Plafon punya fungsi utama sebagai pembatas antara ruangan dengan rangka atap sehingga tidak tampak terbuka. Tanpa plafon, interior akan terlihat jelek dan kurang estetik.
Di sisi lain, plafon punya fungsi untuk menjaga kondisi suhu ruangan dari cuaca panas atau dingin agar tidak masuk ke dalam rumah. Ketinggian plafon juga menjadi salah satu cara supaya suhu di dalam rumah tidak terasa pengap.
Nah, sudah tahu belum detikers kalau pemasangan plafon ada dua macam, yakni drop ceiling dan flat ceiling. Memang sama-sama plafon, tapi keduanya memiliki perbedaan, lho.
Lantas apa yang membedakan plafon flat ceiling dan drop ceiling? Dikutip dari catatan detikProperti, berikut penjelasannya.
Plafon Flat Ceiling
Plafon model ini banyak digunakan di rumah-rumah karena pemasangannya lebih mudah. Selain itu, biaya pasangnya juga terjangkau sehingga menjadi pilihan banyak orang.
Sesuai namanya, plafon flat ceiling merupakan jenis plafon yang dipasang secara rata atau sejajar, tanpa adanya sudut-sudut yang melengkung.
Umumnya plafon flat ceiling menggunakan material gypsum atau papan triplek yang dibuat datar, sehingga memberikan kesan minimalis modern.
Desain plafonnya memang tampak sederhana dan minimalis, tapi masih bisa ditambahkan dekorasi lampu gantung atau lampu dinding. Bisa juga menambahkan kipas angin gantung sehingga interior lebih estetis.
Plafon Drop Ceiling
Plafon jenis ini mengusung teknik pemasangan yang cenderung menekuk ke atas, seolah memberikan celah-celah pada interior. Jenis plafon ini sangat cocok untuk diterapkan pada hunian yang minimalis agar tampilan ruangan jadi lebih luas.
Agar tampilan lebih estetis, biasanya dipasangi lampu LED di selasar plafon yang lebih rendah supaya menghasilkan efek cahaya lembut. Bagian tengahnya bisa dipasangi kipas angin gantung atau lampu gantung supaya interior nggak terasa membosankan.
Itulah perbedaan plafon flat ceiling dan plafon drop ceiling. Semoga bermanfaat!
(ilf/das)