Gen Z di China Pilih Tinggal di Kota Mati, Ternyata Ini Alasannya

Gen Z di China Pilih Tinggal di Kota Mati, Ternyata Ini Alasannya

ilham fikriansyah - detikProperti
Rabu, 04 Mar 2026 07:01 WIB
Gen Z di China Pilih Tinggal di Kota Mati, Ternyata Ini Alasannya
Ilustrasi apartemen di China. Foto: Future Publishing via Getty Image/Future Publishing
Jakarta -

Ada fenomena unik yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di China. Anak muda Generasi Z atau sering disebut Gen Z lebih memilih tinggal di kota mati yang jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Apa alasannya? Ternyata mereka ingin tinggal di rumah atau apartemen yang harga sewanya sangat murah-meriah dibandingkan di perkotaan besar, seperti Beijing, Shanghai, atau Guangzhou.

Salah satunya adalah Sasa Chen, wanita muda yang mengalami kelelahan mental karena tekanan pekerjaan dan biaya hidup mahal di China. Semula ia bekerja pada salah satu perusahaan di bidang keuangan di Shanghai, tapi akhirnya memutuskan untuk pindah ke pinggiran kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Chen memutuskan tinggal di sebuah apartemen kosong di kawasan tiruan 'Venesia-nya China' di Provinsi Jiangsu, China Timur. Chen hanya perlu membayar uang sewa sebesar 1.200 RMB atau sekitar Rp 2,9 juta (kurs Rp 2.448) per bulan.

Sebagai perbandingan, harga rata-rata apartemen sewa di Shanghai sekitar 3.000 RMB atau Rp 7,3 jutaan per bulan. Sedangkan untuk apartemen yang lebih nyaman dan besar biaya sewanya mencapai 8.000 RMB atau sekitar Rp 19,5 juta per bulan.

ADVERTISEMENT

Meski harus meninggalkan Shanghai yang ramai dan banyak tempat hiburan, Chen tidak mempermasalahkan hal itu. Ia malah lebih bahagia selama tinggal di 'kota mati' tersebut karena bisa menikmati pemandangan laut, udara bersih, dan tentunya harga sewa apartemen yang murah.

"Saya kini punya banyak waktu luang, kebebasan untuk melakukan apa pun yang saya inginkan. Saya benar-benar menjalani hidup seperti yang saya inginkan," kata Chen dikutip dari AP News, Selasa (3/3/2026).

An aerial view shows unfinished residential buildings of the Gaotie Wellness City complex in Tongchuan, Shaanxi province, China September 12, 2023. REUTERS/Xiaoyu YinSalah satu apartemen kosong di China. Foto: REUTERS/Xiaoyu Yin

Para ahli menyebut Chen merupakan salah satu dari sekian banyak anak muda yang mulai memikirkan untuk tinggal di pinggiran kota, atau bahkan di kota mati sekali pun. Mereka memanfaatkan harga properti yang sangat murah untuk dijadikan tempat tinggal.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya yang berbondong-bondong untuk pindah ke kota besar, mencari karier yang gemilang, dan tinggal di rumah besar untuk meningkatkan status sosial.

Padahal, Chen sebelumnya bekerja di salah satu gedung pencakar langit di Shanghai dan memperoleh penghasilan hingga US$ 100 ribu atau Rp 1,6 miliar (kurs Rp 16.870) per tahun. Namun, ia memilih menjaga kesehatan mentalnya sehingga memutuskan untuk resign, pindah ke kota terpencil, dan tinggal di apartemen yang harga sewanya murah-meriah.

"Sekarang saya bangun jam 10 pagi setiap hari, mengisi hari dengan memasak, bersantai, dan berjalan-jalan. Saya tidak pernah percaya bahwa bekerja adalah makna hidup," tuturnya.

'Kota Mati' di China Banyak Dilirik Anak Muda untuk Tempat Tinggal

Tianducheng kota mati di China/Aly Song-reutersTianducheng, salah satu kota mati di China. Foto: Aly Song/REUTERS.

Bagi yang belum tahu, China memiliki kota tiruan mirip seperi Venesia di Italia yang berjuluk 'Life in Venice'. Kota satelit yang dibuat untuk tempat tinggal dan wisata itu kondisinya kini terbengkalai lantaran harga properti di China terus anjlok pasca pandemi COVID-19.

Mengetahui harga apartemen yang murah-meriah, Chen mulai menabung dengan menyisihkan gaji per bulannya. Ia berhasil mengumpulkan uang sekitar US$ 290 ribu atau Rp 4,8 miliar, lalu pindah ke 'Life in Venice' karena menemukan apartemen dengan sewa terjangkau.

Dengan biaya sewa yang sangat rendah, Chen bahkan telah memperkirakan dapat tinggal di sana selama seumur hidup. Maka dari itu ia memutuskan untuk resign dari kantor walau usianya masih 28 tahun.

"Ini adalah tren dan bisa lebih luas lagi. Orang-orang mulai meninggalkan pekerjaannya, padahal jalan kariernya sangat jelas," ungkap Direktur Institut Max Planck untuk Antropologi Sosial di Jerman, Xiang Biao.

Selain 'Life in Venice', ada beberapa kota sepi di China yang perlahan menjadi kota hantu, salah satunya Hegang di Provinsi Heilongjiang. Dulunya kota ini ramai penduduk karena merupakan pusat tambang batu bara, tapi semakin menipisnya stok batu bara membuat tambang di sana mulai tutup.

Alhasil, jumlah penduduknya perlahan berkurang karena mulai pindah ke kota-kota besar di China. Kini, jumlah hunian kosong di Hegang malah lebih banyak daripada total penduduknya.

Kota Hegang di ChinaKota Hegang di China Foto: Wikimedia Commons/CCA 4.0/STW932

Banyaknya hunian kosong telah dimanfaatkan oleh sejumlah agen properti di Hegang. Agar cepat laku, mereka menawarkan rumah dan apartemen yang harganya jauh lebih murah daripada sebuah mobil.

Para agen properti juga memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan apartemen dan rumah di Hegang. Menariknya, tidak hanya penduduk lokal saja yang tertarik, tapi sejumlah warga asing juga kepincut untuk membeli hunian di sana.

Chen Zhiwu, seorang profesor keuangan dari Universitas Hong Kong menyebut biaya hidup yang tinggi dan peluang kerja kecil di kota-kota besar mendorong orang untuk pindah ke kota kecil dengan biaya hidup lebih murah.

"Hal ini wajar. Generasi muda zaman sekarang sedang menghadapi kenyataan dan berpikir keras tentang masa depan mereka yang tidak pasti," imbuh Zhiwu.




(ilf/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads