Forum Wakil Rektor (Warek) Bidang Akademik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia membahas integritas penerimaan mahasiswa baru (PMB) hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Universitas Hasanuddin (Unhas). Forum tersebut juga membahas sejumlah isu strategis akademik yang akan dirumuskan menjadi rekomendasi kepada Majelis Rektor PTN se-Indonesia.
Pertemuan Forum Warek Bidang Akademik PTN se-Indonesia tersebut digelar di Hotel Unhas and Convention, Makassar, Kamis (17/9/2026). Ketua Panitia Forum Warek Bidang Akademik Prof M Ruslin mengatakan terdapat 4 isu utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
"Jadi di Indonesia, di Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia itu ada 75 Perguruan Tinggi Negeri. Dan didalamnya ada Forum Wakil Rektor Bidang Akademik," kata Ruslin.
Ruslin mengatakan nomenklatur wakil rektor bidang akademik di setiap PTN berbeda, ada yang merangkap bidang kemahasiswaan dan ada pula yang khusus menangani akademik. Namun forum tersebut menjadi wadah bagi para wakil rektor bidang akademik untuk membahas persoalan bersama.
"Sebenarnya sudah ada beberapa pertemuan sebelumnya dan ini forum di tahun 2026 untuk mengumpulkan para Wakil Rektor untuk membicarakan isu-isu yang juga diberikan dari Majelis Forum Rektor se-Indonesia untuk kita bahas," ujarnya.
Dia menyebut 4 isu yang dibahas yakni indikator kinerja utama terkait efisiensi edukasi dan student success, proporsi daya tampung SNBP, SNBT dan mandiri, bobot penilaian serta standar kompetensi lulusan, dan integritas seleksi penerimaan mahasiswa baru. Hasil pembahasan nantinya menjadi rekomendasi dan masukan kepada Majelis Forum Rektor sebelum diteruskan ke Kementerian Dikti Saintek.
Isu integritas PMB juga menjadi salah satu perhatian karena masih terdapat celah kecurangan dalam berbagai jalur seleksi. Forum tersebut diharapkan dapat menghasilkan konsep mitigasi yang dapat diterapkan secara nasional.
"Kemudian yang keempat tentang integritas seleksi penerimaan masa baru. Ini juga selalu menjadi isu di tiap tahun penerimaan masa baru," kata Ruslin.
Ruslin mengatakan sejumlah praktik mitigasi telah dilakukan dalam pelaksanaan seleksi mahasiswa baru. Salah satunya melalui pengaturan jadwal ujian serta pemanfaatan teknologi untuk mengidentifikasi peserta.
"Ini kemarin dari SNPMB yang 2026 ini kan kita melakukan mitigasi termasuk ada teman best practice menunjukkan face recognition itu yang salah satu mitigasi cuma ini kan belum seragam semua nah makanya ini kita ingin ketemu supaya sama-sama memakai menggunakan sistem yang lebih baik untuk mengurangi, memitigasi," jelasnya.
Dia juga menyinggung pelibatan aparat penegak hukum (APH) dalam mengantisipasi kecurangan PMB. Ruslin menyebut pengalaman penanganan kasus di UNESA dan Unhas menjadi bagian dari pembelajaran dalam memperkuat integritas seleksi.
"Di forum penyelenggara SNPMB kemarin di tahun 2025 itu dan termasuk kan ada panlok ya panitia lokal hampir semua juga ini kami dilibatkan sebagai panitia lokal itu berkaitan sama dengan APH," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya Imam Santoso menilai pertemuan tersebut strategis karena membahas penguatan akademik sejak proses rekrutmen mahasiswa baru hingga mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, integritas menjadi salah satu kunci dalam memastikan tata kelola akademik berjalan baik.
"Jadi kami dari kepimpinan forum wakil rektor bidang akademik memandang pertemuan pada saat ini sangat strategis dan berhasil menjadi tuan rumah dengan tema-tema yang menurut saya sangat krusial dan sangat strategis untuk penguatan akademik dari sisi rekrutmen seleksi mahasiswa baru," kata Imam.
Imam mengatakan pembahasan juga mencakup tata kelola yang berkaitan dengan AI serta pengelolaan mahasiswa sejak seleksi hingga lulus tepat waktu. Menurutnya, seluruh proses tersebut harus didukung budaya mutu dan integritas.
"Dan menuju ke sana kata kuncinya salah satu adalah integritas. Jadi tema ini menjadi sangat kuat mengemuka sehingga bagaimana kita melakukan proses seleksi dengan sangat baik tanpa kecurangan, berintegritas, kemudian sistem tata kelola mutunya berjalan dengan bagus," ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Nusa Cendana (Undana) Annytha I.R. Detha mengatakan AI juga menjadi bagian dari pembahasan forum meski tidak ditempatkan sebagai klaster khusus. Dia menilai AI merupakan teknologi yang tidak mungkin dihindari sehingga perguruan tinggi perlu mengatur pemanfaatannya dalam proses pembelajaran.
"Kita memandang forum akademik memandang nanti juga menjadi salah satu tema diskusi kita juga walaupun tidak secara dalam kita diskusikan sebagai klaster khusus. AI itu adalah sebagai tools yang tidak mungkin dihindari karena itu kita tidak mungkin mencegah namun kita harus mengatur sedemikian rupa," kata Annytha.
Menurut Annytha, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu belajar dan penggunaannya perlu diikuti sistem evaluasi yang memastikan mahasiswa tetap menjalani proses pembelajaran. Dia mengatakan forum tersebut menjadi ruang untuk membangun sinergi terkait AI, kecurangan, dan isu akademik lainnya.
"Intinya dalam pertemuan ini kita akan membentuk pola sinergi dalam satu bentuk konkret seperti tadi misalnya AI ataupun isu-isu yang memang perlu dibahas secara mendalam di bagian akademik termasuk juga kecurangan dan di situ juga kita saling memberikan dukungan yang kemudian akan menguatkan kita dalam jejaring wakil rektor bidang akademik," jelasnya.
Simak Video "Video AI Bikin Konsumsi Air Dunia Melejit: Dampaknya Bisa Kekeringan!"
(ata/hsr)