kepanikan masyarakat," tegas Ketua Komisi D DPRD Sulsel Kadir Halid kepada detikSulsel.

Kondisi itu turut ditemukan di SPBU depan pintu I Universitas Hasanuddin (Unhas), Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar. Kadir menuturkan, pasokan solar bersubsidi di SPBU yang didatangi di Makassar relatif masih terkendali.

"Setelah kita melakukan kunjungan suplai untuk solar yang kita kunjungi itu aman. Karena setelah kita lihat stoknya tadi siang masih ada sekitar 11 ribu liter, kemudian di depan Unhas itu masih ada 14 ribu liter," paparnya.

Kendati begitu, dia tidak menampik adanya antrean kendaraan yang masih terjadi di SPBU. Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah keberadaan truk dari luar daerah yang fokus mengisi BBM di Makassar.

"Artinya suplai lancar selama ini, tapi kenapa terjadi antrean panjang, karena kendaraan-kendaraan dari luar Sulsel yang masuk Makassar itu tujuan akhirnya untuk mengisi BBM solar," ungkapnya.

Gubernur Sulsel Soroti 4 Nozzle Dioperasikan 1 Operator

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman turut melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada SPBU di Kota Makassar buntut antrean panjang yang kian parah ini. Andi Sudirman menemukan ada empat nozzle SPBU namun hanya dioperasikan satu operator sehingga dinilai turut memicu antrean kendaraan yang hendak mengisi BBM.

Kondisi itu ditemukan di SPBU 74.902.31, Jalan AP Pettarani, Kelurahan Buakana, Kecamatan Rappocini, Kamis (10/9). Andi Sudirman langsung memantau proses pengisian BBM, terutama Pertalite untuk kendaraan roda dua.

Saat sidak berlangsung, antrean kendaraan terlihat cukup padat hingga mengular sampai ke jalan. Dua barisan kendaraan tampak mengantre pada masing-masing sisi nozzle pengisian Pertalite untuk sepeda motor. Andi Sudirman turut mengecek kondisi operasional nozzle serta situasi antrean di SPBU.

"Bagaimana orang tidak antre kalau 4 Nozzle pengisian hanya 1 operator melayani. Kemudian adanya modifikasi tangki dan kendaraan bolak balik isi BBM," ungkap Andi Sudirman.

Andi Sudirman menegaskan, kondisi antrean di SPBU perlu ditelusuri secara menyeluruh agar dapat diketahui penyebabnya. Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian untuk melakukan pengecekan di sejumlah SPBU.

"Kami juga berkoordinasi Bapak Kapolda Sulsel dan Pangdam XIV Hasanuddin terkait pendampingan kepolisian dan TNI terhadap oknum-oknum yang memanfaatkan situasi saat ini. Tentu kami akan kawal tertib pengisian sekaligus pantau jumlah stok," pungkasnya.

Walkot Makassar Juga Soroti Nozzle SPBU

Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin juga meminta PT Pertamina Regional Sulawesi untuk mengaktifkan seluruh nozzle di SPBU untuk mengurai antrean panjang kendaraan yang kian parah. Selain itu, kendaraan besar seperti truk hingga bus diatur jadwal pengisiannya agar tidak menimbulkan kemacetan di jalanan.

Permintaan tersebut disampaikan Appi saat mendatangi Kantor PT Pertamina Regional Sulawesi di Jalan Garuda, Makassar, Jumat (11/9). Kedatangannya merupakan respons atas keluhan masyarakat terkait antrean panjang BBM yang kian parah.

"Tujuan kami ke sini bagaimana solusi. Tolong pihak Pertamina dan pengelola SPBU carikan jalan keluar. Jangan masyarakat umum yang jadi korban," tegas Appi.

Menurutnya, penyelesaian persoalan antrean tidak cukup hanya dengan memastikan ketersediaan stok BBM. Pelayanan di SPBU juga perlu diperbaiki agar kendaraan dapat dilayani lebih cepat dan tertib.

Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah mengaktifkan seluruh nozzle yang tersedia serta menambah jumlah petugas operator. Appi mencontohkan, terdapat SPBU yang memiliki empat dispenser, namun hanya dilayani satu orang petugas.

"Antrean mengular karena keterbatasan petugas, misalnya empat dispenser di SPBU hanya dijaga oleh satu orang. Perlu penambahan petugas agar setiap nozzle aktif agar memotong waktu tunggu kendaraan," tuturnya.

Selain mengoptimalkan nozzle, Appi meminta adanya pengaturan kendaraan berdasarkan jenis dan kebutuhan pengisian BBM. Kendaraan pribadi, kendaraan ekspedisi, hingga bus, menurutnya, perlu memiliki alur pengisian yang lebih teratur.

"Jenis kendaraan, alur pengisian, cluster untuk menghindari antrean, termasuk waktu kendaraan masuk untuk pengisian. Ini harus diatur jadwalnya," tambahnya.

Ia meminta Pertamina memberikan penjelasan mengenai kondisi yang sebenarnya terjadi, termasuk apakah persoalan tersebut berkaitan dengan distribusi, ketersediaan stok, perubahan kebijakan BBM atau faktor lainnya. Menurut Appi, informasi yang jelas diperlukan agar pemerintah kota dapat membantu Pertamina melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

"Kami ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi. Apakah ini persoalan distribusi atau apa, supaya kami juga bisa turun ke masyarakat untuk menyosialisasikan ini dengan baik," katanya.

Halaman 2 dari 8


Simak Video "Video: Cekcok gegara Antrean SPBU, Sopir Angkot Tewas Ditembak Pemobil"
[Gambas:Video 20detik] (asm/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads