Project Hail Mary: Ketika Manusia-Alien Collab untuk Selamatkan Bumi
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Umat manusia berada di ambang kepunahan. Bumi yang mereka tinggali segera membeku karena matahari semakin meredup. Matahari meredup karena energinya dihisap oleh mikroorganisme alien.
Satu-satunya cara untuk menyelamatkan bumi adalah dengan menjalankan misi penjelajahan luar angkasa. Misi penjelajahan ini dinamai Project Hail Mary.
Ryland Grace (Ryan Gosling) ditunjuk sebagai salah satu astronot untuk misi ini. Penunjukkan ini dilakukan karena Grace adalah satu-satunya ilmuwan biologi yang paham soal mikroorganisme dari luar angkasa. Grace yang sehari-hari bekerja sebagai guru SMP, harus rela meninggalkan zona nyamannya. Meninggalkan bumi. Perjalanan one way ticket.
Meskipun menolak, Grace tetap dipaksa. Grace dibuat koma dan langsung dikirim ke angkasa dengan pesawat ulang alik bersama dua astronot lainnya. Sayangnya, dalam perjalanan yang berjarak jutaan tahun cahaya itu, dua rekan Grace mati duluan. Grace kebingungan saat terbangun dari koma. Dia sendirian. Grace juga sempat tak ingat siapa dan apa yang harus dia lakukan.
Perlahan-lahan, ingatan Grace pulih. Dia ingat bahwa nasib umat manusia berada di tangannya.
Project Hail Mary (2026). Foto: Dok. Ist |
Kemudian muncullah makhluk Eridian yang berasal dari planet Erid. Grace berusaha menjalin komunikasi dengan alien yang ia namai Rocky itu. Mereka akhirnya bisa berkomunikasi dengan lancar dan bersahabat. Keduanya memutuskan untuk berkolaborasi untuk melakukan penjelajahan bersama.
Lalu, apakah kolaborasi Grace dan Rocky bisa menyelamatkan planetnya masing-masing?
Review:
Project Hail Mary bisa dibilang sebagai Interstellar (2014) versi yang lebih ngepop. Film ini memang nggak sekompleks film arahan Christopher Nolan itu, tapi bukan berarti pengolahan ceritanya dangkal. Project Hail Mary termasuk film sainfiksi yang digarap dengan sangat baik.
Film yang diadaptasi dari novel karangan Andy Weir ini menawarkan segala unsur yang ingin kita lihat dari film sainfiksi. Mulai dari humor sampai soal cerita survive astronot di luar angkasa.
Dari sisi humor, Project Hail Mary sangatlah menghibur. Banyak celetukan-celetukan yang bisa bikin para penonton ketawa. Ringan tapi nggak kacangan. Jokesnya dilempar di momentum yang pas. Kalau dihitung, mungkin isian humornya ada hampir di sekitar 40 menit awal film.
Momen saat Grace terbangun dari koma dan berkomunikasi dengan AI kapal ulang alik, sudah terasa lucu sekali. Momen lucu bisa berbaur di sela-sela momen sedih. Agak unik memang, karena sedih dan lucu bisa diolah menjadi satu paket.
Sedangkan untuk word building-nya, penonton akan cukup paham dengan kondisi latar imajinernya. Yakni kondisi dunia apokaliptik, eksperimen biologi dan segala hal seputar sains. Semua bisa dicerna meskipun nggak mudah juga.
Project Hail Mary (2026). Foto: Dok. Ist |
Walaupun kamu nggak punya nilai mentereng di pelajaran ilmu pengetahuan alam, kamu nggak akan terlihat bodoh saat menonton film ini. Seenggaknya kamu dapat sedikit wawasan soal biologi molekuler dan astronomi.
Untuk akting, ah, Ryan Gosling kayaknya nggak perlu diragukan lagi. Sebab Ryan bukan astronot newbie. Ryan sebelumnya juga pernah jadi astronot, memerankan sosok Neil Armstrong di film biopik First Man (2018).
Dengan modal pengalaman tersebut, akting Ryan terlihat sangat meyakinkan. Ryan nggak cuma akting sebagai astronot yang bisa muter-muter di ruang hampa. Ryan mampu membawa penonton ikut hanyut dalam kegelisahan tokoh Grace.
Tentu saja yang paling gemilang dari akting Ryan adalah chemistry yang dibangun saat harus berinteraksi dengan si alien, Rocky. Rocky ini alien yang bentuknya kayak batu antariksa.
Awalnya mereka cuma berkomunikasi lewat gerak. Hingga akhirnya bahasa Rocky bisa diterjemahkan lewat bantuan program komputer. Chemistry bisa terbangun dengan natural. Ryan seperti paham banget cara menjalin relasi sama batu. Ya, sekali lagi, lawan aktingnya batu.
Project Hail Mary (2026). Foto: Dok. Ist |
Kemudian, isian lagu-lagunya semakin membuat filmnya semakin meriah. Saya nggak pernah nyangka, lagu Two of Us dari The Beatles bisa klop banget sama nuansa persahabatan Grace dan Rocky. Alhasil pesan lagu itu terlihat selaras dengan cerita filmnya.
Lalu soal visual. Bagian ini adalah pengalaman yang paling magis dari menonton Project Hail Mary. Kejernihan visualnya benar-benar real. Rasanya seperti dibawa terbang ke galaksi lain. Apalagi kalau kamu menontonnya di studio IMAX.
Project Hail Mary membuat kita percaya bahwa masih ada film sainfiksi yang dibuat dengan hati. Indah, hangat dan lucu. Persahabatan Grace dan Rocky bukti bahwa setiap makhluk hidup bisa saling berkolaborasi atas nama kehidupan.
Visual yang sangat indah, humor yang pas takarannya dan chemistry yang solid, membuat Project Hail Mary layak dinobatkan sebagai mahakarya yang tak boleh dilewatkan tahun ini. Film ini seperti pengingat, kalau manusia dan alien aja bisa berkolaborasi, masak sesama manusia nggak bisa?
| Genre | sci-fi |
| Runtime | 156 minute |
| Release Date | 20 March |
| Production Co. | Lord Miller Production Pascal Pictures Open Invite Films Waypoint Entertainment |
| Director | Phil Lord |
| Writer | Drew Goddard |
| Cast | Ryan Gosling as Ryland Grace Sandra Huller as Eva Stratt James Ortiz as Rocky |














































