Andrea Hirata Ngobrolin Menulis Kreatif di Kantor detikcom

Pertama kali terbit pada 2005 oleh Bentang Pustaka (Mizan Group), Laskar Pelangi diadaptasi ke film tiga tahun berikutnya lalu jadi fenomenal. Tahun ini, Laskar Pelangi cetak ulang yang ke-63 dan diterjemahkan lebih dari 30 bahasa asing.
Laskar Pelangi dengan karakter yang ikonik hingga lagu-lagunya menemani masa remaja siapa pun. Parisiwata Belitong pun melesat dikunjungi wisatawan.
Karya pertama Andrea Hirata itu melambungkan namanya hingga diundang ke lebih dari seribu event di Indonesia dan luar negeri. Andrea Hirata dan Laskar Pelangi seakan jadi ikon salah satu karya sastra yang sukses diadaptasi.
Pada Rabu (25/6) malam, Andrea Hirata sambangi kantor detikcom di kawasan Transmedia, Jakarta Selatan. Di malam yang terang, lebih dari 25 orang teman-teman detikcom bookclub berkumpul di rooftop lantai 9.
Pria yang akrab disapa Pak Cik itu memulai presentasinya dengan bawa 4 buah buku sebagai bahan ajar. Ada Margaret Atwood lewat The Handmaid Tale, novelis Sri Lanka Shehan Karuntilaka The Seven Moons of Maali Almeida hingga buku Bonnie Garmus Lesson in Chemistry.
Ia kasih contoh bab pertama dari novel-novel yang dibawanya. "Lihat paragraf ketiga di chapter satu ini, lihat seberapa detail deskripsi yang dijabarkan sebelum memulai cerita," ungkap Andrea Hirata.
Di bagian Margaret Atwood yang diakuinya sebagai idola, Pak Cik ngebuka deskripsi tentang negeri Gilead yang penuh aturan dan larangan bagi perempuan. Hal kedua yang diungkap Pak Cik ada tentang membangun karakter.
Ia ingat cerita asal muasal Laskar Pelangi bermula dari keresahan sebagai seorang anak kampung yang ingin belajar. Gimana bisa seorang Lintang dari desa Banggar tahu teori Issac Newton, atau Ikal yang punya mimpi lebih dari dunia di sekitarnya.
"Keresahan saya, seorang anak kampung yang miskin itu, bikin gundah dan menulis cerita Laskar Pelangi. Semua keresahan itu menjadi sebuah ide atau gagasan cerita," ungkap Pak Cik.
Sepanjang ngobrol Bincang Kreatif bareng detikcom, Andrea Hirata juga nyebutkan beberapa karya novelis dunia lainnya. Ada Truman Capote lewat In The Blood, Paulo Coelho yang ditemuinya di Leipzig Book Fair hingga buku-buku Gabriel Marquez yang memukaunya.
Tapi ada juga satu karya penulis Indonesia yang dipuji Pak Cik. Ia adalah Budi Darma. "Bacalah buku-buku Pak Budi Darma yang saya puji sebagai karya terbaik sastra Indonesia," katanya.
Tak lupa di akhir obrolan, Pak Cik nge-spill mengenai naskah-naskah yang sudah ada di penerbit namun belum ikhlas diterbitkan. Ia hanya berucap semoga ke depannya ikhlas buat melahirkan lagi karya baru.
(tia/aay)