Sebuah penginapan di Semarang, bernama Pondok Boro menjadi langganan puluhan perantau karena biayanya yang terjangkau. Untuk menginap di sini, pengunjung hanya perlu mengeluarkan Rp 4.000 per harinya.
Dilansir dari detikJateng, biaya Rp 4.000 per hari ini sudah termasuk dengan listrik dan air. Tempat tidur pun disediakan meskipun bentuknya sederhana, hanya berupa papan los panjang tanpa bantalan empuk, mengisi dari ujung ke ujung ruangan.
Papan tersebut seperti meja panjang dengan empat kaki yang pendek. Permukaannya ditutupi dengan terpal. Dalam pantauan detikJateng, di atas tempat tidur tersebut banyak barang milik penyewa disimpan di pojokan kasur. Barang-barang pribadi penyewa ada yang dimasukkan ke dalam kardus dan rak-rak sederhana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tempat tidur itu tidak memiliki sekat layaknya meja panjang. Akses jalan ke kasur atau keluar ada di tengah deretan tempat tidur tersebut. Di bagian atasnya terbentang kain putih menutupi atap yang sebagian bocor.
Meskipun sangat sederhana, Pondok Boro telah memiliki puluhan pelanggan tetap. Kepada detikJateng, pengelola pondok Taryono (35) ada sekitar 90 penghuni tetap. Harganya yang Rp 4.000 per hari sudah termasuk listrik, kamar mandi, dan air bersih. Selain tempat tidur, di dalam penginapan ini juga tersedia toilet yang airnya dari sumur. Kamar mandi ini dipakai bersama.
"WC komplit cuma ala kadarnya, pakainya sumur, timbanya hampir 16 kan buat mandi bareng-bareng. Kalau mau ke WC ya berjejer-jejer sudah terbiasa yang penting bisa untuk tidur nyaman," ujarnya seperti dikutip detikcom pada Senin (20/4/2026).
Pondok Boro, penginapan untuk perantau yang murah meriah di Semarang. Foto diambil Selasa (30/7/2024). Foto: Afzal Nur Iman/detikJateng |
Bangunan Pondok Boro masih mempertahankan bentuk aslinya sejak hampir satu abad lalu. Hanya ada perbaikan kecil di bagian atap atau kayu yang rapuh.
Di dalamnya terdapat beberapa gang dan loteng yang menjadi kamar para penghuni, seperti Gang Tengah, Gang Lor, hingga Gang Sragen yang memang banyak dihuni perantau dari Sragen.
Salah satu penghuni yang ditemui di lokasi, Shomad (52), telah tinggal di sana sejak awal 1990-an. Pria perantau asal Cirebon itu biasanya berjualan sampah MMT bekas.
"Saya tinggal di sini semenjak tahun '90-an. Kesehariannya jualan. Dulu jualan pakaian terus 2012 beralih jualan sampah MMT bekas sampai sekarang. Jualannya di pasar," kata Shomad di Pondok Boro pada Kamis (16/10/2025).
Shomad mengatakan tempat singgah ini khusus laki-laki. Para penghuni berasal dari berbagai daerah, mulai dari Kebumen, Sragen, hingga luar Jawa Tengah yang bekerja sebagai pedagang, kuli, atau sopir. Hubungan antar penyewa juga baik layaknya keluarga.
"Ya di sini kayak saudara semua, kayak kakak adik. Kalau ada yang kesusahan ya saling bantu," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di detikJateng.
(aqi/aqi)












































