Di saat kemarau melanda Kalimantan Tengah, tepian Sungai Lamandau di Desa Bunut, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, tetiba jadi tempat ratusan warga berkumpul.
Warga setempat nampak seperti sedang berburu ikan. Ada yang membawa perlengkapan sederhana, ada yang bersiap turun ke sungai, sementara lainnya berdiri di tepian menunggu tanda-tanda ikan mulai bergerak.
Aktivitas ini biasa dikenal dengan tradisi Menuba. Bukan hanya sekedar menangkap ikan, menuba punya makna lain.
"Menuba bukan sekadar kegiatan mencari ikan. Ini soal kebersamaan dan cara kami menjaga hubungan dengan alam yang diwariskan leluhur," ujar Effendi, salah seorang warga Desa Bunut, Minggu (6/9/2026).
Bagi masyarakat Desa Bunut, Sungai Lamandau memiliki tempat khusus dalam kehidupan mereka. Selain jadi habitat ikan, sungai ini juga menjadi bagian dari ruang hidup, tempat masyarakat berinteraksi, mencari penghidupan sekaligus menjaga hubungan dengan alam.
Karena itu, tradisi menuba memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar mendapatkan hasil tangkapan. Pelaksanaan menuba ketika musim kemarau dipercaya memiliki nilai spiritual.
"Bagi masyarakat Dayak pedalaman, tradisi tersebut juga menjadi bagian dari ikhtiar dan doa agar hujan segera turun," kata Effendi.
Ketika kemarau berlangsung panjang dan debit air mulai menjadi perhatian, keberadaan sungai semakin terasa penting. Air menjadi kebutuhan utama yang menentukan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Dalam kondisi seperti itu, menuba menjadi simbol hubungan manusia dengan alam. Masyarakat tidak hanya mengambil hasil dari sungai, tetapi juga mengingat kembali pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan yang menjadi sumber kehidupan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentang Tradisi Menuba
Saat kemarau, masyarakat Desa Bunut biasa menjalankan tradisi menuba, sebuah kearifan lokal masyarakat Dayak yang hingga kini masih dipertahankan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menuba dilakukan dengan cara mengolah bagian tumbuhan yang mengandung zat tuba. Kayu atau bagian tumbuhan tersebut terlebih dahulu dicacah, kemudian ditebarkan ke aliran sungai.
Zat alami dari tuba membuat ikan mengalami kondisi mabuk sementara. Ikan yang sebelumnya bersembunyi di dalam air kemudian perlahan muncul ke permukaan dan lebih mudah ditangkap warga.
Saat ikan mulai terlihat, warga akan saling memberi tahu, membantu menangkap ikan, hingga mengumpulkan hasil tangkapan. Tak ada sekat usia. Anak-anak, orang dewasa hingga warga lanjut usia ikut menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Menariknya, hasil tangkapan dari kegiatan tersebut tidak semata-mata menjadi milik orang yang berhasil menangkap ikan. Ikan yang terkumpul kemudian dibagi bersama untuk memenuhi kebutuhan warga.
"Di sinilah nilai gotong royong terasa begitu kuat. Masyarakat datang bukan hanya untuk membawa pulang ikan, tetapi juga untuk merawat kebersamaan," ungkap Effendi.
Mereka bekerja bersama, berbagi hasil dan menikmati sebuah tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan kampung.
Bagi generasi muda, kegiatan seperti ini juga menjadi ruang untuk mengenal kembali warisan leluhur mereka secara langsung.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap bertahan. Namun, masyarakat Desa Bunut menunjukkan bahwa modernisasi tidak serta-merta menghapus kebiasaan yang telah mengakar dalam kehidupan mereka.
"Lebih dari sekadar tradisi menangkap ikan, menuba menjadi cara masyarakat Desa Bunut mengingat asal-usul dan hubungan mereka dengan alam. Sungai Lamandau menjadi panggung tempat budaya itu terus dimainkan," pungkasnya.
Tradisi menuba di Desa Bunut menjadi salah satu bukti bahwa kearifan lokal masyarakat Dayak masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Selama sungai tetap mengalir dan masyarakat masih menjaga warisan leluhur, tradisi itu akan terus menjadi bagian dari identitas Desa Bunut.
Baca juga: Kearifan Lokal 'Bakar Lahan' di Kalimantan |
