Pembangunan data center berskala besar ternyata bisa membawa persoalan bagi hunian yang berada di sekitarnya. Hal itu dialami seorang pemilik rumah di Louisa County, Virginia, Amerika Serikat (AS).
Rumah milik Austin Newsom berada tepat di seberang proyek pembangunan data center Amazon. Sejak konstruksi dimulai, ia mengaku menghadapi berbagai masalah, mulai dari suara bising, debu, air sumur berubah keruh, lalu lintas kendaraan proyek hingga kerusakan pada rumah.
Kondisi tersebut juga membuat Newsom kesulitan menjual rumahnya. Padahal, sebelum pembangunan data center dimulai, ia telah menghabiskan lebih dari US$ 80.000 atau sekitar Rp 1,4 miliar (asumsi kurs Rp 17.800/US$) untuk merenovasi rumah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Newsom sebelumnya berencana pindah ke rumah lain yang baru dibangunnya dan menjual rumah lama tersebut. Namun, rencana itu berubah setelah proyek data center Amazon dimulai.
"Rumah ini sebelumnya sangat tenang dan sederhana. Anda bisa tidur lewat pukul 06.00 tanpa suara bising dan segala macam hal yang terjadi. Sekarang semuanya selalu kacau," kata Newsom dikutip dari Realtor, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Newsom, sejak proyek berjalan, lingkungan tempat tinggalnya berubah drastis. Truk-truk proyek keluar-masuk setiap hari dan menimbulkan debu. Lampu dari kamera keamanan menyala ke arah rumahnya pada malam hari, sementara jalan di sekitar lokasi tertutup lumpur.
Ia juga mengklaim air sumur di rumahnya berubah menjadi cokelat akibat aktivitas pembangunan.
"Ketika mereka memindahkan tanah sebanyak ini, penggalian dan getaran-getaran kecil yang terjadi dari waktu ke waktu akan membawa sedimen masuk ke aliran air, kemudian masuk langsung ke sumur saya," jelasnya.
Newsom mengatakan seorang ahli hidrologi yang ia datangkan juga menilai aktivitas konstruksi tersebut berdampak terhadap muka air tanah. Namun, ia mengaku kesulitan mendapatkan respons dari pihak Amazon setelah masalah tersebut terjadi.
Rumah Jadi Sulit Dijual
Dampak lainnya yang paling dirasakan Newsom adalah nilai dan daya tarik rumahnya di mata calon pembeli.
Rumah tersebut memiliki tiga kamar tidur dan sebuah bengkel perbaikan kapal yang berada di lahan yang sama. Sebelum proyek dimulai, Newsom menilai propertinya cukup menarik untuk dijual.
Namun, keberadaan proyek data center tepat di seberang rumah membuat calon pembeli mengurungkan niat.
"Mereka melihat rumahnya, tetapi begitu tahu lokasinya, mereka membatalkan jadwal kunjungan. Kalau datang tanpa mengetahui kondisi kawasan, mereka langsung kehilangan minat begitu melihat ke seberang jalan," ujarnya.
Agen properti yang membantu Newsom menjual rumah tersebut, Jimmy Snyder, mengatakan kondisi ini membuat pemasaran properti menjadi lebih sulit.
"Anda tidak merasa sedang berada di rumahnya. Anda benar-benar merasa seperti sedang berada di lokasi konstruksi," kata Snyder.
Menurut Snyder, strategi pemasaran yang biasanya digunakan agen properti, seperti foto, video, maupun rekaman drone yang memperlihatkan lingkungan sekitar rumah, justru dapat menjadi bumerang.
Ia bahkan tidak yakin rumah tersebut dapat segera terjual dan memperkirakan pemilik harus menunggu atau menurunkan harga.
"Ada banyak hal negatif yang terjadi di sini, dan saya tidak yakin kami akan bisa menjualnya. Jadi sekarang ini tinggal menunggu dan menurunkan harga," ujarnya.
Proyek Data Center Berlangsung Bertahun-tahun
Amazon Web Services diketahui tengah membangun dua kompleks data center di Louisa County. Sebelumnya, perusahaan tersebut juga membatalkan proposal proyek ketiga setelah mendapat penolakan dari warga.
Menurut rencana Amazon, tahap pertama pembangunan proyek yang berada di dekat rumah Newsom diperkirakan baru selesai sekitar 2031. Namun, Newsom memperkirakan seluruh pembangunan dapat berlangsung hingga 15 tahun.
Kondisi tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Newsom karena rumahnya berada tepat di depan lokasi proyek.
Pada Agustus 2025, ia menggugat Amazon. Ia sempat meminta penghentian sementara pembangunan, tetapi Amazon mengajukan permohonan agar gugatan tersebut dibatalkan.
Dalam putusan pada Juli 2026, hakim federal mengizinkan inti gugatan Newsom terkait gangguan terhadap kenyamanan dan penggunaan properti untuk tetap berlanjut karena dinilai memiliki bukti yang cukup untuk diproses. Sidang terkait permintaan penghentian sementara pembangunan dijadwalkan berlangsung pada 19 Agustus.
Namun, Newsom mengatakan menghentikan proyek bukan lagi tujuan utamanya. Ia ingin perusahaan mengambil langkah untuk mengurangi dampak terhadap kehidupan warga dan memberikan kompensasi atas kerugian yang dialaminya.
"Saya ingin mereka benar-benar melakukan sesuatu dengan lebih baik dan memastikan kehidupan saya, seperti yang saya jalani selama 12 tahun di rumah ini, kembali seperti sebelum mereka datang," kata Newsom.
"Saya kehilangan bisnis, kehilangan pelanggan, tidak bisa menjual rumah. Ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa saya menggugat mereka," lanjutnya.
(das/das)
