Penggunaan Dana Donasi Disorot, ACT di Sulsel Mengaku Kelola Rp 1 M

Penggunaan Dana Donasi Disorot, ACT di Sulsel Mengaku Kelola Rp 1 M

Muhammad Taufiqqurahman - detikSulsel
Selasa, 05 Jul 2022 22:31 WIB
Logo ACT.
Foto: Logo ACT. (Istimewa)
Makassar -

Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Cabang Sulawesi Selatan (Sulsel) mengungkap mengelola dana umat Rp 1 miliar yang merupakan donasi dari masyarakat. Lembaga filantropi ini tetap berharap donasi untuk disalurkan kepada yang membutuhkan meski saat ini ACT diterpa isu dugaan penyalahgunaan dana untuk aktivitas terlarang.

"Tidak menentu sebenarnya (donasi yang diterima). Sekarang kan orang bersedekah lagi surut. Beda kalau misalnya ada bencana," tutur Kepala Cabang ACT Sulsel Maskur Muhammad saat dikonfirmasi, Selasa (5/7/2022).

Pihaknya menambahkan donasi yang masuk ke ACT Sulsel tidak selalu dalam berbentuk uang. Adapula sumbangan dalam bentuk barang.


"Secara gambaran ada yang masuk dalam bentuk barang dan disalurkan, dan dalam bentuk donasi pun ada tetapi tidak seberapa. Sekarang posisinya di atas Rp 1 miliar," ungkapnya.

Maskur menjelaskan saat ini ada 8 orang representasi ACT di Sulsel dengan sekitar 2.000-an relawan yang tersebar di 24 Kabupaten/kota. Selama ini pihaknya bekerja berdasarkan program yang terbagi dalam program pusat dan kemandirian.

Program kemandirian yang dicetuskan oleh ACT Sulsel seperti program sedekah subuh dan lainnya. Untuk program pusat didasari oleh permintaan donatur yang memfokuskan bantuannya ke daerah tertentu seperti Sulsel.

"Misalnya kayak ada mitra dari Jakarta. Saya mau bangun renovasi sekolah atau PAUD difokuskan di Pinrang, seperti itu biasanya," terang Maskur.

Untuk program pusat, pihak ACT Sulsel fungsinya pada proses implementasi agar program dari kantor pusat terwujud di daerah.

"Misalkan mau bantu implementasi yang ada di Sulsel, langsung disampaikan kita mau implementasi di daerah ini. Ada program minta tolong teman-teman Sulsel jalankan implementasinya," lanjutnya.

Maskur pun enggan menanggai terlalu jauh terkait indikasi penyalahgunaan dana ACT yang diduga untuk membiayai aktivitas terlarang. Pihaknya berdalih polemik ini sudah diklarifikasi pimpinan ACT pada konferensi pers di Jakarta Selatan, Senin (4/7).

"Harapan kami di Sulsel, kebaikan itu tidak akan pernah berhenti. Kami di ACT akan selalu bersama dengan umat dan pastinya akan tetap meneruskan amanah umat yang ada di Sulsel," tegasnya.

Dirinya mengklaim sejak isu yang menerpa ACT, belum ada satu pun pihak yang meminta pengembalian dana donasinya. Maskur juga telah melakukan klarifikasi kepada para donatur lainnya soal ini.

"Alhamdulillah selama isu ini, banyak yang bertanya, klarifikasi. Kami beritahu Insya Allah ini ujian kami di ACT. Mohon doanya dan semoga ini bisa terselesaikan," tutup dia.

Sebelumnya diberitakan, ACT diduga menggunakan dana donasi untuk aktivitas terlarang sesuai analisis sementara PPATK. Laporan itu telah menyerahkan sebagian hasil analisisnya ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88 Antiteror Polri.

"Transaksi mengindikasikan demikian (penyalahgunaan). Indikasi kepentingan pribadi dan terkait dengan dugaan aktivitas terlarang. Ke Densus, BNPT ya (laporan diserahkan)," ujar Ketua PPTAK Ivan Yustiavandana, Ivan seperti dilansir dari detikNews, Senin (4/7).

Pihak ACT merespons pemberitaan terkait dugaan peyelewengan dana donasi dengan meminta maaf kepada publik. Pemberitaan di majalah Tempo ini memunculkan tagar #AksiCepatTilep dan #JanganPercayaACT.

"Permohonan maaf yang luar biasa sebesar-besarnya kepada masyarakat mungkin beberapa masyarakat kurang nyaman terhadap pemberitaan yang terjadi saat ini," kata Presiden ACT Ibnu Khajar, dalam konferensi pers yang digelar di kantor ACT, Jakarta Selatan dilansir dari detikNews Senin (4/7).

Khajar menerangkan ACT terdaftar di Kementerian Sosial (Kemensos) sebagai lembaga kemanusiaan bukan lembaga amil zakat. Bahkan diklaimnya ACT sudah berkiprah di 47 lebih negara.



Simak Video "Izin Pengumpulan Uang dan Barang ACT Dicabut Kemensos"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/tau)