5 Penderitaan Warga Rampi, Protes Jalan Berujung Sindiran Gubernur ASS

Al Khoriah Etiek Nugraha - detikSulsel
Minggu, 15 Mei 2022 07:00 WIB
Pasien di Kecamatan Rampi, Luwu Utara harus ditandu karena tidak ambulans.
Foto: Akses darat Rampi-Masamba. (Bakrie-detikcom)
Luwu Utara -

Warga di Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel) protes atas jalanan di wilayahnya rusak parah dan mengancam pindah ke Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Ancaman ini kemudian disindir Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman (ASS) yang meminta warga Rampi keluar dari Republik Indonesia (RI).

Protes yang dilayangkan warga Rampi bukan tanpa alasan. Mereka mengeluhkan hingga kini tidak pernah merasakan jalanan yang layak menuju wilayahnya sejak Indonesia merdeka. Jalan yang rusak parah menghambat segala aktivitas warga.

"Kita sudah berapa kali berteriak ke Bupati Luwu Utara Ibu Indah, kami minta perhatian untuk membangun infrastruktur berupa jalanan. Legislatifnya juga tidak bergerak," ungkap warga Kecamatan Rampi, Freddy Erenst saat dihubungi detikSulsel, Sabtu (14/5/2022).


Awalnya ia berharap mendapat perhatian dari Pemprov Sulsel. Tidak sesuai harapan, Gubernur Sulsel justru menanggapinya dengan bercanda dan menyindir warga Rampi.

"Kenapa ada kata-kata memisahkan diri, kami butuh perhatian dari pak Gubernur. Tapi yang terjadi ketika pidato dalam acara resmi, malah pak Gubernur 'kalo perlu keluar dari Indonesia'. Ini amat sangat menyakitkan bagi kami," kata Freddy.

Dengan akses jalan yang rusak parah, kehidupan warga Rampi sangat memprihatinkan. Berikut beberapa penderitaan warga Rampi dampak akses jalan yang tak memadai:

1. Akses Jalan Utama Menuju Rampi Rusak Parah

Akses jalan utama menuju Rampi rusak parah. Jalan tersebut tidak tidak pernah disentuh oleh pembangunan dari pemerintah.

Jalan rusak ini membatasi mobilitas warga. Sehingga perekonomian masyarakat Rampi tidak mengalami kemajuan.

"Sejak Indonesia merdeka, Rampi yang dulu sama saja dengan yang sekarang. Tidak ada akses jalan. Perekonomian kami tidak jalan," ungkap Freddy Erenst.

Freddy mengatakan, warga Rampi sangat membutuhkan jalan yang layak, namun yang terbangun justru bandara perintis. Jadwal penerbangannya pun hanya satu kali dalam sehari.

"Kami butuh akses jalan, yang ada malah mereka membangun bandara. Bandara itu hanya penerbangan satu kali per hari," tambahnya.

2. Akses Fasilitas Kesehatan Terbatas, Orang Sakit Ditandu 5 Km

Selain akses jalan yang sulit, Warga Rapi juga harus pasrah dengan fasilitas yang sangat terbatas. Saat ini, di sana, hanya tersedia satu puskesmas yang terdapat di Desa Sulaku.

Sementara jika ada warga desa lain yang sakit harus ditandu ke Sulaku, jaraknya sekitar 5 kilometer, mengingat akses jalan yang rusak parah. Di samping itu, alat dan tenaga kesehatan yang tersedia sangat terbatas.

"Untuk orang sakit saja hanya ada satu puskesmas, di Desa Sulaku. Kalau sakit di desa lain itu kami harus menggotong minimal 5 km untuk sampai di puskesmas. Di puskesmas juga perawatan kesehatan dan tenaga kesehatan terbatas," ungkap Freddy.

Jika ada masyarakat yang membutuhkan penanganan media yang lebih serius di rumah sakit, maka jalan satu-satunya yakni menggunakan trasnportasi udara. Itupun, harus menyesuaikan jam keberangkatan yang hanya satu kali dalam sehari.

