Jika pertama kali melihat bekantan (Nasalis larvatus), hal yang paling menarik perhatian pasti hidungnya yang besar atau warnanya oranye terang. Tapi selain itu, bekantan juga punya daya tarik lain yang tidak kalah unik.
Selain hidung, warna, dan tingkah lakunya, bekantan juga punya keunikan tersendiri pada bagian perutnya yang tampak buncit dan besar. Dibandingkan dengan monyet lainnya, bekantan memiliki perut besar yang ternyata fungsinya jauh lebih kompleks.
Apa yang membuat perut si monyet Belanda ini membesar dan bagaimana fungsi fisiologisnya? Yuk, bahas bersama detikKalimantan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal Usul Sebutan Monyet Belanda
Bekantan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Foto: Oktavian Balang/detik.com |
Bekantan merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang hidup di hutan bakau, rawa air tawar hingga payau, dan kawasan riparian di sepanjang sungai besar. Di daerah ini, bekantan juga lebih sering disebut monyet Belanda oleh masyarakat setempat.
Nama ini mengacu pada hidung dan perutnya yang mancung dan buncit, seperti gambaran sebagian orang Belanda pada masa kolonial. Istilah monyet Belanda hanya familiar di lingkungan Kalimantan saja, tidak digunakan secara luas.
Nama monyet Belanda bukan merupakan istilah ilmiah, tetapi sebutan yang digunakan oleh masyarakat setempat yang merujuk pada bekantan. Dikutip dari laman Kementerian Lingkungan Hidup menyebut sebutan ini berkaitan dengan kesan humor pada hidung dan perut besar bekantan yang dianggap mengingatkan pada gambaran pelaut Eropa saat itu.
Dalam bahasa Inggris, bekantan dikenal sebagai proboscis monkey atau long-nosed monkey yang merujuk pada hidungnya yang panjang dan khas. Sedangkan dalam bahasa Indonesia dan lokal Kalimantan terdapat berbagai nama lain seperti kera bekantan, pika, atau raseng.
Kenapa Perut Bekantan Buncit?
Bekantan di Faunaland, Ancol, Jakarta Utara Foto: Amalia Novia Putri/detikcom |
Perut besar yang dimiliki bekantan berasal dari sistem pencernaan yang sangat khusus. Bekantan termasuk primata primarily herbivora, dengan makanan utama berupa daun-daunan, pucuk muda, tunas tanaman, biji-bijian, serta buah-buahan yang belum matang.
Hampir semua bagian tumbuhan adalah makanan bagi bekantan. Setidaknya 50% daun muda, 40% buah, diikuti biji-bijian dan bunga adalah makanan favorit bekantan. Tidak hanya itu, beberapa jenis serangga juga turut menjadi santapan bekantan, seperti yang dijelaskan pada Pusat Studi Satwa Primata IPB.
Buah matang yang mengandung banyak gula bisa memfermentasi secara berlebihan di dalam perutnya dan menyebabkan kembung, sehingga mereka cenderung mengonsumsi buah yang masih muda atau hijau.
Dilansir dari penjelasan BKSDA Kaltim, daun dan serat tumbuhan yang menjadi bahan makanannya mengandung banyak selulosa, zat yang sulit dicerna oleh sebagian besar mamalia. Untuk mengatasi ini, bekantan mengandalkan sistem pencernaan yang mirip dengan ruminansia seperti sapi.
Perutnya besar karena dibagi menjadi beberapa ruang yang dipenuhi oleh bakteri yang mampu memfermentasi serat tersebut. Bakteri ini menghasilkan asam lemak rantai pendek yang kemudian diserap sebagai sumber energi bagi bekantan.
Karena proses fermentasi ini memakan waktu dan volume yang cukup besar harus diproses sekaligus, maka itulah perut bekantan tumbuh besar, bahkan seringkali proporsinya mencapai sekitar seperempat dari total berat badannya.
Inilah alasan mengapa bekantan sering terlihat seperti punya perut buncit atau seperti sedang hamil.
Sistem Pencernaan Bekantan Vs Primata Lain
Bekantan merupakan primata yang banyak ditemukan di kawasan Kalimantan. Penebangan hutan ilegal hingga karhutla mengancam kelestarian primata tersebut. Foto: Pradita Utama |
Berbeda dengan sebagian besar primata yang makan buah-buahan matang, serangga, atau makanan berkadar tinggi energi dan rendah serat, bekantan mengandalkan dedauan yang kaya serat sebagai makanan utama.
Oleh karena itu, mereka berevolusi memiliki sistem pencernaan bertingkat (multi-chambered foregut) seperti yang dimiliki oleh hewan pemakan daun lain seperti sapi atau kambing.
Dalam sistem ini, bagian perut bekantan memiliki banyak bagian terpisah yang membantu fermentasi. Bakteri di dalam perut kemudian membantu mengurai selulosa menjadi energi yang bisa diserap.
Proses ini lambat dan kompleks, membutuhkan ruang perut yang besar. Sistem seperti ini jarang ditemui pada primata, sehingga bekantan menonjol di antara monyet lain dunia sebagai salah satu primata yang paling berhasil menguasai sumber makanan yang sebagian besar tidak dapat dicerna oleh primata lain.
Perut Buncit Bekantan Mempengaruhi Perilakunya
1 ekor Bekantan lahir di Taman Margasatwa Ragunan. Foto: dok. Kebun Binatang Ragunan |
Perut besar bekantan tidak hanya memengaruhi bentuk fisik, tetapi juga perilakunya. Karena mencerna dedaunan memakan waktu, bekantan memiliki kebiasaan berikut:
1. Menghabiskan banyak waktu untuk beristirahat setelah makan
2. Memilih makanan yang mudah diakses di pepohonan hutan mangrove dan tepi sungai
3. Lebih sering berada di area hutan dekat air, karena kebutuhan untuk menenangkan tubuh dan menyeimbangkan metabolisme setelah fermentasi.
Adaptasi ini sangat cocok dengan habitat bekantan yang berupa hutan bakau, rawa, dan pesisir di mana dedaunan hijau keberadaannya melimpah sepanjang tahun.
Dua ekor bekantan (Nasalis larvatus) terlihat di kawasan balai konservasi mangrove dan bekantan, Tarakan, Kalimantan Utara, Senin (21/8/2023). Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya |
Jangan salah, perut buncit bekantan juga punya manfaat, lho. Sistem pencernaan bekantan tidak hanya berperan dalam kelangsungan hidup individunya, tetapi juga memberi dampak besar bagi keseimbangan ekosistem hutan tropis Kalimantan.
Dengan pola makan yang didominasi dedaunan, pucuk muda, serta buah-buahan yang belum matang, bekantan membantu mengontrol pertumbuhan vegetasi di hutan mangrove, rawa, dan kawasan riparian.
Selain itu, biji-biji dari tanaman yang mereka konsumsi akan tersebar melalui kotorannya ke berbagai lokasi, sehingga berperan dalam proses regenerasi alami hutan di sepanjang sungai maupun wilayah pesisir yang dilewatinya.
Peran ekologis inilah yang membuat bekantan memegang peran kunci dalam keseimbangan ekosistem hutan tropis Kalimantan.
Kehilangan bekantan dalam suatu kawasan dapat berdampak pada perubahan komposisi vegetasi dan berkurangnya proses regenerasi alami tanaman tertentu. Sayangnya, keberadaan bekantan saat ini berada dalam tekanan serius akibat menyusutnya habitat alami mereka.
Yuk kita jaga si perut buncit monyet Belanda ini agar keberadaannya tetap eksis di alam Kalimantan!





