Cabuli 48 Santri, Pemuda Kaltara Iming-imingi Korban Tak Sakit saat Disunat

Muhammad Budi Kurniawan - detikSulsel
Rabu, 30 Mar 2022 15:59 WIB
Ilustrasi kekerasan anak Bullying
Foto: Ilustrasi oleh Edi Wahyono
Tarakan -

Pemuda inisial RD (22) pelaku pencabulan santri di Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) melakukan aksinya dengan mengiming-imingi korbannya. RD mencabuli korban dengan cara meyakinkan korban tidak akan merasa sakit saat menjalani sunat.

"Rata-rata para korban diiming-iming pelaku, jika sunat tidak merasakan sakit. Karena korban masih belum mengerti mereka mengiyakan," ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Tarakan Maryam saat dihubungi detikcom, Rabu (30/3/2022).

Dari hasil pendalaman asesmen, Maryam menerangkan pelaku RD bukan penghuni pondok pesantren (ponspes). Namun RD kerap ikut dalam kegiatan ponpes sehingga dibiarkan masuk ke dalam lingkungan santri dan RD bahkan diberi kepercayaan oleh pihak ponpes untuk mengawasi para santri.


"Memang secara ilmu agama pelaku ini memumpuni, jadi dia sering ikut di setiap kegiatan Ponpres, dan dia (RD) dipercayai untuk mengawasi anak-anak," ujarnya.

Saat ini DP3APPKB Tarakan berupaya melakukan pendampingan kepada 5 santri yang mengalami trauma berat. Sementara untuk santri yang mengalami trauma ringan dan sedang akan diterapi secara berkelompok.

Maryam berharap para orang tua yang anaknya menjadi korban pencabulan RD dapat melapor ke pihak PPA. Tujuannya agar para korban dapat memperbaiki psikologisnya pascapelecehan.

"Pemerintah sangat mengharapkan orang tua jangan malu untuk melapor, karena setiap korban harus mendapatkan terapi, agar hal serupa tak terulang, karena para pelaku pelecehan seksual kebanyakan dulunya merupakan korban," ucapnya.

"Kami juga meminta kepada pihak sekolah maupun pesantren agar dapat melakukan rekrutmen kepada pengajar tidak hanya melihat secara keilmuan, tapi juga pisokologi para pengajar," imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, DP3APPKB Kota Tarakan turut buka suara terkait kasus pemuda berinisial RD (22) mencabuli banyak santri sampai lupa jumlah korbannya. Mereka mencatat korban pencabulan RD total 48 santri yang mana lima di antaranya trauma berat karena dicabuli berkali-kali.

"Dari 200 santri yang ada di pesantren tersebut, ada 48 anak yang mengaku menjadi korban dari pelaku," ujar Kepala DP3APPKB Kota Tarakan Maryam saat dihubungi detikcom, Rabu (30/3).

Maryam mengatakan pihaknya sendiri menerima laporan dari 9 korban yang didampingi orang tua. Dari asesmen yang dilakukan, Maryam menyebut para santri yang menjadi korban RD mengaku dicabuli hingga berulang-ulang.

"Jadi dari 48 anak ini, ada 5 anak yang mengaku dilecehkan berulang-ulang oleh korban, dan ada yang 2 sampai 3 kali, dan ada juga yang hanya sekali," ungkapnya.

Maryam mengatakan, lima orang santri korban pencabulan mengalami trauma berat. Pihak terkait masih melakukan pendampingan khusus terhadap lima korban tersebut.

"Untuk lima anak ini memang perlu asesmen secara privat, lantaran kelima santri ini dilecehkan berulang-ulang oleh pelaku dan saat ini mengalami trauma berat," tuturnya.



Simak Video "Bejat! Pimpinan Ponpes di Kuningan Cabuli 8 Santrinya"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/hmw)