Pemangku Adat Kahayan Hilir Pulpis Gelar Ritual Memanggil Hujan

Pemangku Adat Kahayan Hilir Pulpis Gelar Ritual Memanggil Hujan

Sigit Pamungkas - detikKalimantan
Selasa, 08 Sep 2026 21:07 WIB
Pemangku Adat Kahayan Hilir Gelar Pulpis Ritual Memanggil Hujan
Pemangku adat Kahayan Hilir menggelar ritual memanggil hujan/Foto: Istimewa
Pulang Pisau -

Masyarakat adat di Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau ikhtiar memohon hujan melalui kearifan lokal. Kadamangan Kahayan Hilir bersama Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KPSHK) menggelar ritual adat memanggil hujan di Kantor Kadamangan Kahayan Hilir, Selasa (8/9/2026).

Ritual tersebut dipimpin Mantir Adat Senior Desa Mintin, Dohong D. Rumbang. Di usianya yang telah mencapai 76 tahun, ia memimpin prosesi sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak.

Damang Kepala Adat Kecamatan Kahayan Hilir, Idon Y. Riwut, mengatakan ritual tersebut menjadi bentuk ikhtiar masyarakat menghadapi kemarau panjang sekaligus meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ritual ini dalam rangka kita memohon agar penguasa pemilik hujan dapat menurunkan hujan, sesuai dengan kearifan lokal yang ada," ujar Idon.

Menurutnya, upaya menghadapi karhutla tidak semata-mata menjadi tugas pemerintah. Masyarakat, termasuk pemangku adat, memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan mencegah bencana.

Ia menegaskan pemangku adat juga memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan sekaligus melestarikan adat dan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Idon turut mengingatkan karakteristik lahan gambut yang memiliki kondisi berbeda dengan lahan yang selama ini digunakan masyarakat untuk kegiatan perladangan tradisional.

"Kondisi lahan gambut dan lahan perladangan tradisional memiliki tanah yang berbeda," jelasnya.

Pelaksanaan ritual ini juga menjadi tindak lanjut Surat Imbauan Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Nomor 566/MADN/S-I/VIII/2026 mengenai penanggulangan bencana kekeringan, pencegahan karhutla, serta pelaksanaan ritual adat dan doa bersama di Tanah Kalimantan.

Sementara itu, Institution and Economic Manager Inisiatif Kahayan Hilir KPSHK, Rokhmond Onasis, mengatakan ritual adat merupakan bagian dari kekayaan kearifan lokal masyarakat Dayak yang perlu dipertahankan di tengah perkembangan zaman.

"Kegiatan ini juga bertujuan memperkuat ritual, budaya dan harmonisasi pencegahan karhutla yang melibatkan masyarakat adat setempat," katanya.

Menurut Onasis, masyarakat Dayak sejak dahulu memiliki hubungan yang erat dengan alam. Lingkungan bukan hanya dipandang sebagai ruang hidup, tetapi juga sesuatu yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya.

Karena itu, ritual adat menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat dalam menjaga hubungan harmonis dengan alam sekaligus memohon kondisi lingkungan yang lebih baik. Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilakukan agar nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat Dayak tetap hidup serta tidak tergerus perkembangan zaman.

Onasis menambahkan KPSHK turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, ritual Darung Bawang telah dilaksanakan selama tiga tahun dan menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan di wilayah Kahayan Hilir.

"Komitmen tersebut untuk terus menjaga kelestarian hutan serta lingkungan di wilayah setempat," pungkasnya.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads