Masyarakat suku Dayak memang terkenal memiliki olahan makanan khas yang asalnya dari hewan-hewan tidak biasa, contohnya ada ulat dari pohon sagu atau pohon aren, tembiluk yang juga merupakan ulat kayu, ular rica, dan kelelawar.
Bagi sebagian besar orang, kelelawar bukanlah lauk yang lazim dikonsumsi. Tetapi bagi masyarakat Dayak, kelelawar dimanfaatkan untuk diolah dan dijadikan lauk yang dikenal dengan bangamat.
Bangamat atau dalam bahasa Dayak Maanyan disebut paing, yakni hidangan tradisional yang terbuat dari olahan daging kelelawar besar, khususnya jenis kalong (Pteropus vampyrus). Kelelawar ini diketahui sebagai jenis pemakan buah, berbeda dengan kelelawar pemakan serangga atau penghisap darah.
Alasan mengapa yang dikonsumsi adalah kelelawar pemakan buah karena dianggap lebih aman dan bersih karena makanannya berupa buah-buahan. Selain itu, rasanya juga lebih bisa diterima lidah masyarakat Dayak.
Sementara kelelawar pemakan serangga atau darah dihindari karena dianggap kurang layak konsumsi dan berpotensi membawa penyakit.
Awal mula konsumsi bangamat ini tujuannya sebagai obat untuk mengatasi penyakit seperti asma, gatal-gatal, dan penyakit kulit. Masyarakat Dayak percaya bahwa kelelawar bisa menyembuhkan penyakit, walaupun sampai saat ini belum terbukti secara ilmiah.