Braga Stadium merupakan salah satu stadion paling unik di dunia. Bagaimana tidak, stadion ini berdiri di bekas tambang batu yang dinilai tidak lazim untuk mendirikan sebuah stadion besar.
Desain stadion ini juga berbeda dari yang lain. Bagian utara dan selatan stadion tidak memiliki tribun penonton dan diganti dengan sisa-sisa galian tambang batu.
Keunikan desain Stadion Braga merupakan ide dari arsitek Eduardo Souto de Moura. Menariknya, ia mengaku sama sekali tidak pernah mendesain stadion sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tak punya latar belakang mendesain stadion, tapi hasil karyanya justru menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Ia berhasil menggabungkan bangunan besar nan modern dengan alam, sehingga menciptakan stadion yang indah.
"Bisa saya katakan ini adalah proyek yang paling saya nikmati," kata Souto dikutip dari Dezeen, Kamis (14/4/2026).
"Ketika saya mendapatkan proyek stadion ini, saya tidak tahu apa-apa tentang sepak bola maupun stadion. Tapi ini hal yang wajar dalam arsitektur," ungkapnya.
Pembangunan Stadion Braga awalnya bertujuan untuk menyambut gelaran Piala Eropa 2004 di Portugal. Braga pun termasuk kota yang ditunjuk pemerintah sebagai tuan rumah kompetisi sepak bola antar negara Eropa itu.
Menyadari ada beberapa stadion yang tidak sesuai standar UEFA, pemerintah memutuskan membangun stadion yang besar dan modern di Braga. Pemerintah kota dengan cepat langsung mencari arsitek untuk membangun stadion baru.
Awalnya pemerintah sempat menghubungi firma arsitektur ternama, yakni Norman Foster serta Santiago Calatrava untuk membangun stadion. Sempat hampir setuju, tetapi kesepakatan itu batal karena biayanya terlalu mahal.
Pemerintah memutuskan untuk bekerja sama dengan Souto sebagai arsitek Stadion Braga. Tak pakai pikir panjang, Souto setuju dan siap mendesain stadion demi kelancaran ajang Piala Eropa.
"Pemerintah kota Braga sebelumnya telah mengundang Foster dan Calatrava, tetapi menganggap biaya mereka terlalu tinggi. Lalu mereka bertanya kepada saya 'apakah saya ingin melakukannya?' Dan tentu saja, biaya saya jauh lebih rendah," paparnya.
Souto langsung bekerja untuk mendesain stadion yang dibangun di bekas lahan tambang batu granit. Karena tak punya latar belakang mendesain stadion, ia menghabiskan waktu sebulan untuk menghadiri pertandingan. Tujuannya untuk mempelajari cara kerja stadion, dengan fokus pada arus pintu masuk dan pintu keluar penonton.
Stadion Braga, Portugal. Foto: UEFA via Getty Images/Alex Pantling - UEFA |
Meski dibangun di bekas lahan tambang batu, Souto mengaku hal itu menjadi tantangan tersendiri. Desain stadion ini banyak ditentukan dari kondisi lereng Gunung Castro, sehingga sebagian stadion dibentuk langsung dari batuan yang digali, sedangkan bagian lainnya dibangun dengan beton bertulang.
"Dengan bagian gunung batu itu, saya akan memiliki setengah stadion dan setengah lainnya akan saya buat hampir simetris dengan beton bertulang," ujar Souto.
Desain Stadion Braga memang anti-mainstream karena tidak memiliki tribun penonton di sisi utara dan selatan. Meski harus mengorbankan kapasitas kursi penoton, tapi di sisi lain menciptakan desain stadion yang unik dan indah.
Souto mengklaim desain stadion yang tidak dilengkapi tribun utara dan selatan justru memberikan kenyamanan bagi penonton. Sebab, menonton dari belakang gawang justru terasa tidak nyaman.
"Sepak bola itu dimainkan dari kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Menurut saya, tidak masuk akal jika tribun penonton berada di belakang tiang gawang," jelasnya.
Estadio Municipal de Braga mulai dibangun sekitar Januari 2001 dan akhirnya rampung pada Desember 2003. Stadion berkapasitas 30 ribu penonton ini hanya menggelar dua pertandingan di Piala Eropa 2004, yakni laga Bulgaria Vs Denmark di Grup C dan pertandingan Belanda vs Latvia di Grup D.
Kini, Stadion Braga masih digunakan sampai sekarang oleh klub divisi utama Portugal, S.C. Braga. Seluruh pertandingan di divisi utama Portugal maupun kompetisi Eropa dimainkan di stadion paling unik di Benua Biru itu.
(ilf/zlf)












































