Rumah Keluarga Tjhia atau Rumah Marga Tjhia (Chia) adalah salah satu tempat wisata ikonik di Singkawang, terutama saat momen Imlek dan Cap Go Meh. Bukan sekadar bangunan, rumah ini adalah 'museum hidup' yang bersejarah.
Bangunan cagar budaya ini menjadi saksi bisu sejarah toleransi, akulturasi budaya, dan kehangatan kuliner khas Singkawang. Berikut adalah panduan lengkap mengenai Rumah Keluarga Tjhia, mulai dari sejarah, arsitektur, kuliner khas, hingga tips berkunjung.
Sejarah: Dari Pelarian Menjadi Saudagar
Berdasarkan informasi di lokasi Rumah Keluarga Tjhia, kisah rumah ini bermula dari sosok Chia Siu Xi yang juga disebut dengan nama Mandarin Xie Shou Shi. Dia adalah perantau dari Desa Jian Mei, Kabupaten Hai Cang, sebuah desa pesisir kecil di Fujian, China.
Perjalanan Chia Siu Xi ke Kalimantan penuh lika-liku. Ia tiba di Singkawang dengan beberapa perahu layar setelah melarikan diri dari kerusuhan yang terjadi di Semenanjung Malaya. Di tanah baru ini, ia tidak langsung sukses. Chia Siu Xi bekerja keras menggarap lahan tidur hingga bernilai ekonomis tinggi.
Kerja kerasnya membuahkan hasil luar biasa. Dari hasil pertanian dan perkebunan, ia membangun armada kapal dagang sendiri untuk mengekspor komoditas bumi menuju Singapura. Kesuksesan ini turut mendongkrak ekonomi Singkawang, mengubah perkampungan sunyi menjadi bandar dagang yang ramai.
Pada masa itu, Chia Siu Xi mendirikan kantor dagang bernama Chia Hiap Seng (Tjhia Hiap Seng). Karena pengaruh besarnya, ia menjadi sosok tersohor dan sangat dihormati, baik oleh masyarakat maupun pejabat pemerintah kolonial Belanda.
Sebagai tanda penghormatan, pemerintah Hindia Belanda menghibahkan tanah seluas kurang lebih 5.000 meter persegi kepada Chia Siu Xi. Di atas tanah inilah, pada tahun 1901, ia membangun kompleks rumah megah ini.
(bai/bai)