Gempa dengan kekuatan M 7,1 yang mengguncang Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang dan menyebabkan Kastil Kumamoto yang berusia ratusan tahun rusak.
Kastil Kumamoto merupakan salah satu kastil tertua di Jepang, usianya diperkirakan telah mencapai 418 tahun.
Kastil ini dibangun pada 1607 oleh Kato Kiyomasa, seorang daimyo atau penguasa feodal pertama kastil tersebut.
Dilansir dari Reuters, bagian yang terdampak gempa adalah bagian dinding batu di luar kastil. Beruntungnya di luar dinding tersebut adalah tanah lapang dan kolam sehingga ketika batu berjatuhan langsung runtuh ke area yang aman dan jauh dari posisi tangga akses pengunjung.
Titik dinding yang rusak bukan hanya satu, tapi ada pada beberapa tempat. Untungnya, bangunan inti dikabarkan masih tetap berdiri kokoh.
Walau demikian, debu yang ditimbulkan cukup parah. Bahkan dari kejauhan saja bisa terlihat kumpulan debu beterbangan setinggi rumah.
Sejarah Kastil Kumamoto
Mengingat usianya yang panjang, kastil ini telah menjadi saksi bisu banyak peristiwa penting yang pernah terjadi di Pulau Kyushu. Salah satu yang paling terkenal adalah pertempuran terakhir antara 20.000 samurai dan pemerintah Meiji yang sedang berkuasa.
Meskipun sebutannya adalah kastil, sebenarnya bangunan ini dulunya digunakan juga sebagai benteng kuat dengan ciri khasnya yang serba hitam.
Sebelum ada gempa, beberapa bagian dari kastil ini termasuk dinding batu terluar sempat mengalami rekonstruksi atau pembangunan kembali.
Dilansir dari BBC, kerusakan sempat terjadi karena kastil dihantam gempa yang jauh lebih besar dari kejadian terbaru, yakni berkekuatan magnitude 7,3 yang melanda Jepang pada 16 April 2016.
Kondisi kastil pada saat itu nyaris hancur. Hampir sebagian besar bangunannya terdampak. Padahal selama 400 tahun lamanya kastil itu berdiri, tidak pernah goyah selama peperangan terjadi.
Menara-menara kotak dan dinding batu melengkung atau yang dikenal sebagai musha-gaeshi runtuh. Bagian termegah dari kastil tersebut, yakni menara utama kastil atau tenshukaku mengalami kerusakan. Tidak terkecuali genteng-genteng yang hancur, fondasi yang ambruk, dan detail bangunan bernama shachihoko (hewan-hewan folklorik dengan kepala harimau dan badan ikan mas) berserakan di lantai.
Demi mempertahankan warisan sejarah, Jepang rela melakukan rekonstruksi dengan menggelontorkan dana sebesar 63,4 miliar yen atau saat ini setara Rp 7 triliun (kurs Rp 110).
"Kastil tersebut mengalami kerusakan yang sangat parah akibat gempa bumi sehingga perbaikannya membutuhkan banyak waktu, uang, pengetahuan khusus, teknologi, dan tenaga kerja," kata Issei Kanada, manajer Perlindungan Properti Budaya di Pusat Penelitian Kastil Kumamoto pada 2018, dikutip dari BBC.
"Mengingat nilai budaya intrinsiknya, serta pentingnya sebagai tujuan wisata, kami berencana untuk melanjutkan perbaikan dengan cara yang paling cepat dan efisien," lanjutnya.
Simak Video "Video Gempa di Jepang: Rumah Terbakar, Kereta Terguling-Mal Runtuh"
(aqi/abr)