Musim durian di hutan adat Desa Kinipan, Kecamatan Batang Kawa, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah bukan hanya menjadi waktu panen buah, tetapi juga momen berkumpul bagi masyarakat Dayak Tomun. Di tengah rimbunnya hutan, durian yang baru jatuh atau dipetik tidak selalu langsung disantap.
Ada cara khas makan durian yang diwariskan turun-temurun, yakni mengolahnya menjadi sumpat, durian yang dipanggang di dalam bambu. Tradisi ini telah dikenal sejak lama oleh masyarakat Dayak Tomun.
Saat pohon-pohon durian hutan mulai berbuah lebat, warga yang bermalam di pondok-pondok sederhana di tengah hutan memanfaatkan bambu sebagai alat memasak alami. Daging durian dipisahkan dari kulitnya, sebagian masih bersama bijinya, kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu.
Ujung bambu kemudian ditutup menggunakan daun hutan berukuran lebar agar uap panas tetap terjaga di dalamnya. Setelah itu, bambu dipanggang di atas bara api hingga bagian luarnya menghitam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tampak hangus, bambu tidak sampai terbakar habis. Justru proses inilah yang menghasilkan aroma asap yang khas dan berpadu dengan manisnya durian hutan.
Bagi masyarakat Dayak Tomun, sumpat bukan sekadar makanan. Kuliner ini lahir dari cara hidup masyarakat adat yang sangat bergantung pada hutan.
Ketika musim durian tiba, warga sering menghabiskan waktu berhari-hari di pondok kebun atau pondok hutan untuk menunggu buah jatuh secara alami. Di sela aktivitas itu, durian diolah bersama sebagai hidangan yang menghangatkan suasana kebersamaan.
Tokoh Dayak Tomun Desa Kinipan, Effendi Buhing, mengatakan tradisi tersebut merupakan bagian dari pengetahuan leluhur dalam memanfaatkan hasil hutan tanpa menghasilkan banyak limbah dan tanpa membutuhkan peralatan modern.
"Sumpat adalah cara orang tua kami menikmati durian di hutan. Daging durian dimasukkan ke dalam bambu lalu dipanggang. Rasanya tetap manis, tetapi ada aroma asap yang membuatnya berbeda. Cara ini sudah dilakukan sejak nenek moyang kami ketika tinggal berhari-hari di hutan saat musim durian," ujar Effendi Buhing kepada detikKalimantan, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, bambu dipilih karena mudah ditemukan di sekitar hutan dan mampu menjaga cita rasa durian tetap alami. Seluruh proses memasak memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di alam, mulai dari bambu sebagai wadah hingga daun hutan sebagai penutup.
Selain sumpat, masyarakat Dayak Tomun juga mengenal lompu, yaitu dodol durian tradisional yang dibuat hanya dari daging durian tanpa campuran gula, tepung, maupun bahan pengawet. Daging durian dimasukkan ke dalam kuali, lalu diaduk tanpa henti selama sekitar empat hingga lima jam hingga berubah warna menjadi kuning kecokelatan dan bijinya terlepas dengan sendirinya.
Karena tidak menggunakan bahan tambahan, rasa manis yang dihasilkan sepenuhnya berasal dari durian itu sendiri. Teksturnya kenyal dan dapat disimpan lebih lama dibanding buah segar.
Tradisi lain yang juga dikenal adalah lomang, yakni ketan yang telah dimasak kemudian dicampur dengan durian sebelum dipanggang kembali di dalam bambu. Sementara untuk penyimpanan jangka panjang, masyarakat mengolah durian menjadi tempoyak, hasil fermentasi yang bisa bertahan berbulan-bulan dan diolah menjadi lauk, sambal, maupun campuran berbagai masakan.
Effendi menjelaskan, beragam olahan tersebut muncul bukan hanya karena kreativitas, tetapi juga sebagai solusi kehidupan masyarakat adat di pedalaman. Saat buah berlimpah, tidak semuanya dapat dibawa pulang ke kampung karena medan hutan yang jauh dan berat.
"Kalau semua durian dibawa utuh tentu sangat berat. Karena itu sebagian diolah menjadi sumpat, lompu, atau tempoyak. Selain lebih mudah dibawa, makanan ini juga bisa dinikmati lebih lama setelah musim durian berakhir," katanya.
Sementara itu, aktivis lingkungan Budi Baskoro menilai kuliner tradisional Dayak Tomun merupakan bagian dari pengetahuan ekologis masyarakat adat yang lahir dari hubungan panjang dengan hutan. Menurutnya, tradisi mengolah durian menjadi sumpat maupun lompu membuktikan bahwa hutan tidak hanya menyediakan hasil alam, tetapi juga melahirkan budaya pangan yang kaya dan berkelanjutan.
"Tradisi memasak durian di dalam bambu menunjukkan bagaimana masyarakat adat memanfaatkan hasil hutan secara bijaksana. Pengetahuan seperti ini hanya bisa lahir dari kehidupan yang sangat dekat dengan alam. Karena itu, menjaga hutan Kinipan sama artinya dengan menjaga budaya, pengetahuan, dan identitas masyarakat Dayak Tomun," ujar Budi.
Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"
[Gambas:Video 20detik]
(des/des)
