Situs Peningki Lama Tarakan, Tempat Healing Seru Sarat Sejarah

Kalimantan Utara

Situs Peningki Lama Tarakan, Tempat Healing Seru Sarat Sejarah

Oktavian Balang, Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 07 Jul 2026 21:00 WIB
Pemandangan di Peningki Laid Tarakan. (Oktavian Balang/detikKalimantan)
Foto: Pemandangan di Peningki Laid Tarakan. (Oktavian Balang/detikKalimantan)
Tarakan -

Kota Tarakan di Kalimantan Utara ternyata punya kawasan bersejarah peninggalan Perang Dunia II. Situs Peningki Lama namanya, yang saat ini telah disulap menjadi destinasi wisata alam sekaligus museum terbuka.

Berada di pesisir timur Pulau Tarakan yang menghadap Laut Sulawesi, kawasan ini memiliki posisi yang sangat strategis. Di sana, detikers bisa menghabiskan waktu menikmati kawasan hutan mangrove sembari menyaksikan peninggalan sejarah Perang Dunia II yang masih ada sampai sekarang.

Peningki Lama merupakan salah satu Kawasan Cagar Budaya Kota Tarakan seluas 6,1 hektare yang memiliki peninggalan militer pada masa Perang Dunia II. Ada tiga jenis benda cagar budaya utama di sini, yaitu enam meriam pantai, tiga pillbox bunker, dan tiga gudang logistik. Ketiga jenis bangunan itu merupakan bagian dari sistem pertahanan yang dibangun Belanda ketika mempertahankan Tarakan sebagai wilayah penghasil minyak bumi di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain peninggalan militer, penelitian arkeologi yang dilakukan Balai Arkeologi Kalimantan juga menemukan pecahan gerabah lokal, keramik asing dari Dinasti Ming dan Qing, serta jejak permukiman lama. Temuan-temuan ini memperkuat bukti bahwa kawasan pesisir Tarakan termasuk dalam jaringan perdagangan dunia sebelum memasuki masa kolonial.

Saksi Pertempuran Perebutan Minyak Tarakan

Pemandangan di Peningki Laid Tarakan. (Oktavian Balang/detikKalimantan)Pemandangan di Peningki Laid Tarakan. (Oktavian Balang/detikKalimantan) Foto: Pemandangan di Peningki Laid Tarakan. (Oktavian Balang/detikKalimantan)

Keberadaan meriam, bunker, dan gudang logistik di Peningki Lama erat kaitannya dengan minyak yang dihasilkan oleh Bumi Paguntaka ini. Pulau Tarakan yang memiliki luas sekitar 303 kilometer persegi memang relatif kecil, tetapi punya cadangan minyak bumi yang sangat besar. Eksploitasi minyak dimulai sejak 1897 dan menjelang Perang Dunia II produksinya mencapai sekitar 6 juta barel per tahun dengan puncaknya sekitar 80.000 barel minyak setiap bulannya.

Karena perannya yang besar sebagai penghasil minyak, Belanda membangun sistem pertahanan lengkap dari darat, laut, hingga udara. Berbagai instalasi militer didirikan untuk melindungi ratusan sumur minyak, kilang pengolahan, serta lapangan udara yang saat ini masih bisa dilihat dari peninggalan-peninggalan di Peningki Lama.

Ketika Perang Dunia II meluas ke kawasan Asia Pasifik, Tarakan menjadi sasaran utama invasi Jepang. Pada 11-12 Januari 1942, pecahlah Pertempuran Tarakan yang merupakan salah satu operasi militer pertama Jepang di Hindia Belanda. Saat itu Jepang menargetkan Tarakan karena pulau ini memiliki sekitar 700 sumur minyak dan berbagai fasilitas yang sangat dibutuhkan untuk mendukung operasi militernya di Asia Tenggara.

Berbagai Peninggalan Belanda di Peningki Lama

Meriam peningki di Tarakan.Meriam peningki di Tarakan. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan

Enam meriam pantai berjejer menghadap laut. Semuanya memiliki bentuk, orientasi, dan spesifikasi yang relatif sama. Meriam-meriam tersebut ditempatkan dekat garis pantai untuk menghalau kapal musuh sebelum memasuki wilayah Tarakan.

Setiap unit terdiri dari pondasi beton, ruang perlindungan awak di bagian bawah, laras, shield, hingga deck tempat tentara melancarkan aksinya. Saat ini sebagian besar meriam masih dapat dilihat, meskipun beberapa komponennya ada yang hilang atau rusak karena usia, dicuri, maupun akibat cuaca.

Selain meriam, terdapat tiga pillbox bunker yang dulu berfungsi sebagai pos pertahanan sekaligus gardu pengawas. Pillbox merupakan bangunan beton yang dindingnya sangat tebal dilengkapi lubang kecil untuk mengamati gerak-gerik penyelundup.

Sebagian besar bunker sengaja ditanam ke dalam tanah untuk kamuflase. Hanya sekitar seperempat bagian atas bangunan yang terlihat di permukaan, sementara pintu masuknya berada di bagian belakang melalui lorong yang posisinya lebih rendah dari permukaan tanah supaya keberadaan bunker lebih sulit terlihat dari luar.

Tidak jauh dari bunker ada tiga gudang logistik yang digunakan menyimpan berbagai kebutuhan perang, mulai dari amunisi, perlengkapan tempur, maupun logistik tentara. Ketiga gudang logistik itu berbentuk persegi panjang yang dilengkapi dua ruangan utama. Gudang-gudang inilah yang mendukung operasional pasukan Belanda selama mempertahankan Tarakan.

Jadi Tempat Healing

Saat ini, Situs Peningki Lama tidak hanya berfungsi sebagai cagar budaya, tapi juga jadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kota Tarakan. Detikers bisa berjalan menyusuri kawasan sambil menikmati rindangnya hutan mangrove, melihat langsung deretan meriam, memasuki area bunker, dan mengamati bangunan gudang logistik yang masih berdiri.

Di sana juga ada juru pelihara yang bertanggung jawab merawat dan mengawasi seluruh koleksi cagar budaya di Peningki Lama. Jadi, jika detikers punya pertanyaan seputar sejarah dan hal-hal lainnya terkait Situs Peningki Lama, ada juru pelihara yang bisa diajak berdiskusi!

Situs Peningki Lama bisa jadi salah satu opsi destinasi wisata yang patut dikunjungi di Tarakan, Kalimantan Utara. Dalam satu kunjungan, detikers bisa menyusuri jejak sejaran Perang Dunia II sekaligus healing menikmati alam di pesisir Tarakan.

Halaman 2 dari 2
(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads