Bukan Hamil, Ini Penyebab Bekantan Punya Perut Buncit

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Rabu, 28 Jan 2026 11:59 WIB
Foto: Perut Buncit Bekantan. (Dokumentasi Taman Safari Indonesia)
Samarinda -

Jika pertama kali melihat bekantan (Nasalis larvatus), hal yang paling menarik perhatian pasti hidungnya yang besar atau warnanya oranye terang. Tapi selain itu, bekantan juga punya daya tarik lain yang tidak kalah unik.

Selain hidung, warna, dan tingkah lakunya, bekantan juga punya keunikan tersendiri pada bagian perutnya yang tampak buncit dan besar. Dibandingkan dengan monyet lainnya, bekantan memiliki perut besar yang ternyata fungsinya jauh lebih kompleks.

Apa yang membuat perut si monyet Belanda ini membesar dan bagaimana fungsi fisiologisnya? Yuk, bahas bersama detikKalimantan.

Asal Usul Sebutan Monyet Belanda

Bekantan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Foto: Oktavian Balang/detik.com

Bekantan merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang hidup di hutan bakau, rawa air tawar hingga payau, dan kawasan riparian di sepanjang sungai besar. Di daerah ini, bekantan juga lebih sering disebut monyet Belanda oleh masyarakat setempat.

Nama ini mengacu pada hidung dan perutnya yang mancung dan buncit, seperti gambaran sebagian orang Belanda pada masa kolonial. Istilah monyet Belanda hanya familiar di lingkungan Kalimantan saja, tidak digunakan secara luas.

Nama monyet Belanda bukan merupakan istilah ilmiah, tetapi sebutan yang digunakan oleh masyarakat setempat yang merujuk pada bekantan. Dikutip dari laman Kementerian Lingkungan Hidup menyebut sebutan ini berkaitan dengan kesan humor pada hidung dan perut besar bekantan yang dianggap mengingatkan pada gambaran pelaut Eropa saat itu.

Dalam bahasa Inggris, bekantan dikenal sebagai proboscis monkey atau long-nosed monkey yang merujuk pada hidungnya yang panjang dan khas. Sedangkan dalam bahasa Indonesia dan lokal Kalimantan terdapat berbagai nama lain seperti kera bekantan, pika, atau raseng.

Kenapa Perut Bekantan Buncit?

Bekantan di Faunaland, Ancol, Jakarta Utara Foto: Amalia Novia Putri/detikcom

Perut besar yang dimiliki bekantan berasal dari sistem pencernaan yang sangat khusus. Bekantan termasuk primata primarily herbivora, dengan makanan utama berupa daun-daunan, pucuk muda, tunas tanaman, biji-bijian, serta buah-buahan yang belum matang.

Hampir semua bagian tumbuhan adalah makanan bagi bekantan. Setidaknya 50% daun muda, 40% buah, diikuti biji-bijian dan bunga adalah makanan favorit bekantan. Tidak hanya itu, beberapa jenis serangga juga turut menjadi santapan bekantan, seperti yang dijelaskan pada Pusat Studi Satwa Primata IPB.

Buah matang yang mengandung banyak gula bisa memfermentasi secara berlebihan di dalam perutnya dan menyebabkan kembung, sehingga mereka cenderung mengonsumsi buah yang masih muda atau hijau.

Dilansir dari penjelasan BKSDA Kaltim, daun dan serat tumbuhan yang menjadi bahan makanannya mengandung banyak selulosa, zat yang sulit dicerna oleh sebagian besar mamalia. Untuk mengatasi ini, bekantan mengandalkan sistem pencernaan yang mirip dengan ruminansia seperti sapi.

Perutnya besar karena dibagi menjadi beberapa ruang yang dipenuhi oleh bakteri yang mampu memfermentasi serat tersebut. Bakteri ini menghasilkan asam lemak rantai pendek yang kemudian diserap sebagai sumber energi bagi bekantan.

Karena proses fermentasi ini memakan waktu dan volume yang cukup besar harus diproses sekaligus, maka itulah perut bekantan tumbuh besar, bahkan seringkali proporsinya mencapai sekitar seperempat dari total berat badannya.

Inilah alasan mengapa bekantan sering terlihat seperti punya perut buncit atau seperti sedang hamil.




(aau/aau)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork