Pendiri pengembang properti raksasa Evergrande Group, Hui Ka Yan mengaku melakukan penipuan dan suap. Perusahaan miliknya merupakan pengembang dengan utang terbesar di dunia.
Dilansir dari DW, Kamis (16/4/2026), pengadilan mengungkapkan bahwa Hui Ka Yan mengaku bersalah dan menyesal atas tindakannya dalam proses persidangan pada Senin dan Selasa lalu.
Dalam pernyataan pengadilan, Evergrande dituduh melakukan sederet kesalahan. Perusahaan itu beserta pendirinya menggunakan simpanan publik secara ilegal, menipu penggalangan dana, menerbitkan pinjaman secara ilegal, menggunakan dana secara ilegal, menerbitkan sekuritas secara curang, membocorkan informasi penting, menggelapkan, dan menyuap perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengembang raksasa itu gagal membayar utang sekitar US$ 300 miliar atau sekitar Rp 5.143 triliun (kurs Rp 17.143) pada 2021. Perusahaan juga tidak dapat membayar produk manajemen kekayaan senilai miliaran dolar.
Untuk diketahui, Evergrande merupakan perusahaan yang dibangun pada pertengahan 1990-an. Sebanyak 90 persen aset perusahaan berada di China. Perusahaan ini berjaya dan menjadi raksasa pengembang properti.
Namun, kebijakan pemerintah pada 2020 terhadap pinjaman berlebihan mempersempit akses kredit. Hal ini membuat perusahaan gagal membayar utang setahun kemudian.
Pada 2023, Hui dilaporkan, lalu ditahan oleh polisi. Regulator sekuritas China pun memberikan denda sebesar US$ 6,6 juta atau sekitar Rp 113 miliar. Lalu, saham Evergrande dihapuskan dari Bursa Efek Hong Kong pada 2025.
Jatuhnya raksasa properti Evergrande mencerminkan masalah yang dialami industri properti China. Masalah yang menyeret perekonomian terbesar kedua di dunia serta mengguncang sistem keuangan.
Dikutip dari Forbes, Evergrande merupakan sebuah grup perusahaan induk investasi yang bergerak dalam pengembangan, investasi, hingga pengelolaan real estate. Khusus bisnis real estate saja sudah memiliki lebih dari 1.300 proyek di lebih dari 280 kota di China menurut situs resminya.
