×
Ad

Warga AS Tolak Data Center AI Dekat Rumah, Trump: Terbelakang dan Miskin!

Danang Sugianto - detikProperti
Rabu, 09 Sep 2026 10:11 WIB
Presiden AS Donald Trump (Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein)
Jakarta -

Pembangunan data center di Amerika Serikat (AS) tengah menjadi sorotan. Fasilitas yang dibutuhkan untuk menopang perkembangan kecerdasan buatan (AI) itu menjamur di berbagai wilayah, tetapi kehadirannya justru membuat sebagian warga khawatir.

Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah nilai properti di sekitar data center. Selain itu, masyarakat juga mengkhawatirkan penggunaan air, kualitas udara, jaringan listrik hingga kenaikan tagihan listrik.

Dikutip dari Realtor.com, Rabu (9/9/2026), ribuan proyek data center yang sedang diusulkan maupun dibangun di berbagai wilayah AS telah menjadi isu politik. Proyek-proyek tersebut bahkan mulai masuk ke wilayah yang semakin jauh dari pusat perkotaan.

Sejumlah kota memilih menunda atau menghentikan pembangunan karena adanya penolakan dari masyarakat.

Perubahan sikap warga terhadap data center terlihat dari sejumlah survei yang dirilis musim panas ini. Jajak pendapat Fox News, Gallup, dan Washington Post menunjukkan sekitar 70% masyarakat AS menolak pembangunan data center untuk AI di dekat rumah mereka.

Kekhawatiran terhadap properti menjadi salah satu bagian dari persoalan tersebut. Warga khawatir keberadaan fasilitas berukuran besar dengan kebutuhan energi dan air yang tinggi dapat memengaruhi lingkungan sekitar sekaligus nilai rumah mereka.

Namun, di tengah penolakan tersebut, Presiden AS Donald Trump justru memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan data center.

Trump bahkan menyindir masyarakat yang menolak pembangunan fasilitas tersebut. "Satu-satunya alasan masyarakat di seluruh AS tidak menginginkan data center adalah jika mereka ingin tetap terbelakang dan miskin," kata Trump dalam unggahan di Truth Social pada 31 Agustus.

"Jika mereka ingin sukses dan kaya, dengan pajak yang jauh lebih rendah serta lapangan pekerjaan di mana-mana, biarkan data berkuasa," lanjutnya.

Pembangunan data center menjadi persoalan tersendiri bagi kawasan hunian. Fasilitas tersebut membutuhkan lahan luas, air dalam jumlah besar dan pasokan listrik yang sangat tinggi.

Tak heran jika masyarakat di sejumlah daerah mulai mempertanyakan dampaknya terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.

Kekhawatiran tersebut tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan. Nilai properti juga ikut menjadi perhatian karena perubahan lingkungan dan pembangunan fasilitas skala besar di sekitar kawasan hunian berpotensi memengaruhi daya tarik sebuah wilayah.

Di sisi lain, pembangunan data center membawa investasi yang sangat besar. McKinsey memperkirakan industri tersebut akan menggelontorkan investasi hingga US$ 7 triliun atau sekitar Rp 115 ribu triliun untuk infrastruktur data center hingga 2030.

Pendukung pembangunan data center melihat investasi tersebut sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

Namun, masyarakat yang berada di sekitar lokasi proyek melihat persoalan yang berbeda. Mereka harus menghadapi kekhawatiran mengenai penggunaan air, kualitas udara, kebutuhan listrik dan dampaknya terhadap lingkungan serta properti.

Gelombang penolakan tersebut bahkan mulai memengaruhi kebijakan pemerintah daerah.

Washington Post mencatat terdapat 375 rancangan aturan yang ditujukan untuk mengatur pembangunan data center di berbagai negara bagian AS. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan gabungan tiga tahun sebelumnya, meskipun tidak semuanya berhasil disahkan.

Sementara itu, investor teknologi Kevin Xu mencatat terdapat sekitar 360 moratorium pembangunan data center di berbagai wilayah AS.

Penolakan juga mulai menjadi senjata politik menjelang pemilu paruh waktu. Di Illinois, kandidat gubernur dari Partai Republik Darren Bailey secara terbuka mengambil posisi berbeda dari Trump.

"Presiden Trump dan saya tidak sependapat mengenai masalah ini," kata Bailey.

Menurutnya, warga Illinois memiliki kekhawatiran yang sama mengenai pembangunan data center.

"Saat saya berkeliling Illinois, saya mendengar kekhawatiran yang sama: data center berukuran besar mengancam lahan pertanian, membebani jaringan listrik, dan meningkatkan biaya," ujarnya.

"Posisi saya jelas: keluarga dan komunitas Illinois harus menjadi yang utama," sambung Bailey.

Meski penolakan meningkat, Trump tetap menganggap data center sangat penting bagi perekonomian dan persaingan teknologi AS.

Dalam wawancara lanjutan, Trump bahkan menyebut rencana Texas untuk memperketat aturan industri data center sebagai sebuah kesalahan.

"Mereka sangat penting bagi perekonomian," kata Trump.

"Texas mengatakan tidak pada data center adalah sebuah kesalahan, dalam arti industri ini bisa menjadi lebih besar daripada minyak," lanjutnya.

Trump juga memperingatkan bahwa banyak negara lain menginginkan investasi data center.

Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance ikut mendukung pembangunan fasilitas tersebut. Ia mengatakan AS perlu membangun lebih banyak pembangkit listrik untuk mengimbangi kebutuhan energi dari data center.

Di tengah perdebatan tersebut, persoalan data center kini bukan lagi sekadar soal teknologi AI. Bagi warga yang tinggal di sekitar proyek, pembangunan fasilitas raksasa itu menyentuh langsung persoalan lingkungan, biaya hidup, penggunaan lahan hingga masa depan nilai properti mereka.




(das/das)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork