×
Ad

Apakah Rumah Masih Layak Jadi Investasi?

Wildan Alghofari - detikProperti
Selasa, 14 Apr 2026 10:05 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/ArLawKa AungTun)
Jakarta -

Di tengah kondisi ekonomi saat ini, rumah masih kerap dipandang sebagai instrumen investasi jangka panjang. Namun, di tengah harga properti yang terus naik apakah rumah masih benar-benar menguntungkan sebagai aset investasi?

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menjelaskan, rumah pada dasarnya tetap bisa menjadi instrumen investasi, tetapi tidak otomatis menguntungkan bagi semua orang. Prinsip utama investasi rumah adalah selisih antara kenaikan nilai aset dengan total biaya kepemilikan.

Hal itu termasuk cicilan pokok, bunga KPR, hingga biaya tambahan lainnya. Jika kenaikan harga rumah lebih tinggi dari total beban tersebut, maka rumah masih layak disebut investasi.

Namun, kondisi itu tidak berlaku merata di semua wilayah. Tauhid menekankan bahwa faktor lokasi juga menjadi penentu paling penting. Rumah di kawasan strategis seperti pusat kota atau area yang berkembang pesat masih memiliki peluang besar mengalami kenaikan nilai. Sebaliknya, rumah di wilayah pinggiran belum tentu memberikan keuntungan yang sama.

"Kalau rumah tinggal rasanya sih sebagian besar belum bisa ya karena sebagian sekarang sudah wilayah pinggiran," ujar Tauhid saat dihubungi detikProperti beberapa hari yang lalu.

Pernyataan ini relevan dengan kondisi saat ini, ketika harga rumah di pusat kota semakin mahal dan banyak masyarakat akhirnya mencari hunian di kawasan pinggiran. Meski harga awal lebih terjangkau, potensi kenaikan nilainya belum tentu cukup besar untuk menutup beban cicilan dalam jangka panjang.

Selain lokasi, Tauhid menilai kondisi ekonomi saat ini membuat investasi properti menjadi lebih menantang. Daya beli masyarakat yang melemah membuat pasar rumah cenderung lesu, sehingga rumah semakin sulit dijual cepat saat pemilik membutuhkan dana.

"Menurut saya, apa namanya lagi sulit ya. Pertama, marketnya lagi relatif terbatas, jadi kalau dalam kondisi sekarang ekonominya nggak bagus begitu," ujarnya.

Ia menjelaskan, properti termasuk aset dengan tingkat likuiditas rendah. Proses penjualan rumah umumnya memerlukan waktu lama, bahkan dalam situasi tertentu harga jual bisa turun di bawah harga pasar agar cepat laku. Kondisi ini membuat rumah kurang fleksibel jika dibanding instrumen investasi lain.

Selain itu, Tauhid menyebut ada faktor lain yang bisa membuat rumah menguntungkan sebagai investasi, yakni informasi soal rencana pembangunan kawasan. Misalnya, jika suatu area akan dibangun jalan tol, kampus, fasilitas olahraga, atau infrastruktur publik lain, harga rumah di sekitarnya berpotensi naik lebih cepat.

Di sisi lain, jika harga rumah yang dibeli justru lebih mahal dibanding harga pasar sekitar, risikonya lebih besar. Karena itu, calon pembeli perlu mencermati tren harga kawasan, permintaan pasar, dan prospek wilayah sebelum memutuskan menjadikan rumah sebagai instrumen berinvestasi.

Emas sebagai Instrumen Investasi Jangka Panjang

Sebagai perbandingan, emas sebagai instrumen investasi yang banyak digunakan, saat ini dinilai lebih fleksibel sebagai instrumen investasi, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi. Melansir catatan detikFinance, emas memiliki sejumlah keunggulan seperti nilai yang cenderung stabil, tahan inflasi, bisa dibeli mulai nominal kecil, dan mudah dicairkan kapan saja.

Berdasarkan jurnal penelitian dari Future Academia yang ditulis oleh Riza Rasyid Al-Aufa, emas masih dipersepsikan masyarakat Indonesia sebagai instrumen investasi jangka panjang yang aman. Penelitian tersebut juga menyebut emas cenderung tahan terhadap inflasi, gejolak pasar, dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Maka dari itu, di tengah kondisi ekonomi saat ini, rumah masih bisa menjadi investasi, tetapi perlu memperhatikan beberapa hal dalam kondisi tertentu, seperti lokasi strategis, prospek kawasan jelas, dan kemampuan finansial memadai. Sementara bagi masyarakat yang mengutamakan fleksibilitas dan aset investasi yang mudah dicairkan, emas cenderung lebih aman sebagai instrumen investasi jangka panjang.




(das/das)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork