3 Versi Asal-usul Nama Pontianak, Mana yang Paling Sering Kamu Dengar?

3 Versi Asal-usul Nama Pontianak, Mana yang Paling Sering Kamu Dengar?

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Jumat, 17 Jul 2026 17:00 WIB
Ilustrasi Pemerintahan Kesultanan Pontianak
Ilustrasi Pemerintahan Kesultanan Pontianak/Foto: Gemini AI
Pontianak -

Tahukah detikers bagaimana asal-usul nama Pontianak? Ternyata ada banyak cerita mengenai asal-usul nama kota tersebut, termasuk kaitannya dengan kisah horor hantu perempuan kuntilanak.

Cerita tentang hantu perempuan yang konon menghuni hutan di tepian Sungai Kapuas adalah cerita legenda yang dipercaya menjadi alasan penamaan ibu kota Provinsi Kalimantan Barat itu. Namun jika menelusuri berbagai sumber lain, asal-usul nama Pontianak tidak hanya memiliki satu versi.

Selain legenda kuntilanak, ada sejumlah teori lain yang menghubungkan nama Pontianak dengan pohon punti, istilah pontian yang berarti tempat persinggahan, maupun penyebutan masyarakat Tionghoa yang mengenal kota ini sebagai Kun Tian atau Kundian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yuk, kita telusuri ragam asal-usul nama Pontianak beserta sejarah berdirinya kota yang dikenal sebagai Kota Khatulistiwa.

Sejarah Berdirinya Pontianak Berawal dari Kesultanan Pontianak

Melalui laman resminya, Pemerintah Kota Pontianak menjelaskan sejarah Kota Pontianak tidak dapat dipisahkan dari sosok Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Putra ulama besar Al Habib Husin Alqadrie itu mendirikan permukiman baru pada 23 Oktober 1771 atau 14 Rajab 1185 Hijriah di kawasan pertemuan tiga sungai, yakni Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak.

Lokasi tersebut dipilih karena sangat strategis sebagai jalur perdagangan. Dari kawasan inilah kemudian berkembang sebuah pusat pemerintahan sekaligus pelabuhan dagang yang ramai dikunjungi pedagang dari Nusantara hingga mancanegara.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pertama. Sebagai penanda berdirinya pemerintahan, dibangun Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman dan Istana Kadriyah yang sekarang masih berdiri di kawasan Kampung Dalam Bugis, Pontianak Timur.

Versi Pertama: Berasal dari Kisah Kuntilanak

Versi yang paling terkenal adalah nama Pontianak berasal dari kata puntianak. Nama ini merupakan sebutan masyarakat Melayu terhadap makhluk halus yang dikenal sebagai kuntilanak, seperti dikutip laman DPPKBPPPA Pontianak yang melansir buku Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM.

Menurut cerita, ketika Sultan Syarif Abdurrahman bersama rombongannya menyusuri Sungai Kapuas untuk mencari lokasi permukiman baru, mereka sering mendengar suara tangisan dan gangguan dari makhluk gaib yang dipercaya menghuni hutan di sekitar sungai. Untuk mengusir gangguan tersebut, Syarif Abdurrahman memerintahkan agar meriam ditembakkan ke arah hutan.

Konon dentuman meriam itu membuat kuntilanak melarikan diri. Lokasi jatuhnya peluru meriam kemudian dijadikan titik pembangunan kota Pontianak. Dalam cerita juga disebutkan Sultan menembakkan meriam ke tiga arah yang kemudian menjadi lokasi Kesultanan Pontianak, yaitu kawasan Istana Kadriyah, Masjid Jami Sultan Abdurrahman, dan kawasan permukiman awal di sekitar Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

Karena kawasan tadi dipercaya menjadi tempat berkumpulnya kuntilanak, masyarakat kemudian menyebut daerah itu sebagai Pontianak. Dalam bahasa Melayu lama, istilah puntianak juga sering dimaknai sebagai "perempuan yang meninggal saat melahirkan".

Versi Kedua: Berasal dari Pohon Punti

Tidak semua sejarawan sepakat kalau nama Pontianak berasal dari kisah makhluk halus. Versi lain menyebut nama Pontianak berasal dari pohon punti, yaitu pohon besar yang dahulu banyak tumbuh di kawasan Kalimantan Barat.

Teori ini diperkuat oleh isi surat Husein bin Abdul Rahman Al-Aidrus kepada Sultan Syarif Yusuf Al-Kadrie yang menyebut keberadaan pohon punti sebagai penanda kawasan tersebut. Dari publikasi berjudul Beberapa Aspek Peradilan Agama Islam di Kesultanan Pontianak Tahun 1880-an karya HenriChambert-Loir, dikutip isi surat tersebut berbunyi sebagai berikut.

"...di dalam itu watasan telah ada juga pohon-pohon hamba tuanku yang sudah bertanam memang di situ, embawang ada 3, rambai 8, keranji 2, buluh 7 rumpun, pohon punti 1, pohon kandis 1, dan beberapa pula pohon sagu yang hamba tuanku tanam...".

Penyebutan pohon punti dalam dokumen tersebut menunjukkan bahwa jenis pohon ini memang telah dikenal dan tumbuh di wilayah Pontianak pada masa Kesultanan. Walaupun isi surat tersebut tidak secara eksplisit menjelaskan asal-usul nama Pontianak.

Versi Ketiga: Berasal dari Kata Pontian atau Tempat Singgah

Ada pula pendapat yang menghubungkan nama Pontianak dengan kata pontian yang berarti tempat persinggahan atau pemberhentian. Secara geografis, kawasan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak memang sudah sejak lama menjadi jalur pelayaran utama di Kalimantan bagian barat.

Kapal-kapal dagang dari pesisir Sumatera, Jawa, Sulawesi, Semenanjung Malaya, hingga Tiongkok bersandar untuk mengisi logistik maupun berdagang. Karena berfungsi sebagai tempat singgah para pedagang, wilayah tersebut kemudian dikenal sebagai Pontian, yang kemudian berubah menjadi Pontianak.

Dari Kota Kesultanan Menjadi Ibu Kota Kalimantan Barat

Tidak lama setelah Kesultanan Pontianak berdiri, Belanda mulai memperluas pengaruhnya di wilayah Kalimantan Barat. Menurut catatan V.J. Verth dalam Borneos Wester Afdeling, utusan Belanda dari Batavia mulai datang ke Pontianak pada tahun 19773 (1194 Hijriah).

Pada 5 Juli 1779, VOC menandatangani perjanjian politik dengan Sultan Pontianak yang memungkinkan Belanda mendirikan pusat administrasi di kawasan Tanah Seribu (Verkendepaal), tepat di seberang Keraton Kadriyah. Memasuki masa pendudukan Jepang, struktur pemerintahan kembali berubah.

Setelah Indonesia merdeka, sistem pemerintahan di Pontianak juga ikut mengalami beberapa kali perubahan. Pada 14 Agustus 1946 dibentuk Stadsgemeente (Landschap Gemeente) Pontianak melalui besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak, dengan R. Soepardan sebagai syahkota (wali kota) pertama.

Selanjutnya, status pemerintahan berubah menjadi Kota Besar Pontianak. Berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, status tersebut kemudian ditingkatkan menjadi Kota Praja Pontianak yang memiliki kewenangan otonomi daerah sendiri.

Seiring berkembangnya Indonesia, Kota Praja berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak pada era Orde Baru. Setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Pontianak resmi menjadi pusat kota sekaligus Ibu Kota Kalimantan Barat.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Ikut Main Barongsai Seru bersama Artis di Pontianak "
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads