Suasana mencekam kembali menyelimuti kawasan permukiman yang menjadi lahan sengketa di Jalan Ujung Bori, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Polemik sengketa lahan berkepanjangan antara warga dan developer berujung pecahnya tawuran sebanyak dua kali di lokasi.
Bentrokan tepatnya terjadi di kawasan Perumahan Aditarina atau eks kompleks Kodam, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala. Kericuhan pecah saat PT Aditarina Arispratama selaku pengembang alias developer dan warga sama-sama mengklaim memiliki hak atas tanah pada objek sengketa.
Kericuhan pertama kali terjadi saat petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN) datang melakukan konstatering di lokasi pada Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 09.30 Wita. Kedatangan petugas BPN yang dikawal polisi lantas mendapat penolakan dari warga yang berujung penyerangan menggunakan batu, petasan dan busur panah.
"Kami ada permohonan dari BPN untuk melakukan konstatering, yaitu pemetaan kondisi tanah wilayah itu ya pengukuranlah dengan menggunakan satelit itu dilakukan di wilayah PT Aditarina," ujar Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana kepada wartawan, Selasa (21/7) lalu.
Aparat kepolisian melepaskan tembakan gas air mata hingga dibalas massa dengan melemparkan batu ke arah petugas. Petugas pun berhasil masuk ke objek sengketa menggunakan mobil taktis polisi untuk melakukan pengukuran.
Kericuhan turut mengakibatkan Jalan Ujung Bori dan Jalan Borong Raya Makassar diblokade massa. Warga mengira kedatangan petugas BPN bersama aparat kepolisian untuk melakukan eksekusi lahan pada objek sengketa di kawasan Perumahan Aditarina.
"Ada masyarakat yang memang belum memahami tentang konstatering. Mereka berpikir bahwa ini adalah eksekusi tapi ini bukan ya, ini bukan eksekusi, ini hanya pengukuran saja ya," jelas Arya.
Tawuran Pecah Lagi Saat Ormas Pasang Plang
Sebulan lebih berselang, kericuhan kembali terjadi di Jalan Ujung Bori Makassar pada Rabu (9/9) sekitar pukul 11.00 Wita. Tawuran pecah saat organisasi kemasyarakatan (ormas) datang memasang papan bicara alias plang yang mengklaim kepemilikan lahan di objek sengketa kawasan Perumahan Aditarina.
"Tadi ada ormas yang mau masuk ke dalam, mungkin membantu pemasangan papan bicara. Namun situasi tidak memungkinkan sehingga ada penolakan dari warga," ungkap Arya Perdana kepada wartawan, Rabu (9/9).
Tawuran antara dua kubu menggunakan batu, petasan, busur panah dan bom molotov. Perang kelompok tersebut membuat Jalan Ujung Bori Makassar diblokade hingga motor dilaporkan terbakar di tengah jalan.
"Jadi memang sempat ada pelemparan panah busur, batu dan sebagainya, bahkan ada kendaraan yang terbakar tadi," tuturnya.
Polisi yang turun membubarkan tawuran kembali mendapat perlawanan dari massa yang melempari batu ke arah petugas. Situasi memanas saat polisi melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa.
Arya turun langsung memimpin pembubaran massa hingga berupaya menenangkan warga yang bertahan di objek sengketa. Aparat yang melakukan penyisiran juga menemukan busur panah, petasan hingga bom molotov.
"Ini jadi ada bentrokan. Kita jaga ketertiban, kami upayakan agar bisa masuk ke dalam jangan sampai ada bentrokan agar situasi kondusif," ucap Arya.
Arya meminta agar kedua belah pihak yang bertikai bisa menahan diri. Dia menegaskan, segala tindakan atau kebijakan di objek lahan sengketa harus memiliki dasar hukum yang jelas dan mengacu putusan pengadilan.
"Jadi tetap sebenarnya dasarnya dari pengadilan. Kita hanya membantu kalau ada dasar yang jelas. Kalau dasarnya masih belum, kita menunggu," imbuh Arya.
Sementara itu, warga setempat, Husni mengklaim tawuran pecah setelah oknum ormas diduga menyerang lebih dulu. Sekelompok orang datang menyerang menggunakan busur hingga menggunakan petasan.
"Mereka datang mereka menyerang menggunakan busur, ada menggunakan petasan dan segala macam alat lainnya," ucap Husni kepada detikSulsel di lokasi.
Husni mengatakan, sejumlah warga dilaporkan luka akibat terkena busur panah. Satu bayi juga dilarikan ke rumah sakit (RS) lantaran terdampak gas air mata saat massa yang terlibat tawuran dibubarkan.
"Kalau warga kompleks Kodam ada sekitar 5 yang kena busur, kemudian ada 1 bayi kena gas air mata dan baru saja dilarikan ke (RS) Hermina," beber Husni.
Simak Video "Video: Di Balik Penolakan Pemakaman Jenazah di Sidoarjo "
(sar/sar)