Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) telah mengeluarkan aturan terbaru soal rumah susun (rusun) subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Namun, hal itu dinilai tak tepat sasaran.
Menurut Ketua Umum The HUD Institute Zulfi Syarif Koto juga berpendapat harga rusun subsidi terbaru tidak cocok dengan pendapatan MBR saat ini meskipun tenor sudah diperpanjang bisa 30 tahun dan bunga sudah 6 persen flat.
Jika dihitung dengan pembiayaan terbaru, jumlah yang dibayarkan oleh masyarakat untuk rusun subsidi setara dengan 2 kali membeli rumah seharga sama karena bunganya.
"Pengalaman saya, harga segitu, itu gaji di atas Rp 15 juta. Bukan MBR lagi itu. Bunga flat itu kan bukan subsidi, tetap aja. Kalau 30 tahun (tenor) 180 persen (bunganya), hampir dua rumah," ungkapnya kepada detikcom, Sabtu (25/4/2026).
Tak hanya itu, harga rusun subsidi juga dianggap cukup mahal. Dalam Keputusan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Nomor 23/KPTS/M/2026, harga maksimal rusun subsidi ada di Papua Pegunungan dengan harga per meternya Rp 28 juta sementara untuk harga maksimal unit tipe 45 tembus Rp 1 miliar. Sementara untuk wilayah Jabodetabek, paling mahal ada di Jakarta Pusat yaitu Rp 14,5 juta per meter atau Rp 652,5 juta untuk harga maksimal tipe 45.
Menurut pengamat properti sekaligus CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, harga rusun subsidi lebih dari Rp 500 juta per unit terlalu mahal untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
"Sebaiknya pemerintah membuat tier (tingkatan) sesuai kebutuhan pasar dan data permintaan. Rusunami bisa untuk single atau keluarga. Untuk harga masih di Rp 500 jutaan menurut saya terlalu tinggi. Berbeda dengan rumah landed (rumah tapak) harusnya luas 18 meter persegi dimungkinkan di hunian vertikal," kata Ali saat dihubungi detikcom.
Harga Ideal untuk Rusun Subsidi
Ali memberikan gambaran, jika Upah Minimum Regional (UMR) di Jakarta sekitar Rp 5,7 jutaan, mereka hanya bisa membeli hunian seharga Rp 300 jutaan.
"Kalau dengan minimal harga rusun Rp 500 jutaan artinya yang gaji Rp 9 juta baru bisa beli dan menurut saya itu bukan target rusun milik (rusunami)," ucapnya.
"Berdasarkan analisis Indonesia Property Watch pasar rusunami harusnya di Rp 350-500 jutaan agar terserap. Jika terlalu mahal malah akan tidak tepat sasaran," tambahnya.
Perlu Insentif Lainnya
Ali Menilai, masih perlu ada insentif-insentif lainnya untuk meringankan biaya pembangunan dan harga rusun subsidi. Ia mengusulkan agar pemerintah menyediakan lahan-lahan negara yang idle dan tak terpakai sebagai lokasi pembangunan. Cara ini bisa membantu skema pembiayaan yang sudah baik saat ini.
"Stimulus untuk pembiayaan udah baik sekarang. Masalahnya apakah bisa membangun rusun dengan harga Rp 300-500 jutaan dan patokannya harus insentif harga tanah atau insentif ke harganya. Jika perlu tanah-tanah idle BUMN dipatok harga tanahnya seminim mungkin supaya harganya bisa di kisaran itu," usulnya.
Jika harganya masih mahal, rusun tersebut lebih baik digabung dengan rusun sewa (rusunawa) untuk masyarakat urban menengah ke bawah.
PR Kementerian PKP
Menurut Zulfi, untuk menjalan aturan terbaru soal rusun subsidi perlu aturan dan kebijakan tambahan seperti soal iuran pengelolaan lingkungan (IPL), kriteria masyarakat yang bisa membeli rusun subsidi, siapa yang boleh membangun, hingga insentif yang bisa didapat oleh pengembang dan calon pembeli.
"Itu harus jelas. Dalam Kepmen itu nggak kelihatan. Hanya ada tenor 30 tahun, bunga 6 persen, kan gitu kan. Itu belum cukup untuk mendorong orang membangun, pengembang untuk membangun, dan masyarakat khususnya MBR untuk membeli," ujar Zulfi.
Selain itu, setelah aturan terbit, masyarakat harus tahu keberadaan kebijakan ini. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi secara merata agar masyarakat yang membutuhkan bisa bersiap.
"Artinya dengan modal permen itu perlu dilakukan koordinasi lain, perlu dilakukan koordinasi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang mempermudah bagi pengembang untuk membangun dan bagi pembeli untuk menempati gitu," terangnya.
"Kepmen PKP itu tidak boleh berhenti. Start awal yang bagus, tapi tidak boleh berhenti di situ," tegasnya.
Simak Video "Eksklusif Menteri PKP: 141 Ribu Rusun Subsidi di Meikarta"
(abr/zlf)