Di saat banyak penginapan berlomba menghadirkan kamar yang mewah dengan harga selangit per malamnya, di Semarang ada penginapan yang cocok dengan kantong semua orang, yakni hanya Rp 4.000 per hari. Penginapan ini bernama Pondok Boro yang berada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Jawa Tengah.
Dilansir detikJateng yang berkunjung Oktober 2025, Pondok Boro merupakan penginapan tua dan sederhana. Bentuk muka bangunan tidak seperti penginapan pada umumnya. Dinding di pintu masuk berdinding bata merah dan bagian atasnya telah ditutup dengan acian.
Pintu dan jendelanya dari kayu. Tidak ada kaca atau plastik yang menutupi jendela berongga itu. Jendela ini merupakan area kios kecil. Bagian tengah pintu hanya dipasang kawat-kawat kecil sehingga tidak transparan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bagian depan fasad bangunan ini bukan taman atau teras, melainkan tumpukan kayu, kaca, terpal, hingga sebuah sepeda ontel bersandar di dinding.
Tampilan bangunan ini tidak menggentarkan pengunjung untuk datang karena harga yang ditawarkan untuk sebuah penginapan sangat terjangkau. Tarif Rp 4.000 per hari layaknya biaya parkir kendaraan di kota.
Bagian dalam bangunannya terdapat lorong kayu panjang yang menghubungkan kamar-kamar sempit dengan dinding cat hijau tua yang mulai pudar.
Jika hotel biasanya dindingnya dilapisi wallpaper, Pondok Boro memajang banyak poster-poster lama. Ada yang gambarnya sudah memudar, ada pula yang sebagian sudah sobek. Hal ini menambah kesan tua pada bangunan berusia hampir seabad itu.
Biaya sewanya yang hanya Rp 4.000 per hari, tetap disediakan listrik dan lampu di dalamnya. Namun, untuk mendapatkan cahaya alami memang terbatas, cahaya matahari biasanya terlihat dari sela-sela atap seng, menyinari lorong.
Suasana penginapan di Pondok Boro, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (16/10/2015). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Tidak ada interior khusus di dalamnya. Tempat tidur yang tersedia di Pondok Boro merupakan papan kayu berkaki empat yang permukaannya dilapisi terpal. Tidak ada kasur empuk yang biasa ditemukan di hotel. Beberapa penyewa ada yang membawa kasur gulung sebagai alas tidur.
Tempat tidur tersebut dibuat berjajar rapat di kanan dan kiri. Tidak ada sekat antar kasur. Bagian tengah dibiarkan kosong seperti lorong untuk akses jalan ke tempat tidur atau keluar. Saat melihat ke atas, terpasang kain putih kusam dibentangkan menutupi atap yang sebagian bocor.
Di mana untuk meletakkan barang pribadi? Barang-barang pribadi tersusun di kardus dan rak-rak sederhana. Setiap pengunjung juga tidak perlu takut kepanasan karena di sini sudah tersedia kipas kecil.
Kepada detikJateng, pengelola pondok Taryono (35) mengonfirmasi biaya sewa menginap di Pondok Boro saat ini adalah Rp 4.000 per hari sudah termasuk listrik, kamar mandi, dan air bersih. Bahkan saat ini sudah ada sekitar 90 penghuni tetap.
Selain tempat tidur, di dalam penginapan ini juga tersedia toilet yang airnya dari sumur. Kamar mandi ini dipakai bersama.
"WC komplit cuma ala kadarnya, pakainya sumur, timbanya hampir 16 kan buat mandi bareng-bareng. Kalau mau ke WC ya berjejer-jejer sudah terbiasa yang penting bisa untuk tidur nyaman," ujarnya seperti dikutip detikcom pada Senin (20/4/2026).
Bangunan Pondok Boro masih mempertahankan bentuk aslinya sejak hampir satu abad lalu. Hanya ada perbaikan kecil di bagian atap atau kayu yang rapuh.
Di dalamnya terdapat beberapa gang dan loteng yang menjadi kamar para penghuni, seperti Gang Tengah, Gang Lor, hingga Gang Sragen yang memang banyak dihuni perantau dari Sragen.
Artikel ini sudah tayang di detikJateng
(aqi/zlf)












