"Kalau terbang harus menunggu besoknya, bagaimana kalau ada yang gawat. Misalnya dia harus dibawa di bawah jam 1 siang, sudah tidak ada lagi penerbangan. Mesti tunggu besok. Ini kan terkait dengan nyawa manusia," tuturnya.

3. Harga-harga Kebutuhan Rumah Tangga Melambung Tinggi

Sulitnya akses mobilitas warga berpengaruh pada harga barang-barang yang melambung tinggi. Utamanya bahan bangunan dan kebutuhan rumah tangga. Sehingga di samping pertumbuhan ekonomi yang terhimpit, warga Rampi juga pasrah dengan yang berbeda jauh dari yang berlaku di Masamba dan daerah Sulsel lainnya.

Sebut saja isi ulang gas elpiji 3 kg yang memiliki harga normal di kisaran Rp 20.000-an di Sulsel, di Rampi tembus hingga Rp 150.000. Sementara harga untuk bahan bangunan seperti semen juga sangat mahal.

"Harga satu sak semen di Rampi harganya Rp 350.000. Harga gas 3 kilogram Rp 150.000 itu isi ulang ya, bukan yang sama tabungnya. Bagaimana kami bisa hidup," keluh Freddy.

4. Hasil Perkebunan Tidak Bisa Diperdagangkan ke Luar

Freddy mengatakan hasil perkebunan warga Rampi sangat berlimpah. Namun, hasil perkebunan itu kebanyakan hanya menjadi santapan sendiri karena tidak dapat diangkut ke luar Rampi untuk diperdagangkan.

"Kami punya hasil perkebunan yang melimpah. kita punya sayur yang melimpah. Tapi tidak ada pasar di Rampi. Karena alat angkut terbatas," kata Freddy.

Rampi tidak memiliki pasar sebagai sebagai pusat perbelanjaan karena bukan hanya akses utama yang memang memiliki kondisi jalanan jelek, tetapi juga jalan penghubung antar desa yang tidak layak dilalui.

5. Jenazah Harus Digotong Puluhan Kilometer

Dalam catatan detikcom, pada tahun 2019 silam viral jenazah warga Rampi yang ditandu puluhan kilometer. Keluarga mengaku tidak memiliki dana puluhan juta rupiah untuk menerbangkan kerabatnya ini kembali ke rumahnya di Rampi.

Jenazah yang menjadi viral itu diketahui meninggal di RS Andi Djemma, Luwu Utara, dan akan dimakamkan ke Desa Rampi. Jenazah akhirnya dibawa dengan berjalan kaki dari wilayah Bada, Sulteng, menuju Rampi dengan berjalan kaki selama satu hari perjalanan atau dengan jarak tempuh kurang-lebih 60 km dari Desa Badangkaia, Lore Selatan, menuju Desa Tedeboe, Rampi.

"Kasihan kami hanya rakyat kecil yang tak punya apa-apa. Kita tak mampu kumpulkan uang hingga puluhan juta lebih baik jenazah istri saya. Kita tandu keluarga saja jalan kaki," kata suami Renti, Helon Towimba, kepada detikcom, Rabu (13/2/2019).

Berdasarkan pengalaman warga menggunakan transportasi udara, pengiriman jenazah menggunakan pesawat perlu dana Rp 50 juta. Helon mengaku tidak punya uang sebanyak itu untuk membawa istrinya ke peristirahatan terakhir.

"Lantas, di mana kita dapat itu (uang)?" kata dia.

Peristiwa ini mungkin saja bisa kembali terjadi, mengingat akses jalan menuju Rampi belum diperbaiki sama sekali oleh pemerintah.



Simak Video "Sah! Jokowi Lantik Andi Sudirman Jadi Gubernur Sulsel 2022-2023"
[Gambas:Video 20detik]
(asm/nvl)