Sejarah Kota Pontianak yang Berulang Tahun ke-254

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Kamis, 23 Okt 2025 14:59 WIB
Tugu Khatulistiwa, salah satu ikon Kota Pontianak. Foto: (Merza Gamal/d'Traveler)
Pontianak -

Kota Pontianak merupakan ibu kota dari Kalimantan Barat. Kota ini dikenal sebagai kota yang dilintasi garis khatulistiwa, sehingga diberi julukan Kota Khatulistiwa.

Garis lintang nol derajat atau equator melintasi wilayah ini. Hari ini, 23 Oktober 2025, Kota Pontianak berulang tahun ke-254. Pada tahun 1771 silam Pontianak dibangun dengan banyak harapan, melalui banyak sejarah, hingga menjadi pusat perekonomian di Kalbar.

Sejarah Kota Pontianak

Suasana salat di Masjid Jami di Pontianak, Kalimantan Barat. Foto: Dok. ANTARA Foto/Jessica Helena Wuysang

Dalam buku Sejarah Sosial Daerah Kotamadya Pontianak oleh Syarif Ibrahim Alqadrie dan Pandil Sastrowardoyo terbitan Depdikbud dijelaskan Kota Pontianak disebut sebagai pintu gerbang daerah Kalimantan Barat karena letaknya sangat strategis dilihat dari lalu lintas laut.

Pantai Kalimantan Barat terletak di jalur lalu lintas laut international yang menghubungkan Nusantara dengan wilayah Asia melalui Selat Malaka. Dengan demikian sejak dulu daerah ini sering menjadi persinggahan kapal kapal besar.

Sejarah Kota Pontianak tidak terlepas dari sejarah kesultanannya. Setiap tanggal 23 Oktober masyarakat memperingati hari jadi Kota Pontianak.

Tanggal tersebut merupakan awal berdirinya suatu tempat pemukiman baru bagi kelompok pendatang yang ingin menyebarkan agama Islam dan sekaligus ingin memulai kehidupan baru.

Kota Pontianak didirikan pada 23 Oktober 1771 M (24 Rajab 1181 H) oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie. Rombongan tersebut membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal.

Kelompok pendatang ini dipimpin oleh Syarif Abdurakhman Alkadrie, putra Syarif Alhabab Alkadrie yang berasal dari Hadralmaut. Pemukiman baru itu dikenal dengan wilayah Kesultanan Pontianak yang terletak tepat pada persimpangan antara Sungai Kapuas Kecil dengan Sungai Landak.

Berdirinya pemukiman baru itu ditandai dengan berdirinya surau di tepi Sungai Kapuas Kecil tidak jauh dari muara Sungai Landak. Surau kecil itu sekarang menjadi Mesjid Jami Sultan.

Istana Kadariyah Kesultanan Pontianak. Foto: Dok. Kemdikbud

Selanjutnya di sekitar mesjid itu memanjang ke tepi Sungai Kapuas Kecil, Sungai Landak yang mengarah ke dalam dan kemudian menjadi kampung-kampung yang sangat penting dalam mendukung perkembangan kesultanan.

Di tengah pemukiman, berdiri sebuah kraton sebagai pusat pemerintahan, ialah Keraton Kadriyah. Dalam waktu yang relatif cepat pemukiman tersebut berkembang secara pesat jauh mendahului pemukiman lainnya.

Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Kota Pontianak berkembang menjadi Kota Perdagangan dan Pelabuhan. Tahun 1192 H, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak yang pertama.

Adapun Sultan yang pernah memegang tampuk Pemerintahan Kesultanan Pontianak:

  • Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808
  • Syarif Kasim Alkadrie memerintah dari tahun 1808-1819
  • Syarif Osman Alkadrie memerintah dari tahun 1819-1855
  • Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tahun 1855-1872
  • Syarif Yusuf Alkadrie memerintah dari tahun 1872-1895
  • Syarifrif Muhammad Alkadrie memerintah dari tahun 1895-1944
  • Syarif Thaha Alkadrie memerintah dari tahun 1944-1945
  • Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tabun 1945-1950.




(aau/bai)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB