Menginap nggak harus di hotel mewah yang sewanya Rp 500 ribu per malam, di Semarang ada penginapan sederhana yang bisa dicoba dengan hanya membayar Rp 4.000 per hari.
Penginapan ini bernama Pondok Boro yang berlokasi di Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah. Dilansir detikJateng, penginapan ini berada di bangunan tua dengan fasilitas yang jauh dari kata mewah.
Di dalamnya tidak ada kamar tamu, melainkan lorong yang kanan dan kirinya adalah 'ranjang' yang bentuknya berupa papan los panjang tanpa alas empuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Papan tersebut seperti meja panjang dengan empat kaki yang pendek. Permukaannya ditutupi dengan terpal. Dalam pantauan detikJateng, tempat tidur itu tidak memiliki sekat antar pengunjung sehingga pengunjung layaknya tidur di meja panjang. Barang pribadi milik penyewa disimpan di pojokan kasur, ada yang dimasukkan ke dalam kardus dan rak-rak sederhana.
Tarif sewa Rp 4.000 per hari ini sudah termasuk dengan air dan listrik. Setiap tamu bisa memakai kamar mandi umum yang disediakan. Lalu, terdapat kipas angin sehingga tidak akan kepanasan. Hal yang tidak ada di sini adalah dapur umum sehingga pengunjung harus membeli makanan di luar.
Penginapan ini juga tidak dibatasi hanya untuk masyarakat kelas bawah saja, semua orang bisa tinggal di sini asalkan memiliki KTP dan penjamin. Namun, menurut pengelola penginapan Pondok Boro, Taryono (35), diutamakan adalah laki-laki.
Suasana penginapan di Pondok Boro, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (16/10/2015). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
"Maksudnya (penjamin) itu yang bertanggung jawab seluk-beluknya dia gimana. Misalkan nanti buat ke depannya administrasinya gimana. Kalau telat bayar kita menghubungi yang nanggung," jelas Taryono kepada detikJateng seperti dikutip pada Senin (20/4/2026).
Para pengunjung pun tak dibatasi hingga kapan tinggal di penginapan murah itu. Mereka akan diberikan kartu yang menandakan berapa lama mereka tinggal.
"Kalau sudah terdaftar di sini sudah dikasih kartu kehadiran. Datangnya sesuai kepentingan, misalkan di sini 2 hari, ada kepentingan di rumah pulang, nggak apa-apa, nggak ada batasan. Paling lama 3 bulan ada," ungkapnya.
Salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi, Shomad (52), telah tinggal di sana sejak awal 1990-an. Pria perantau asal Cirebon itu biasanya berjualan sampah MMT bekas.
"Saya tinggal di sini semenjak tahun '90-an. Kesehariannya jualan. Dulu jualan pakaian terus 2012 beralih jualan sampah MMT bekas sampai sekarang. Jualannya di pasar," kata Shomad di Pondok Boro pada Kamis (16/10/2025).
Para penghuni berasal dari berbagai daerah, mulai dari Kebumen, Sragen, hingga luar Jawa Tengah yang bekerja sebagai pedagang, kuli, atau sopir. Hubungan antar penyewa juga baik layaknya keluarga.
"Ya di sini kayak saudara semua, kayak kakak adik. Kalau ada yang kesusahan ya saling bantu," ujarnya.
Artikel ini sudah tayang di detikJateng.

