Kalimantan Utara

7 Fakta Terungkap dari Ulah Bejat Pria Kaltara Cabuli 48 Santri

Tim detikSulsel - detikSulsel
Jumat, 01 Apr 2022 09:00 WIB
Ilustrasi kekerasan anak
Ilustrasi 7 fakta pemuda Kaltara cabuli 48 santri (Foto: iStock)
Tarakan -

Ulah bejat pemuda berinisial RD (22) yang mencabuli 48 santri di Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) semakin tersingkap. Pelaku yang beraksi di sebuah ruangan di samping masjid terekam kamera pengawas CCTV.

RD membuat geger karena aksinya itu sudah terjadi sejak 2016 silam. RD mengakui memiliki banyak korban sampai-sampai lupa dengan jumlah persisnya.

Dirangkum detikcom, berikut 7 fakta ulah bejat RD mencabuli 48 santri:


1. RD Warga Sekitar Ponpes yang Dipercaya Mengawasi Santri

Untuk diketahui, RD mencabuli anak laki-laki di Pondok Pesantren (Ponpes) di Kecamatan Tarakan Utara. RD sebenarnya merupakan warga sekitar yang kerap beribadah di masjid tak jauh dari Ponpes para korban.

RD juga disebut aktif mengikuti pengajian di pesantren. RD bahkan mendapatkan kepercayaan pihak Ponpes untuk mengawasi santri.

"Memang secara ilmu agama pelaku ini memumpuni, jadi dia sering ikut di setiap kegiatan Ponpres, dan dia (RD) dipercayai untuk mengawasi anak-anak," ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Tarakan Maryam saat dihubungi detikcom, Rabu (30/3/2022).

2. RD Cabuli Santri saat Tidur

Karena dipercaya melakukan pengawasan, RD kemudian ikut dalam kegiatan sehari-hari santri. Khusus pada akhir pekan, RD boleh menginap di pesantren.

Karena menginap, RD tidur bersama-sama santri. Pada malam hari, RD bangun untuk melancarkan aksi bejatnya saat para santri tertidur.

"Jadi saat korban tidur (pelaku melakukan pencabulan). Itu dilakukan pada Sabtu dan Minggu saat para santri tidur di Ponpes," ujar Kapolsek Tarakan Utara AKP Kistaya saat dihubungi detikcom, Selasa (29/3/2022).

3. RD Akui Cabuli Banyak Santri Sampai Lupa Jumlah Korban

Dari hasil pemeriksaan polisi, RD mengakui jumlah korbannya memang banyak. Pasalnya sudah bertahun-tahun RD melancarkan aksinya.

"Pengakuan dari pelaku memang banyak melakukan pelecehan seksual, terhitung sejak 2016, pelaku sendiri tak tahu jumlah anak yang dilecehkan karena banyak," terang AKP Kistaya.

Sementara pihak kepolisian hanya mengungkap 5 orang korban. Pasalnya hanya ada 5 korban yang melapor saat itu.

"Yang jelas dari kami hanya 5 korban yang melapor," katanya.

4. RD Terungkap Cabuli 48 Santri

Setelah RD mengaku lupa jumlah korbannya, Dinas DP3APPKB Kota Tarakan turun tangan melakukan asesmen. Hasilnya, santri korban pencabulan RD ternyata berjumlah 48 orang.

Dinas DP3APPKB mengungkapkan sudah melakukan asesmen terhadap 200 santri di pesantren. Hasilnya ada 48 santri yang teridentifikasi sebagai korban.

"Dari 200 santri yang ada di pesantren tersebut, ada 48 anak yang mengaku menjadi korban dari pelaku," ujar Kepala Dinas DP3APPKB Kota Tarakan, Maryam kepada detikcom.

5. Lima Santri Dicabuli Berkali-kali hingga Trauma Berat

Dari 48 korban, 5 di antaranya mengalami trauma berat. Maryam mengaku pihaknya memberikan atensi khusus.

Menurut dia, 5 santri sampai trauma berat karena dicabuli berkali-kali. Setidaknya dua sampai tiga kali.

"Jadi dari 48 anak ini, ada 5 anak yang mengaku dilecehkan berulang-ulang oleh korban, dan ada yang 2 sampai 3 kali, dan ada juga yang hanya sekali," ungkapnya.

"Untuk lima anak ini memang perlu asesmen secara privat, lantaran kelima santri ini dilecehkan berulang-ulang oleh pelaku dan saat ini mengalami trauma berat," tuturnya.

6. Pelaku Beraksi dengan Modus Yakinkan Korban Agar Tak Sakit saat Disunat

Sejumlah aksi pencabulan yang dilakukan RD ada yang tertangkap basah oleh korban. Tapi RD meyakinkan korban hal itu dilakukannya agar korban tak kesakitan saat disunat.

"Rata-rata para korban diiming-iming pelaku, jika sunat tidak merasakan sakit," kata Maryam.

Menurut Maryam, korban yang merupakan anak-anak kebanyakan tidak mengetahui pengakuan agar tak sakit saat disunat itu hanya akal-akalan RD.

"Karena korban masih belum mengerti mereka mengiyakan," kata Maryam.

7. Pelaku Terekam CCTV Cabuli Korban di Samping Masjid

Polisi mengantongi rekaman kamera pengawas atau CCTV pemuda RD mencabuli santri. Rekaman CCTV menunjukkan aksi bejat RD mencabuli santri yang sedang tidur di sebuah ruangan samping masjid.

"Dari alat bukti rekaman pelaku terlihat gonta-ganti melakukan pelecehan kepada santri yang sedang tidur," ungkap Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia saat dihubungi detikcom, Kamis (31/3).

Seperti dilihat dalam rekaman CCTV durasi 3 menit, RD terlihat mendatangi satu per satu santri dan melakukan aksinya pada malam hari. Menurut Taufik, perbuatan RD dilakukan di sebuah ruangan yang letaknya bersebelahan dengan Masjid.

"Pelaku terlihat mendatangi korban satu persatu. Bukti rekaman itu berada di ruangan bersebelahan dengan masjid," ujarnya.

Seperti diketahui, kasus pencabulan ini terungkap setelah salah satu orang tua korban, melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tarakan Utara pada Senin (7/3) lalu. Usai menerima laporan polisi langsung mengamankan RD di kediamannya.

RD kini telah ditahan di Polsek Tarakan Utara, atas perbuatannya RD dijerat pasal 82 UU Perlindungan Anak karena dimana mayoritas korbannya ada yang di bawah umur dengan ancaman di atas 5 tahun penjara.



Simak Video "Modus Mau Isi Tenaga Dalam, Pemilik Ponpes di Bandung Tega Cabuli Santri"
[Gambas:Video 20detik]
(hmw/nvl)